Fiction
Cerpen: Setabah dan Seharum Kenanga

7 Oct 2017


Nurmala dituduh telah berzina, orang-orang menghujatinya sebagai wanita rendah, pelacur hina yang telah mencoreng kesucian kampung mereka. Sejumlah wanita jadi begitu curiga pada suami masing-masing; jangan-jangan suaminya yang telah bersetubuh dengan gadis itu. Rasa benci pada Nurmala pun kian bertambah-tambah. Namun,  Nurmala diam saja ditimpa cobaan yang begitu berat. Ketika tak sanggup menahan sesak, dia mendekapkan tangan ke dada seraya berujar, “Hidup ini memang aneh....”

“Seharusnya dulu kau tak menolak terlalu banyak lelaki yang meminangmu sehingga kau tak sampai begini rusak,” ucap ayahnya setengah putus asa.

“Ayah dan Ibulah yang mendidikku hidup sederhana, agar tidak memandang dunia secara berlebihan. Ayah selalu mengingatkanku, ‘Sebagai keluarga petani, kita juga harus menjaga harga diri, jangan sampai dilecehkan, apalagi diinjak-injak orang. Pilihlah suami yang betul-betul mencintaimu, yang tidak sekadar nafsu, apalagi hanya tertarik pada raut paras yang elok,’” kata Nurmala, menanggapi.

“Mala,” kata ayahnya, “tidak semua lelaki itu sempurna, seperti harapanmu.”

“Ayah,” Nurmala melirik ayahnya, “aku tidak menyesal jadi begini. Aku tidak pernah menyesal menolak pinangan mereka. Aku tahu, tidak seorang pun di antara mereka yang benar-benar tulus mencintaiku. Semua pura-pura, cuma nafsu....”

“Lalu, bagaimana dengan kandunganmu, Nak?” tanya ibunya.

“Dia manusia, telah  bernyawa, dan dia darah dagingku sendiri, Bu. Aku tetap tidak ingin membunuhnya. Memang dia tak akan mengenal siapa ayahnya, tapi dia akan tahu kalau aku ini ibunya.”

Karena kebencian terus menyeruak, akhirnya dengan keteguhan hati, tanpa pernah menaruh benci dan dendam pada siapa pun, Nurmala pergi meninggalkan kampung halamannya. Di bilik sebuah rumah tua di pinggir Kota Lamlhok, melalui bantuan seorang bidan, dia melahirkan seorang bayi laki-laki sehat tanpa cacat. Nurmala tersenyum bahagia begitu melihat bayi merah yang sedang meronta-ronta pelan dan menjerit-jerit keras itu.

Sekarang dia jadi ibu, sekalipun tanpa suami. Jadi ibu yang baik, walaupun wajahnya tak lagi cantik. Dia berusaha menabahkan hatinya, setabah kenanga yang selalu anggun menunduk, tak mudah goyah oleh empasan angin, tak tercabik oleh terjangan badai, dan tak mudah layu meskipun terlepas dari tangkai, sementara harumnya menebar ke mana-mana.

Nurmala tersenyum-senyum sendiri; senyuman seorang ibu yang sulit dimengerti, seraya membayangkan sebuah kehidupan baru yang jauh berbeda daripada yang telah dia lalui. (f)
 
***
 
Arafat Nur
 
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/



Topic

#cerpen, #fiksifemina

 

MORE ARTICLE
polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.