Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [3]

16 Oct 2017


Kisah sebelumnya:
KOTA KELAHIRAN BAGIAN 1
KOTA KELAHIRAN BAGIAN 2

Kematian Ibu yang sudah tak lagi mendapat tempat di hatinya membuat Sofi harus terbang jauh ke Montreal, Kanada, untuk menaburkan abu jenazah ibunya. Di kota tempat ibunya bermukim yang sekaligus kota tempat Sofi lahir, sedikit demi sedikit ia mengetahui sejarah hidupnya, sejarah hubungan ayah dan ibunya lewat cerita Rose, sahabat ibunya.

BAGIAN 3
Ibu telah sukses membuatku tidak pernah mengingatnya. Tak pernah mengenangnya. Bahkan, aku tidak menangisi kematiannya. Bisa jadi juga karena kebersamaanku dengannya begitu singkat. Semuanya terhapus dengan keterlibatan Nenek, Kakek, dan saudara-saudara ayahku yang mengambil alih perannya merawat dan mengasuhku.

Namun, mataku merebak saat membaca 13 amplop berisi ucapan ulang tahun yang ia simpan dalam sebuah amplop plastik besar, yang kutemukan di koper. Tiap tahun, di kartu ulang tahun yang tak ia kirim padaku, Ibu  menulis: “Sofi, kamu adalah hadiah terindah yang pernah aku terima dalam hidupku. Selamat ulang tahun! I Love you. “  Semua kartu ia tulis dengan kalimat yang sama.

Pukul 21.00 aku pamit kepada Rose untuk kembali ke hotel.

“Terima kasih untuk segala kebaikanmu, Rose..” Aku pamitan.

“Ya, Tuhan… ada benda lain dari Nemah yang harus kuberikan padamu.” Rose  melepaskan pelukanku dan berlari ke kamarnya. Ia kemudian menyerahkan sebuah amplop  bersegel. Seperti niatku semula, aku ingin menyelesaikan masalah Ibu sekarang juga. Maka, kubuka amplop bersegel itu. Sepucuk surat pendek yang ditulis tangan oleh Ibu.

“Dear Sofi,  terima kasih telah menaburkan abu jenazahku di Beaver Lake. Jika aku memilih dikremasi, tidak dikubur sesuai dengan tradisi, karena aku tak ingin orang lain terbebani, termasuk kamu, merasa perlu menengok kuburanku. Jika aku memilih Beaver Lake, itu karena menaburkan abu di laut lepas sudah biasa. Kebetulan, saat membuat surat ini  aku membayangkan kamu mengenakan mantel merah sedang meluncur ber-skating di Beaver Lake. Kamu  melambaikan tangan padaku. Kamu yang masih kecil, tentu saja. Sebab,  aku tak pernah bisa membayangkan sudah sebesar apa kamu sekarang. Sofi,  tiap bulan, sejak usiamu 10 tahun,  aku menyisihkan ini untukmu. Terserah hendak kamu apakan.”

Mataku melotot melihat jumlah deposito yang tercantum.

“Oh, ya, aku lupa bagaimana kamu memanggilku? Mom, Mama, ibu atau…  Apa pun, I love you.”

“Aku memanggilmu Ibu,” ucapku pelan. Aku yakin ia mendengarku. Rose menatapku, tak paham apa yang kuucapkan.

“Rose, besok aku perlu ke bank. Bisakah kamu menemaniku?” Aku tersanjung ketika Rose mengatakan ia sudah mengambil cuti 4 hari untuk menemaniku selama berada di kota kelahiranku.

“Besok akan kutunjukkan tempat-tempat penting padamu,” janjinya. Urusan Ibu  belum bisa kuselesaikan malam ini.
 


Topic

fiksifemina

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.