Fiction
Gado-gado: Bebek dan Telurnya

5 Jan 2019


ilustrasi: tania.

 
Aku buru-buru masuk ke dalam kelas saat kudengar suara anakku, Ibam, menangis. Bunda Erna, guru Ibam, mengusap-usap lembut rambut Ibam dengan tenang. Seolah mengerti ekspresiku yang penuh pertanyaan, Bunda Erna tersenyum sambil memberikan gambar karya Ibam. Gambar dua ekor bebek.
 
“Maaf, Bu, hari ini pelajaran menggambar. Saya menyuruh tiap siswa untuk menggambar,” jelas Bunda Erna.

“Tapi saya lihat, Ibam malah tidak mau menggambar. Ia hanya menatapi gambarnya minggu lalu, yang sudah saya beri nilai. Saat saya bilang, ‘Coba Ibam menggambarnya di lembar selanjutnya,’ Ibam malah menangis
tiba-tiba,” Bunda Erna menjelaskan apa yang terjadi.

“Aduh, mohon maklumi. Dari semalam Ibam memang uring-uringan. Saya sampai pusing dibuatnya!”
 
Aku mengusap air mata Ibam yang terus mengalir. Mencoba meredam tangisannya. Aku kembali melihat gambar Ibam, dua ekor bebek. Yang satu ekor warna bulunya biru langit, yang satu ekor lainnya merah muda.

Gambar itu, pewarnaannya khas bocah empat tahunan. Lalu aku memandang Ibam. Aduh… seharian aku dibuat pusing oleh tingkahnya. 

Pagi tadi, setelah berhasil membangunkannya dengan perjuangan, aku masih  harus membujuknya untuk segera keluar dari kamar mandi. Itu pun susahnya minta ampun. Semalam lebih parah. Sudah larut malam Ibam tidak mau tidur. Maunya dibacakan dongeng. Giliran aku membacakan  Dongeng Donald Bebek, dia malah berteriak gusar, “Ibam enggak suka Donald Bebek.
 
Donald Bebek enggak bisa bertelur!” Dan sekarang, di sekolah, Ibam malah menangis. Lengkaplah sudah!

Udah jangan nangis terus, malu sama temen-temen yang lain!” bujukku. 

“Habis, Bunda Erna menggangguku yang lagi menggambar!” rengek Ibam, dengan air mata mengucur.

“Bunda Erna enggak ganggu, NakCuma mengarahkan, supaya Ibam menggambarnya di lembar selanjutnya. Nih, di sini!” aku menunjukkan lembar kosong itu.

“Ibu enggak tau, sih. Ibam gambarnya di sini. Nih, gambar Ibam!”

Dia bersikeras dengan kertas bergambar dua ekor bebek itu.

“Tapi, ini kan gambar kemarin, Nak. Sudah dinilai sama Bunda Erna,” aku mencoba kembali menjelaskan.

Ibam mungkin belum begitu mengerti prosedur menggambar ini. Dan sebenarnya kami pun memakluminya. Tapi, detik selanjutnya Ibam kembali berkata, di tengah rengekannya. Serentetan kalimat yang membuatku seketika membuka mata lebar-lebar.

“Bu, lihat, nih!” Ibam kembali menunjukkan gambarnya. “Kemaren itu, Ibam cuma menggambar dua ekor bebek. Sekarang gantian, Ibam menggambar dua buah telur di bawah bebeknya. Karena sekarang bebeknya
sudah bertelur!”
 
Aku menatap gambar Ibam saksama. Begitu pula Bunda Erna. Sesaat aku dan Bunda Erna saling tatap. Ya, benar. Ada gambar dua butir telur di bawah dua ekor bebek tersebut!

Kemudian kami berdua tertawa  bersamaan. Perlahan senyumku mengembang. Seharian aku dibuat jengkel oleh tingkah Ibam. Tapi, rasa kesal itu seketika lenyap, begitu pula pusingku. Ibam cerdas! Aku bangga dengan pemikiran soal ‘bebek dan telur’ versi Ibam.
 
***
 
Singgih Prayogi Hidayat - Lampung
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Topic

#fiksi, #gadogado

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.