Fiction
Gado-gado : Anak

23 Mar 2019


ilustrasi: 123rf

Takdir membawa saya berjodoh dengan orang Solo, punya 3 anak dan tinggal di Solo. Pendapat
menikah adalah bertemu dengan segudang persoalan ternyata benar adanya. Banyak persoalan tapi, persoalan itu banyak juga lucunya.
 
Masalah apa yang paling banyak? Anak! Kalau sudah ngomongin masalah anak, seminggu enggak sisiran enggak bakalan sadar, deh. Saya dikaruniai 3 anak perempuan yang superaktif dan pintar. Buktinya? Pintu kamar sampai jebol ditendang si sulung yang berusia 8 tahun gara-gara dikurung adik-adiknya di kamar. Hmmm… mentang-mentang ikut bela diri tapak suci, jadi berasa manusia super, deh, si kakak.
 
Yang nomor 2? Aduuh… saya sering dibuat mati gaya. Anak ini kelewat jujur, sih. Nah, gara-gara anak nomor 2 yang kelewat jujur ini, saya pernah dibuat malu luar biasa. Ceritanya, sehabis mengajak anak-anak beli buku di Gramedia, mereka minta dibelikan es krim. Boleh, deh, toh, saya juga pengin makan es krim karena udara hari itu panas sekali.
 
Tapi, saya sudah kasih tahu anak-anak bahwa hanya boleh es krim saja. Enggak boleh minta beli makanan yang lain. Anak-anak pun mengangguk. Sedang asyik-asyiknya menikmati es krim, datang seorang ibu dan anaknya menenteng teh hangat dan wafer cokelat.
 
Deg! Wafer cokelat? Itu kesukaan anak-anak saya banget! Hati saya mulai waswas. Benar saja, anak saya yang semula adem ayem menikmati es krim, mulai lirik sana-sini.
 
Terutama melirik wafer cokelat punya ibu tadi. Duduknya pun jadi gelisah.
 
Sambil terus menghabiskan es krim, saya pura-pura menyibukkan diri dengan membaca buku yang tadi saya beli. Tentunya sambil sesekali mengintip, jangan sampai, deh, anak-anak jadi minta makanan ‘tetangga’.
 
Tiba-tiba ibu itu berkata, “Adek mau wafer? Nih, ambil,” kata ibu itu, sambil menyobek bungkusan wafer cokelat dan memberikannya kepada anak saya nomor dua, Amira.
 
Anak saya langsung melirik saya, saya lantas memberi kode menggeleng, lalu pura-pura sibuk membolak-balik buku.
 
Enggak usah, Bu. Amira enggak boleh ambil wafernya,” jawab anak saya, polos.
 
Saya senyum-senyum sendiri. alhamdulillah, anak saya akhirnya mengerti bahwa meminta atau menerima makanan dari orang lain itu enggak boleh.
 
Lho, kenapa? Enggak apa-apa, Dek. Nih, ambil saja,” si ibu kembali memaksa. Iiih… nih ibu maksa banget, sih?
 
Enggak mau, Bu. Nanti Mama marah. Kata Mama enggak boleh. Mama sudah geleng-geleng kepala. Itu tandanya Amira enggak boleh ambil,” celotehnya, ceriwis.
 
Loh, kok, Amira jadi curhat. Ibu itu menoleh ke arah saya. Saya pun meninggikan majalah yang saya baca biar muka tertutup.
 
“Emang mamanya Adek kalau marah gimana?” tanya si ibu sambil berbisik.
 
Wah, gawat! Bisa berabe, nih, kalo Amira jujur.
 
Lalu saya bergegas merapikan buku dan majalah. Berlagak sedang terburu-buru, saya memanggil anak-anak sambil tersenyum.
 
“Mamanya Amira itu kalau marah ngeriii banget, deh. Amira aja sampai takut. Tuh,kalau Mama  sudah mau buru-buru pergi, artinya Mama mau marahin Amira. Amira pergi dulu, ya, Bu.”
 
Amira meloncat dari kursi, bergegas menyusul saya. Dengan sudut mata saya melirik si ibu tadi. Ekspresinya sulit diterjemahkan. Diam, dengan mulut sedikit terbuka dan mata penuh tanda tanya. Hahaha….
 
Lain anak yang pertama dan kedua, lain pula dengan si bungsu. Khayla pernah saya ikut sertakan lomba dancing. Meski usianya masih balita, anak yang satu ini suka sekali naik panggung. Jadi, untuk menyalurkan bakatnya, saya pun mendaftarkannya ikut lomba.
 
Tiba giliran Khayla untuk tampil. Ketika namanya dipanggil, Khayla dengan manisnya naik ke panggung. Saya pun bangga. Eh... tapi, lho, kok? Bukannya berdiri di tengah panggung, Khayla bablas menuju MC. Merengek-rengek mau pegang mic. Sontak MC-nya bingung. Para penonton
langsung riuh tertawa, sementara saya langsung ngumpet di belakang punggung suami. Ngapain Khayla….
 
MC itu dengan kalemnya mengalah pada kemauan Khayla dan membiarkan mic-nya disabotase. Lalu kata MC itu, “Bunda… ini anaknya salah ikut lomba kali, ya. Harusnya ikut lomba MC,” sambil menjawil pipi Khayla. Hahaha….
 
Akhirnya suami naik ke panggung menggendong Khayla turun. Untung banget enggak ada acara teriak-teriak pake bergulung-gulung di lantai ketika mic-nya dikembalikan ke MC.
 
***
Yang ND - Sukoharjo, Jawa Tengah
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak.femina@pranagroup.id atau pos Femina (Prana Group) Jl. Mampang Prapatan Raya No. 75, Lt 7. Mampang Prapatan Jakarta 12790, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
 
 


Topic

#gadogado, #fiksi

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.