Fiction
Cerpen: Menjemput Suami

13 May 2017


 
“Aku belum selesai rapat.”
            Energinya yang tinggal separuh merosot drastis. Padahal, Nina sudah sengaja datang terlambat setengah jam dari yang dijanjikan.
            “Kamu tunggu di ruanganku aja,” pinta Boni, suaminya, yang menyambut Nina di lobi. Raut wajahnya menyiratkan ketidaksukaan mendengar pernyataan Boni, tapi seperti biasa, dia tak kuasa membantah. Boni membimbing Nina meninggalkan lobi, menuju lift eksekutif khusus para direksi.
Tiba di lantai 23, pintu lift terbuka. Ruangan besar yang hening dan dingin menyambutnya. Boni mengajak Nina membelah deretan cubicle bersekat putih di kiri dan kanan yang menurutnya sangat kaku dan membosankan. Hampir semua meja  itu sudah ditinggal pulang pemiliknya. Tersisa hanya dua atau tiga kepala yang masih terlihat menyembul di ujung sekat.
Lalu tepat di tengah ruangan, Boni berbelok ke arah sisi kanan menuju sebuah ruangan lain berpintu warna maroon yang tertutup. Sangat kontras di antara dominasi warna putih dan krem. Nina bisa meyakinkan dirinya, itulah ruangan suaminya. Boni sangat menyukai warna   maroon. “Terkesan elegan dan berwibawa,” katanya.
Benar saja, Boni membuka pintu itu seraya mempersilakan Nina untuk masuk. Sebelum tiba di dalam, tak sengaja matanya melirik ke salah satu meja yang komputernya masih menyala. Sesosok pemuda yang duduk di sana segera menoleh begitu mendengar suara ketukan langkah Nina. Perawakannya tegap. Sepintas seperti berasal dari Indonesia Timur. Senyumnya mengetuk dada Nina tanpa permisi. Nina pun tak kuasa untuk segera membalas dengan senyuman pula, walau hanya sedetik karena dirinya sudah telanjur menerobos ruangan Boni. Hati kecilnya ingin sekali berhenti agar tak sekadar membalas senyuman, tapi tentu itu tak mungkin.
“Santai saja dulu di sini. Enggak sampai setengah jam aku sudah selesai rapat.”   
Sebagai direktur keuangan perusahaan agro, ruangan Boni cukup besar dan cozy. Beda dengan ruangan di kantornya. Hanya kamar berukuran tiga kali tiga meter di sebuah ruko tiga lantai, meski posisinya sama-sama direktur.
 
 
SEJAK SUAMINYA naik jabatan dua tahun lalu, baru sekali ini ia menginjakkan kaki di ruang kerja Boni. Benar-benar sangat kental dengan karakter suaminya. Elegan, berwibawa, dan ambisius. Suasana kantor yang didominasi warna maroon berpadu dengan mebel ukir Jepara. Selain meja kerja, ada satu sofa kulit untuk dua orang dan dua kursi untuk satu orang berikut meja. Semuanya bersanding serasi dengan bufet dan kulkas serta televisi besar yang menempel di dinding. Tak cukup dengan itu, ruang ini juga memiliki kamar mandi berukuran kecil, tapi berkesan mewah.
Perhatian Nina teralihkan kumpulan foto yang diatur rapi di salah satu dindingnya. Semua menampilkan pose Boni bersama orang-orang penting, dari pengusaha hingga presiden. Rasa kecewa sekejap membelenggu batin Nina, kala  tak menemukan dirinya di sana. Ia melangkah ke arah bufet yang juga memajang foto Boni dengan ukuran lebih kecil. Jumlahnya lebih banyak dibanding yang terpasang di dinding, tapi tetap tersusun rapi. Bibirnya manyun melihat satu fotonya terselip di barisan belakang, dibungkus bingkai berwarna hitam. Diraihnya foto itu, lalu ia memerhatikan foto dirinya yang tengah memeluk punggung Boni di tengah permainan ski di Pegunungan Alpen. Wajah Nina tampak lebih muda karena memang itu foto tiga tahun lalu, saat merayakan tujuh tahun pernikahan mereka.
Nina mengembalikan foto itu ke tempatnya lalu bergerak ke arah jendela usai dikagetkan suara gemuruh di luar sana. Langit kota sedang menumpahkan air penuh amarah, tanpa peduli di bawahnya orang-orang masih berjibaku melepaskan diri dari kemacetan. Saling terburu tiba di rumah.
Wajahnya dirayapi kegelisahan. Ia menjatuhkan dirinya ke sofa. Mencoba menyalakan televisi dan mencari saluran yang bisa membuatnya sedikit terhibur. Setelah beberapa menit, ia memilih mematikan televisi kemudian memejamkan mata. Dadanya yang berdebar membuat ia tak bisa menikmati tontonan apa pun. Di luar hujan tambah galak.
 
