
Foto: Shutterstock
Sebagai perempuan, aku harus bisa memasak. Ibu bilang, perempuan yang pintar masak disayang suami. Aku tahu Ibu tidak asal bicara. Buktinya, Ayah cinta setengah mati kepada Ibu, beserta masakannya. Ayah selalu makan dengan lahap makanan apa pun asal dibuat Ibu. Sekadar telur ceplok sekalipun. Tiap kali pulang kerja, yang pertama kali keluar dari mulut Ayah adalah, “Ibu masak apa hari ini?” Alhasil, Ayah selalu uring-uringan kalau Ibu pergi agak lama. Menurutku, itu romantis. Maka, aku pun bertekad belajar memasak. Biar suamiku nanti lengket.
Baiklah, mungkin hampir semua orang mulai belajar memasak dengan masak nasi goreng, selain telur ceplok. Aku pun begitu.
Bumbu nasi gorengku hanya bawang merah, bawang putih, dan cabai. Standar, sih, tapi aku ingin membuat nasi goreng sesuai seleraku. Selain itu, nasi goreng ini harus pedas. Aku pakai banyak cabai merah dan lada yang diulek pakai cobek. Rasa bumbunya harus kuat. Aku memakai sepuluh siung bawang merah dan lima siung bawang putih. Semua kuulek sendiri karena, kata Ibu, menghaluskan bumbu dengan cobek membuat masakan jadi lebih nikmat. Sebagai pelengkap, kuiris-iris 10 buah bakso tipis-tipis.
Oke, mari kita eksekusi. Tidak ada yang berbeda dengan cara Ibu memasak. Pertama, kubuat orak-arik telur dan bakso, lalu kutumis bumbu. Setelah itu, kumasukkan sepiring nasi, taburi garam sedikit dan kecap. Ya, semua bumbu itu cuma untuk seporsi nasi goreng. Saat kucicipi, hmm.... kok, rasanya enggak pas, terlalu asin! Kutambahkan kecap, eh, malah kemanisan. Jadi, kutambah lagi garam. Mau kucicipi lagi, tapi aku urungkan. Ah, selesaikan saja, daripada rasanya makin tidak keruan.
Nasi goreng bikinan sendiri sudah terhidang di piring. Saatnya makan. Hmm... tapi aku takut mencicipi makanan sendiri. Aku ini tipe orang yang mudah trauma. Kalau nasi goreng ini betulan tidak enak, risikonya aku bisa trauma makan nasi goreng untuk waktu lama. Mungkin kapok juga bikin nasi goreng. Bisa gagal ikut jejak Ibu yang pintar masak.
Dengan lagak sok baik, kupersilakan adik-adikku mencicipi. “Enak enggak?” tanyaku, ragu. Aku tersenyum semanis-manisnya.
Adik laki-lakiku mencoba pertama kali. Wajahnya berubah aneh pada suapan pertama Pada sendokan kedua, ekspresi wajahnya berubah ‘abstrak’. Sulit ditebak. “Kok, rasanya aneh, ya. Kemanisan, keasinan, tapi pedas panas gitu. Kayak enggak pakai bumbu, tapi rasanya enek kayak kebanyakan bumbu. Enggak jelas. Untung baksonya banyak.”
Sebuah review yang menohok! Dia lalu ngeloyor pergi.
Giliran adik kembarku yang masih TK mencoba. Eh, ternyata mereka lahap-lahap saja, walaupun terlihat kepedasan.
“Enak, Dek?” tanyaku, keheranan.
“Enak,” jawab mereka polos.
“Ya, udah, habisin aja,” kataku, memberi semangat.
Kutunggui mereka makan, daan.... baksonya ludes semua, tapi nasinya tersisa banyak. Ha…ha…ha… fixed masakanku enggak enak.
Tapi, aku bukan orang yang mudah menyerah. Untuk meningkatkan kemampuan, aku menonton banyak acara masak di TV. Lumayan memotivasi.
Tiba-tiba adik kembarku yang ikut menonton nyeletuk, “Adek mau masak! Nanti Mbak cobain, ya.” Aku termangu. Anak TK mau masak apa?
Sekian jam mereka grasak-grusuk di dapur ditemani adik laki-lakiku. Mereka kembali dengan piring berisi makanan yang rada enggak jelas bentuknya.
“Masak apa, sih, ini, Dek?” tanyaku, gelisah takut disuruh nyobain. Ha… ha… ha….
“Adek na masak telur pakai susu, pakai terigu, pakai gula sama garam, pakai mentega digoreng,” ujar si kembar, puas. Maksudnya sebenarnya bukan digoreng, tapi didadar lalu dilumuri selai cokelat dan remahan biskuit di atasnya.
“Mbak, cobain dan kasih nilai,” sahut si kembar penuh semangat.
Aku menelan ludah. Kegelisahanku memuncak. Aku tidak tega menolak permintaan mereka. Tapi, masakan ini… tak terbayang rasanya. Adik laki-lakiku menyeringai jail. Balas dendam dia. (f)
Penulis : Rati Pramita - Bogor
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau
pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
Baca Juga:
Gado-Gado: Baju Koko
Gado-Gado: Fenomenama
Gado-Gado: Salah Paham
Topic
#gadogado, #fiksi


