Fiction
Cerpen: Hikikomori

1 Dec 2017



 
Begitu suasana hatinya memburuk, Astrid mengurung diri dalam kamar, tak tanggung-tanggung, kalau remaja putri lain mungkin sehari dua hari paling lama seminggu sudah baikan, Astrid bisa sampai enam bulan tak keluar rumah laiknya hikikomori.

Di Jepang, satu di antara 20 anggota keluarga lahir dari orang tua berpendidikan perguruan tinggi pernah mengalami hikikomori.

Serupa penderita bipolar, emosi Astrid naik turun. Ia jadi tak bertenaga, malas terhadap semua hal, tak mandi, dan hilang nafsu makan. Tempat yang paling ia sukai adalah bak mandi. Ia bisa berendam dari pagi hingga malam sambil melamun, melantunkan lagu sedih, sedikit-sedikit menangis, dan merasa hampa dan putus asa.

Dua belas jam berendam membuat kulitnya keriput mirip kulit jeruk.

Tapi pada saatnya, tanpa sepenuhnya ia sadari bagaimana, perasaan murungnya perlahan berhenti, menjadi biasa dan normal, lalu berganti dipenuhi perasaan senang. Ia jadi suka menyanyi, lagu apa saja, dari pop hingga dangdut. Ia menyetel radionya keras-keras dan seketika bergoyang jika lagu dangdut yang ia sukai diputar macam Oplosan, Buka Sithik Joss,  Belah Duren, dan Sambalado. Walau lagu lawas, favoritnya adalah Sekuntum Mawar Merah, ia akan naik di atas meja beranda, berjoget ria, dan menyanyi keras-keras. Begitu sukanya dengan lagu ini, ia pun menanam bunga mawar merah di halaman rumah.

Saat senang ia juga suka kebersihan. Lantai rumah berkali-kali ia pel. Keramiknya begitu mengilap. Jika ada kotoran sedikit saja ia jadi jijik, dan merasa di situ pasti ada kuman, ada bakteri yang bisa terhirup napasnya dan membuatnya jatuh sakit. Astrid selalu memakai masker di dalam rumah. Ia berulang-ulang mencuci tangannya, cemas jika kuman menempel di kulitnya. Jika ia bisa mengendalikan cemasnya maka fase senangnya terus berjalan, sembari bersih-bersih ia menyanyi-nyanyi dengan suara keras.

“Bersih-bersih ya Neng?” sapa seorang tetangga.

 “Iya kali!” jawab Astrid setengah hati.

Ia tahu tetangganya itu datang sebenarnya mau minta bunga buat anaknya. Astrid kembali mengepel lantai. Bila diperhatikan, sesungguhnya lantai itu sudah bersih namun di mata Astrid terlihat selalu kotor. Apalagi sesudah angin berembus, rasanya angin dari luar selalu membawa udara kotor di dalamnya. Debu-debu berterbangan, dan dalam debu ada jutaan kuman yang siap menyerang. Astrid merasa mereka seperti monster yang siap menerkamnya kapan saja.

“Terima kasih ya...”

Astrid hanya diam saja. Kedua tangannya terus mengepel lantai. Si tetangga berlalu dengan senyum kecut.
 
“Sinting, kalau tak demi anakku yang merengek dan menangis tak sudi aku memintanya. Mukanya jutek, besok aku akan menanam bunga mawar sendiri!” gerutu tetangga itu.
 


Topic

#fiksifemina, #cerpen

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.