 “MA, PELAT MOBIL baruku batal datang hari ini. Jadi nanti sore kamu jemput aku, ya.”
Duh, nanti sore aku udah kadung janji ketemuan sama temen-temen SMA, Pa.”
Reschedule ajalah.”
Percakapan dengan Boni tadi siang bermunculan di matanya yang terpejam. Hatinya  makin gundah. Ia bangun lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Dua ratus enam puluh tiga notifikasi yang berasal dari grup WhatsApp sahabat SMA-nya cukup membuat matanya terbelalak. Padahal, anggota grupnya pun hanya berjumlah empat orang, tapi seperti diisi puluhan anggota.
Mereka adalah sahabat-sahabat dekat yang pernah begitu tersohor waktu masih berseragam abu-abu. Heni, Siska dan Dorothy serta dirinya adalah sekelompok perempuan yang dikenal berani dan vokal. Aktif di kepengurusan OSIS, serta berotak encer. Orang-orang inilah yang membuat masa-masa sekolah Nina menjadi masa paling indah seumur hidupnya.
Setelah lima belas tahun putus kontak, mereka dipertemukan lagi berkat jasa Mark Zuckerberg yang menciptakan Facebook. Serta-merta mereka umbar segala macam rindu dan romantisisme masa lalu dalam bentuk makan malam bareng, belanja bareng, liburan bareng, juga rumpi bareng tanpa henti di dunia maya. Hingga pada satu titik, Nina mulai menyadari sahabat-sahabatnya bukan seperti yang dulu lagi. Mereka telah memiliki dunianya sendiri-sendiri. Bahkan, ia sempat tak sengaja berseloroh di grup itu.
“Perasaan, sahabat-sahabat gue itu yang pake seragam putih abu-abu. Kenapa grup gue sekarang isinya emak-emak?” Lalu ia tambahkan emoticon ekspresi tertawa untuk menghindari polemik.
Dalam kesendiriannya di ruangan Boni, ia habiskan waktu dengan menghapus isi obrolan sahabat-sahabatnya yang tak henti mengolok-olok pembatalan janji pertemuan malam ini oleh dirinya. Tak satu kata pun ia tulis untuk membalas mereka. Kemudian ia masukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Melirik jam, mengacak-acak rambutnya dan diakhiri dengan mengentakkan kaki ke lantai yang diselimuti karpet tebal.
 
