Fiction
Gado-gado : Goreng Cumi

15 Dec 2018


ilustrasi: tania.
 
Aku terbilang newbie dalam urusan memasak. Menyesal dulu paling malas kalau disuruh bantuin Ibu masak saat remaja. Siapa sangka, setelah menikah, memasak menjadi core kompetensi dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Syukur banget suami enggak pernah nuntut supaya aku bisa masak masakan Eropa atau Timur Tengah yang susah-susah, yang penting masakan apa pun pasti dihabiskannya dengan lahap.
 
Sama sekali tidak komplain dengan rasa dan bentuk. Adalah cumi asin masakan kesukaannya. Aku tahu ini ketika ibu mertua menghidangkan cumi asin dan lalap saat kami bertamu. Suami makan sampai nambah 2 kali, padahal cuma cumi asin dan lotek, yaitu sayur lalapan yang dikukus dan diberi bumbu kacang.
 
Terinspirasi dari menu masakan mertua, maka aku berinisiatif untuk mencoba di rumah. Membeli cumi asin ternyata harganya lumayan mahal, sudah kayak daging sapi saja mahalnya. Pulang dari pasar, aku rendam cumi tersebut dengan tujuan biar bersih dan menghilangkan rasa asinnya yang kuat.  
 
Malam itu, aku menggoreng cumi, untuk pertama kalinya seumur hidup. Kumasukkan cumi ke wajan berisi minyak panas yang banyak. Aih siapa menyangka, ternyata cumi-cuminya loncat ke sana kemari keluar dari wajan dan mengeluarkan bunyi seperti petasan meledak-ledak….
 
Aku yang terkaget-kaget hanya bisa teriak, “Aawww… aaawww…!” dan bingo byurrr… cipratan minyak panas mengenai lengan dan jari. Teriakanku makin keras, membuat suami muncul di dapur. Tapi, reaksinya santai, “Hati-hati, Bun, goreng cumi mah emang begitu.”
 
Demi suami, tanganku pun berbekas luka karena semburan minyak. Sudah seperti tato. Lukanya cukup lama menghilang. Sejak kejadian itu, aku malas memasak cumi asin sebagai menu makan keluarga. Tidak ingin kejadian semburan minyak terulang lagi. Tapi justru suami selalu minta goreng cumi asin. Ia mengaku nafsu makannya bertambah. “Bun, beli cumi asin lagi, dong,” bujuk suami.
 
“Ogah, nanti ’tato’ Bunda nambah lagi,” protesku.
 
Pas lagi goreng, ditutup pake tutup panci aja, gimana?”
 
Kedua kalinya menggoreng cumi, aku melakukan apa yang disarankannya. Kugunakan tutup panci biar cuminya enggak bisa kabur lagi dari wajan. Ternyata memang betul, tidak ada cumi yang kabur loncat, semburan minyak pun hanya bunyi meletup-letup di dalam tutup pancinya. Maka, aku memutuskan membiarkan cuminya tersekap di dalam tutup panci.
 
Kutinggalkan sejenak untuk menemani anakku bermain. Hingga kelupaan bahwa aku sedang menggoreng cumi. Begitu kembali ke dapur, ternyata gagang tutuppanci yang terbuat dari plastik sudah meleleh. Ohno!
 
Kuambil tutup panic dengan bantuan garpu. Tarraaam…. Cuminya sudah berwarna cokelat tua. Gagal!
 
Selanjutnya, aku mempelajari kenapa cumi suka meledak-ledak saat digoreng. Sepertinya, karena kandungan airnya masih banyak. Jadi, kuubah cara membersihkannya. Kurendam dalam air panas, lalu ditiriskan dengan harapan kadar air berkurang banyak saat digoreng.
 
Gengsi bertanya kepada orang-orang, kucari sendiri bagaimana cara aman menggoreng cumi merepotkan ini. Berbagai eksperimen kucoba. Jadi, pas minyak sudah panas bergelembung, kumasukkan cumi-cuminya. Tidak kututup dengan tutup panci. Namun, aku yang berlari secepat mungkin menjauhi wajan, jika sudah ada bunyi pletokpletok! Aku kabur sambil berteriak, “Awwww!”
 
Kalau tak sempat lari, biasanya aku langsung merunduk menutup kuping. Meskipun membahayakan saat digoreng, cumi asin memang sedap…. Sampai saat ini, begitulah caraku menggoreng cumi asin. Walau masih ada saja cumi bandel yang ingin loncat indah dari penggorengan. Terpikir untuk memakai jas hujan dan helm, tapi, kok, seperti mau balapan, ya? Jujur, aku trauma dengan semburan minyak panas itu….(f)
 
***

Herva Yulyanti – Bandung
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado

 



Topic

#gadogado, #fiksi