Fiction
Cerpen: Daun Pepaya di dalam Semangkuk Mi

6 Oct 2017



Eliza disergap perasaan aneh, saat semangkuk mi instan dengan potongan-potongan daun pepaya, tersaji di hadapannya. Aroma pahit dan langu samar, membawa ingatannya ke sebuah flat di ruas Jalan President Nicolau Lobato, Dili.

Waktu itu, Eliza baru pulang kerja ketika melihat Jaime terhuyung, kemudian ambruk di depan kamarnya.
“Jaime?” Eliza mendekat. “Kenapa?”

Lelaki itu sedikit mengerang sambil bersandar pada daun pintu yang terbuka. ”Kepalaku pusing.”
Eliza melirik ke dalam. Ruangan sangat kacau. Beberapa mainan berserak. Baju-baju anak kusut berhambur di tempat tidur. Botol bekas minuman tergeletak di kaki meja televisi. Eliza menahan napas. Saat itu dia menyadari Jaime sedang mabuk. Dia bersiap pergi, tapi Jaime mencegahnya.

“Bisa tolong buatkan aku mi dengan daun pepaya? Bahannya di kulkas.”

Itulah awal Eliza mengenal mi daun pepaya. Terdengar aneh. Tentu saja dia tak asing dengan mi yang dimasak bersama berbagai sayuran. Tapi, daun pepaya?

“Kebiasaan orang Dili,” kata Jaime, ketika Eliza melontarkan keheranannya. “Daun pepaya bisa menghilangkan efek alkohol.”

Eliza duduk di ambang pintu, menunggui Jaime menghabiskan makanannya.

Sorry, jadi merepotkan,” ucap lelaki itu. Dia menyeka titik keringat di dahinya. “Aku dalam masalah dan tidak sadar berapa banyak minum semalam.”

Eliza menelan ludah. Benar dugaannya. Jaime sedang mabuk.

“Terus, masalahmu sudah selesai?”
Jaime tertawa. “Belum.”

“Jadi, mabuk enggak menyelesaikan masalah, ‘kan?

“Ah!” Jaime mendorong mangkuknya dengan punggung tangan, mengambil air di teko plastik, dan menenggaknya. “Kamu tidak tahu betapa rumitnya masalahku.”

Waktu itu Eliza sudah sebulan lebih tinggal di Dili. Sebagai tetangga flat, biasanya dia dan Jaime hanya sekadar bersapa saja. Dan hari itu adalah awal pembicaraan panjang mereka.

“Anakku dibawa lari ibunya. Aku tidak diizinkan untuk bertemu.”

Eliza mulai menebak kenapa kamar Jaime seperti kapal pecah.
“Aku merawatnya sendiri sejak bayi. Mencuci popoknya. Membuatkan susu. Begadang malam sementara pagi harus kerja. Mencari tempat penitipan paling aman, dan mendaftarkan ke sekolah yang terbaik di Dili. Lalu ibunya datang,  membawanya begitu saja. Tiap kutelepon tidak pernah diangkat.”

Eliza menatap Jaime dengan masygul.
“Aku tidak mengerti, Eliz! Aku stres dengan semua ini! Tiap malam aku mimpi buruk tentang anakku.” Lelaki itu meremas rambutnya yang kusut.
“Aku turut prihatin.”
“Padahal, selama ini aku membebaskan Helen datang kapan saja. Tidak pernah melarangnya kalau mau membawa Aleixo menginap di rumahnya. Aku sadarlah sosok ibu sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Aku bisa memberi banyak hal pada anakku, tapi ada hal-hal tertentu yang  hanya bisa dia dapatkan dari ibunya.”
Eliza mengangguk.

Sorry, kamu jadi tahu semua ini.” Jaime menegakkan punggungnya.
“Tidak apa-apa. Ada hal-hal yang bisa melegakan saat dibagi dengan orang lain.”
Sejak hari itu, Eliza dan Jaime menjadi dekat. Kadang-kadang mereka pulang bersama, berjalan kaki menyusuri Jalan President Nicolau Lobato yang sibuk. Biasanya Jaime yang kantornya lebih jauh naik taksi dan turun ketika bertemu Eliza.

Sesekali, keduanya pergi ke Café Ermera yang terletak di Pantai Kelapa. Jaime memesan teh dengan paun oles margarin, sementara Eliza memesan secangkir kopi Ermera. Mereka menghabiskan pesanan sambil berbincang hal-hal ringan.

“Kelak, setelah lama meninggalkan Dili, kalau dengar lagu ini aku pasti ingat secangkir kopi Ermera,” kata Eliza. Waktu itu, terdengar suara Sergio Mendez dengan The Fool on the Hill-nya. Kafe itu memang lebih sering memutar lagu-lagu lama.

“Dan ingat aku,” sahut Jaime.
Eliza tertawa.

“Dan semangkuk mi daun pepaya,” kata Jaime lagi.
“Dan sepiring ayam gorengmu yang gosong.” Eliza mengingatkan masakan Jaime yang gosong. Dia selalu mengagumi lelaki yang mau turun ke dapur. Dan tak menutupi kekaguman itu di depan Jaime.

Lelaki itu terbahak. “Aku tidak pintar masak, tapi Aleixo memaksaku belajar tentang itu.”
Tiap kali perbincangan mengarah ke nama Aleixo, Jaime akan diam sejenak. Rautnya berubah. “Anak itu tak pernah rewel. Apa pun rasa masakanku, selalu dibilang lezat dan dihabiskan.”

Setelah itu, biasanya Jaime menjadi murung. Eliza sering kali bingung harus bagaimana. Tapi, dia mengerti Jaime tidak butuh hiburan. Lelaki itu butuh peneguhan.

“Berdoa terus. Tuhan pasti tak akan menyia-nyiakan kebaikanmu.”
 


Topic

#fiksifemina