Fiction
Cerita Pendek : Dunia Bapak

10 Mar 2019


Foto-foto : Shutterstock

 
Lelaki itu menyorongkan sebuah buku. Tua dan menguning. Kutelan ludah. Usianya pasti lebih tua dariku. Label harga masih menempel di sudut kanan atas. Tertera nominal lima ribu rupiah di sana. Saat ini aku hanya bisa membeli tiga buah gorengan dengan uang sebesar itu.
 
“Ayo ambil, ini punya abak kau.” Ia menyodorkannya lebih jauh ke arahku.
 
Aku mengangguk ragu seraya meraihnya dalam satu tarikan. Baunya sepuh. Sama sepuhnya dengan lukisan wanita di sampul buku itu. Kutengarai dialah sosok ibu yang dimaksud lewat judul yang tertulis.
 
“Kukira Bapak tak suka baca buku fiksi,” ucapku datar. Aku tak memutuskan untuk mengubah panggilan bapak menjadi apak, meski ini tanah kelahirannya.
 
Ia mengulas senyum misterius. Membuatku hilang akal, apakah harus jatuh penasaran atau bergidik ketakutan. Kumis berubannya mengembang.
 
“Dia sering kali menulis dan lebih sering lagi membaca. Penulis buku itu bapak kau,” balasnya, sambil menyesap kopi dalam-dalam sehingga aku bisa membayangkan perjalanan cairan kental hitam itu mengaliri kerongkongannya. Jawaban itu membuat keningku mengerut.
 
Kubaca lagi nama yang tertera di sampul buku berwarna hijau dalam genggamanku. Bunga Malam. Itu sebuah nama pena. Bukankah nama itu terlalu feminin untuk seorang pria.
 
“Ini saja, Pak? Bapak yakin tidak ada yang lain?” tanyaku dengan nada sedikit mendesak.
 
Rasanya sedikit berlebihan jika Bapak memintaku jauh-jauh datang ke Padang menemui kawan lamanya hanya untuk sebuah buku tua.
 
Ia kembali menyesap kopinya. “Apak antar ke bandara, ya?” tawarnya tulus, meski wajahnya masih tampak dingin.
 
Baru lima belas menit yang lalu aku tiba di rumah ini. Begitu tiba dengan wajah dan langkah lelah, ia menyuguhiku kopi panas. Dan tanpa buang waktu segera menyerahkan barang yang menjadi alasanku menemuinya.
 
Aku bahkan belum makan apa pun sejak siang. Kini ia tampak terburu-buru memintaku pergi. Ya, memang kukatakan kepadanya bahwa aku terburu-buru. Tapi, rasanya seperti diusir secara halus. Kopiku bahkan baru kusesap tiga kali. Masih setengah gelas tersisa. Rasa penasaranku masih meluap-luap.

Ia membimbing langkahku keluar rumah menuju mobil kijang tua yang terparkir di halaman. Tak ada garasi di rumah ini.
 
Sebelum membuka pintu mobilnya, Apak Asrul berhenti menatap pohon rambutan besar di sebelah kanan. Ia bertahan cukup lama tanpa menghiraukan gatal dari sapuan rerumputan tinggi di bawah pijakannya yang pasti menggelitik kulit di sela-sela sandalnya.
 
Ada sebuah bangku kayu panjang di bawah pohon itu. Bangku tua lapuk tak layak pakai, mungkin usianya sudah setua pohon rambutan itu sendiri.
 
“Dulu di sini abak kau sering kali membaca buku atau sekadar melamun,” ia bergumam tanpa menolehku. Masih lekat tatapannya pada pohon itu.
 
Dia melanjutkan, “Biasanya sore menjelang magrib kami duduk di sini sebelum berangkat ke surau sana.” Telunjuknya mengarah lebih jauh ke arah kanan. Mungkin dulu yang dimaksud Apak Asrul adalah ketika Bapak masih kanak-kanak.
 
“Sekarang surau itu sudah diganti jadi masjid besar di pusat kampung. Dekat kantor kecamatan. Tentu kau melewatinya tadi?” Sudut matanya melirikku.
 
”Iya, Pak,” jawabku singkat.
 


Topic

#cerpen, #fiksi

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.