SUDAH SATU JAM lebih sepuluh menit menunggu, belum ada tanda-tanda suaminya selesai rapat. Ia keluarkan lagi ponsel dari tasnya, lalu mengirim pesan. “Masih lama, ya?” Ia tatap sebentar layar ponsel untuk menunggu balasan, namun suaminya malah muncul di ruangan.
“Sabar sedikit kenapa, sih. Ini presdir masih marah-marah. Paling setengah jam lagi.”
Tanpa peduli wajah Nina yang memucat, Boni sudah bergegas kembali ke luar ruangan. Nina terenyak sambil memegangi perutnya. Udara dingin yang diembuskan langit menyebabkan hawa dari pendingin udara  makin menggigit.
Sebuah rasa penyesalan menyelinap ke dalam dirinya. Kalau tahu akan begini, ia terima tawaran gado-gado dari sekretarisnya tadi siang. Hari ini perutnya baru diisi campuran pepaya, melon, dan mangga sebagai menu sarapan rutinnya. Tumpukan pekerjaan sering kali telanjur mengenyangkan.
Upaya untuk menggunakan jasa delivery makanan tak berhasil karena alasan yang sama dari semua operator. Terjebak banjir. Nina membuka kulkas. Hanya ada air mineral dan beberapa botol jus dingin. Perutnya  makin melilit membayangkan cairan dingin jus itu kalau masuk ke saluran pencernaannya.
Saat meringis itulah pintu ruangan diketuk. Nina menoleh. Pemuda dari Indonesia Timur yang tadi tersenyum padanya, meminta izin masuk sambil membawakan satu cangkir teh manis hangat. Pasti disuruh oleh Boni. Tak mungkin OB memakai dasi.
“Ibu kurang sehat? Saya buatkan mi instan, ya.”
Eng…,” Nina tak sempat mengelak ketika tertangkap basah sedang mengais-ngais isi kulkas. Ia juga pasrah saja ketika perutnya lebih dulu menjawab boleh dibanding gengsinya. Nina tersipu melihat sosok pemuda itu keluar ruangan. Ia taksir, usia pemuda itu di bawah tiga puluh tahun. Dari cara menatapnya, terlihat dia orang yang cerdas. Juga memiliki selera bagus dalam berpakaian. Namun, yang membuat Nina tersanjung, pemuda itu cepat mengerti apa yang dibutuhkan Nina saat ini. Juga suaranya. Serta wangi parfum di tubuhnya. Untuk sejenak ia lupa akan penderitaannya.
Lima menit kemudian pemuda itu kembali masuk disertai aroma mi instan yang  makin membuat naga di perutnya berontak.
“Terima kasih, ya, Mas siapa namanya?”
“Willy, Bu.”
“Suaramu mirip Bebi Romeo. Suka nyanyi, ya?” Nina merutuki kelancangan mulutnya yang tak bisa menahan diri untuk memuji suara merdu pemuda itu.
 “Ah, Ibu bisa saja. Saya hanya penyanyi kelas kafe yang melayani permintaan lagu,” jawabnya malu.
“Oh, ya, di kafe mana?”
“Kafe Amor.”
“Oh, gitu,” jawab Nina datar, seraya membiarkan pemuda bernama Willy itu pamit keluar ruangan, meski imajinasinya meliar, membayangkan Willy menyanyikan lagu-lagu milik penyanyi idolanya itu. Ia selalu lemah dengan lelaki bersuara berat.
Mi instan buatan Willy ia nikmati kemewahannya dengan cepat, ditemani berita televisi yang menyiarkan kabar lumpuhnya Jakarta. Guyuran hujan lebat yang turun beberapa jam lalu, dengan cepat menciptakan banjir di hampir semua wilayah. Ia sendiri bisa menyaksikan dari lantai dua puluh tiga. Lampu yang menyala dari antrean mobil di jalanan itu sudah seperti ular raksasa yang tengah berganti kulit. Diam tak bergerak di bawah gemuruh suara hujan dan petir. Nina teringat rumahnya yang berada di pinggiran kota.
Tak perlu waktu lama, efek mi instan mulai mengaburkan pandangannya. Nina pun tertidur di sofa dengan bibir yang membentuk lengkungan. Suara Bebi Romeo merasuki mimpi indahnya sebelum dibuyarkan Boni.
“Kita pulang. Ke apartemen aja. Jalan ke rumah tertutup banjir.”
Nina menggeliat malas sambil menengok jam tangannya. Jarum pendek menunjuk angka sebelas. Berarti setengah jam yang dijanjikan suaminya, berakhir dengan kenyataan empat jam. Ia berjalan malas di belakang Boni yang sibuk menjelaskan alasan rapat dadakan serta penyebab kemarahan presdir hingga membuat Nina harus menunggu lama. Nina tak terlalu menangkap semua ucapan Boni, tapi ia yakin tak ada kata maaf keluar dari bibir suaminya.
Di saat melintasi salah satu cubicle, matanya spontan melirik ke arah kanan. Saat tidur pun pemuda itu masih bisa membuatnya gugup. Pasti dia terpaksa menginap di kantor karena banjir.
 
NINA MENGUAP beberapa kali saat berada dalam lift eksekutif. Matanya masih sepat. Namun, ada yang harus disampaikan kepada Boni. Sekarang juga!
“Malam Minggu besok aku enggak bisa datang ke acara ulang tahun Mami. Aku harus ketemu klien potensial. Kamu tahu, perusahaanku sedang butuh pemasukan baru agar bisa bertahan.”
 “Enggak bisa reschedule? Soalnya kan perayaan ulang tahun Mami sudah direncanakan jauh-jauh hari.”
Enggak bisa. Calon klienku itu hari Minggu pagi sudah balik ke Hong Kong.”
“Ketemuan di mana?”
“Kafe Amor.”
“Mami pasti kecewa,” balas Boni pelan, sambil menghela napas tanpa berniat memperpanjang urusan. Energinya sudah terkuras di ruang rapat tadi.     
Kemudian ruangan lift kembali hening, meski batin Nina begitu riuh oleh lantunan lagu,
Bunga terakhir
Kupersembahkan kepada yang terindah
Sbagai suatu tanda cinta untuknya… (f)

 
***
 
Ade Yusuf
 
Finalis Sayembara Cerpen 2016
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/



Topic

#FiksiFemina

 

polling
Dana Darurat

Idealnya, kita memiliki tabungan khusus untuk situasi darurat, yang biasa disebut dengan dana darurat. Jumlahnya, setidaknya 3 kali pengeluaran bagi lajang, sedangkan bagi mereka yang sudah berkeluarga diharapkan memiliki dana darurat sebesar 6 kali penge

Apakah Anda memiliki dana darurat?