Fiction
gado-gado : ART

24 Nov 2018


Dok. Freepic

Saat awal menetap di Kuwait, saya dan keluarga tinggal di sebuah apartemen tiga lantai. Kami menempati kamar di lantai pertama. Tepat di atasnya adalah kamar yang ditempati oleh keluarga Kuwait, yang kebetulan  mempunyai asisten rumah tangga (ART), berasal dari Indonesia. Saya sering berpapasan dengan mbak asisten ini, bahkan beberapa kali satu lift.
 
Namun, saya tidak berani menegurnya. Menurutnya, banyak majikan yang tidak terlalu senang bila mendapati asisten rumah tangganya terlihat mengobrol (apalagi sampai akrab) dengan orang senegaranya. Saat itu kami baru beberapa bulan tinggal di Kuwait, sedang beradaptasi. Jadi, kata suami, lebih baik berhati-hati. Okelah!
 
Maka, saya pun hanya melempar senyum kepada si mbak asisten, bila kami bertemu di jalan atau di lift. Namun, alangkah nelangsanya saya ketika senyuman itu teryata tidak direspons. Mbak asisten itu hanya melihat saya dengan pandangan datar. Hmmm….
 
Saya pun beranggapan mungkin si mbak itu dilarang majikannya berakrab ria dengan penghuni lain. Sama seperti nasihat suami saya. Anggapan itu berbuah prasangka buruk ketika malam-malam saya dan suami beberapa kali mendengar keributan dari lantai atas. Suara pintu yang dibanting, benda yang diseret, hingga suara tangisan. OMG!

Kami menduga ada kekerasan yang terjadi di lantai atas. Apalagi saat itu sedang marak kasus ART yang disiksa oleh majikannya. Mungkinkah mbak asisten di lantai atas itu juga mengalami hal yang sama?
 
Sampai suatu malam, pintu apartemen kami diketuk tamu yang tak di duga. Bapak Kuwait (sebutlah begitu) dan si mbak asisten dari lantai atas! Wah... ada apa, ya? Ternyata betul, si mbak asisten berasal dari Indonesia. Bapak ini mengetahui kami berasal dari Indonesia dengan sengaja menemui kami.

Ia menanyakan sejumlah nomor yang diberikan asistennya. Betulkah itu nomor rekening bank? Rupanya, ia mau mentransfer gaji asistennya. Namun, tak yakin dengan nomor dan nama bank yang diberikan asistennya.
 
Menilik nama bank pemerintah yang tertera di secarik kertas itu, suami saya mengatakan nama banknya betul. Nomornya sepertinya betul juga. Untuk memastikan, suami saya pun bertanya kepada si mbak asisten. Tentunya dengan bahasa Indonesia.

Mbak asisten diam saja. Bapak Kuwaitipun mengatakan bahwa asistennya ini tidak bisa bahasa Inggris atau bahasa Arab. Mungkin bahasa Indonesia pun tidak bisa, begitu katanya. Wah! Tiba-tiba saja suami mempunyai ide yang sangat brilian. Ia bertanya dengan bahasa Sunda! “Leres ieu nomor rekening bank Teteh?” tanya suami saya.
 
Raut wajah mbak asisten yang datar berubah kaget. “Sumuhun leres,” jawabnya lirih.

Ya, ampun, ternyata ia orang Sunda, tepatnya dari Indramayu. Suami pun menjelaskan kepada bapak Kuwait yang tampak tertarik dengan percakapan kami. Bahwa betul itu nomor rekening bank dan bahwa si mbak berasal dari daerah yang sama dengan kami.
 
Setelah kepergian mereka, saya dan suami berbincang tentang mbak asisten ini. Bagaimana mungkin dia tidak bisa bahasa Indonesia, bisa lolos seleksi kerja ke luar negeri. Hebatnya lagi, keluarga Kuwait ini mau menerimanya. Bila tidak bisa bahasa Inggris atau Arab masih bisa dimaklumi. Betapa nekatnya si mbak asisten ini, ‘kan. Padahal, bahasa Inggris sangat penting sebagai ‘modal’ hidup sehari-hari, apalagi di negeri orang.

Mungkin impitan ekonomi yang membuatnya seberani itu. Kami pun merasa bersalah telah berprasangka buruk pada keluarga Kuwait itu. Suara-suara pertengkaran yang kami dengar mungkin pertengkaran biasa suami istri, bukan tindak kekerasan pada si ART.
 
Kami melihat ketulusan si bapak yang mau bersusah payah membantu mengirimkan gaji asisten rumah tangganya kepada keluarganya di Indonesia. Malam yang lain, bapak Kuwait kembali mengetuk pintu kami. Kali ini dia membawa buku catatan milik mbak asisten. Ia bertanya catatan apakah itu. Ia takut itu jampi-jampi sihir.
 
Setelah membacanya,  suami pun menjelaskan bahwa itu hanya doa-doa biasa dalam bahasa Sunda. Bapak Kuwait pun lega. Kami mendengar dari beberapa obrolan, ada ART Indonesia di sini yang menggunakan sihir. Padahal, hukumannya tidak main-main, hukuman mati. Tapi, masih saja ada yang mencoba-coba melakukannya. Biasanya, memasukkan ramuan khusus (sihir) ke dalam makanan atau minuman majikan. Lalu terekam CCTV. Entah benar entah tidak. (f)

Keterangan:
Leres ieu nomor rekening bank Teteh = Betul ini nomor
rekening bank Kakak?
Sumuhun leres = Iya betul
 
 
 
***
Irra Fachriyanthi - Depok, Jawa Barat
   
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: konta k@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Topic

#fiksi, #gadogado

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.