Fiction
Cerpen: Setabah dan Seharum Kenanga

7 Oct 2017



SUDAH dua puluh enam lelaki datang melamarnya: tujuh pemuda tampan, tujuh pedagang ganja, lima pemuda kaya, empat lelaki beristri setengah baya, seorang duda beranak tiga, seorang pemuda pengangguran keras kepala, dan seorang pedagang kaya beristri dua, semua ditolaknya. Kepada sejumlah lelaki yang berhasil mencegatnya di jalan, yang sengaja menunggunya seolah suatu kebetulan belaka, dengan lembut Nurmala mengatakan bahwa sampai sekarang dia belum berkeinginan untuk berkeluarga.

Nurmala tumbuh sebagai kenanga yang ranum dan harum, berkulit kuning langsat (sedikit gelap memang karena sering terbakar matahari), berambut lurus panjang (yang senantiasa tertutup kerudung sekadarnya bila sedang berada di luar rumah, sebagaimana gadis di kampung umumnya), berwajah lonjong dengan tonjolan lembut di dagunya. Bentuk wajahnya amat selaras, luhur, dan begitu sepadan dengan tubuhnya yang tinggi semampai.

Bila Nurmala berada di antara gadis-gadis dan wanita dalam sebuah kerumunan, dialah yang tampak paling menonjol, seburuk dan selusuh apa pun pakaian yang dikenakan. Tidak saja laki-laki, sesama wanita sekalipun banyak yang tidak bisa mengalihkan perhatian darinya, dan kebanyakan dari mereka memandangnya rendah dengan roman tak suka secara berlebihan.

Siapa pun lelaki yang memandangnya akan segera bergetar. Tidak saja remaja tanggung, pemuda berumur, bahkan lelaki tua beristri sekalipun begitu berdebar-debar jantungnya. Pesona yang dipancarkannya begitu luar biasa, sampai termasyhur ke kampung-kampung tetangga, dan  makin banyak saja orang yang datang entah dari mana-mana, melintasi jalan depan rumahnya, berpura-pura membeli sesuatu di kedai kecil yang tidak jauh dari rumah Nurmala.

Begitu jalan setapak di samping rumah yang menuju ke sawah, tanpa disadari Nurmala, banyak lelaki yang hilir-mudik. Badan jalan yang sempit itu menjadi padat dan licin karena terlalu sering terinjak tua muda yang berpura-pura memeriksa tanaman, sekalipun sawahnya tidak terletak di sekitar situ. Rumput-rumput yang tumbuh di sana tidak sempat bangun, terus-menerus merana terinjak-injak tapak kaki para lelaki yang hatinya sedang kasmaran. Bahkan, lelaki uzur sekalipun, bila melihat wajah Nurmala, lupa bahwa dirinya sudah tua.

Selain mengurusi rumah dan mencuci pakaian, Nurmala kerap pula membantu orang tuanya turun ke sawah, mulai dari awal musim tanam, saat menyiangi, sampai tibanya musim panen. Dia seperti lupa bahwa dirinya begitu jelita dan punya daya tarik luar biasa. Dia tidak pernah menyadari banyak lelaki berkeliaran di dekatnya, melintasi pematang saat dia sedang di sawah, seolah-olah itu hanyalah kejadian alami karena musim tanam yang serentak.

Cemberutnya saja begitu indah. Senyumnya yang menggetarkan dada itu telah membuat banyak lelaki tidak bisa tidur, terus dirundung gelisah, dimabuk-kepayang siang dan malam. Pemuda-pemuda yang kehilangan kata-kata untuk melukiskan bagaimana kecantikannya, menjelaskan dengan cara yang aneh, “Saat mengejan hajat pun, seringainya begitu cantik!”

“Aku ingin sekali melamarnya!”

“Jangan harap. Memang apa yang kau punya? Tampangmu saja pas-pasan, pengangguran lagi!”

Usia Nurmala kini sudah dua puluh tahun. Selazimnya gadis seumur dia di Mulieng sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya tiga anak. Bila seusia itu belum juga bersuami, orang tuanya mulai gelisah, takut anak perempuannya menjadi perawan tua yang tidak laku lagi. Secantik apa pun dia, bila sampai tua tidak punya lelaki, hal itu menjadi aib keluarga yang dengan sendirinya berpengaruh pada nama baik kampung. Namun, Nurmala tetap tidak peduli, seperti tidak terlalu penting perkawinan itu baginya.

Hampir tiap pagi dia turun membawa sekeranjang pakaian kotor, mencucinya bersama wanita-wanita lain di sungai. Sebagian besar gadis-gadis tidak terlalu peduli, bahkan wanita-wanita yang telah bersuami pun menaruh cemburu dan iri padanya. Hampir semua suami mereka suka meliriknya dengan tatapan nafsu. Itulah sebabnya, Nurmala tidak begitu diterima dalam pergaulan, dan kehadirannya selalu mengundang cemoohan dan gunjingan. Namun, Nurmala tidak pernah ambil hati terhadap sikap dan perilaku buruk orang-orang terhadapnya.

“Hidup ini aneh,” begitu gumamnya melapangkan dada.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina