Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [2]

15 Oct 2017




Kisah sebelumnya di KOTA KELAHIRAN BAGIAN I
Kematian ibu yang sudah tak lagi mendapat tempat di hatinya membuat Sofi harus terbang jauh ke Montreal, Kanada. Di kota tempat ibunya bermukim yang sekaligus kota tempat Sofi lahir, Sofi harus mengambil abu jenazah ibunya dari Rose, sahabat ibunya, untuk ditabur di Beaver Lake. Sedikit demi sedikit Rose mengingatkan Sofi akan kenangan masa kecil yang telah Sofi lupakan.

PASPOR KEDUA
Lepas magrib aku tiba di rumah. Ayah sudah mandi dan sarungan. Pertanda ia tak ada acara malam hari. Mama Mona, ibu tiriku,  sudah memakai baju rumah, daster batik yang modis. Di mana dan kapan pun berada, Mama Mona tak pernah lusuh. Selalu berpakaian dan rambut rapi disisir. Jadi, ia selalu tampak bersih, segar, dan enak dilihat. Aku ingin seperti itu kalau tua nanti. Keduanya sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi. Ben dan She, kedua adik kembarku, laki-laki dan perempuan yang duduk di kelas 1 SMP, ada di kamar masing-masing. Sibuk dengan gadget-nya.

Tak bosan aku mengingatkan, boleh mereka mengisi aktivitas dengan gadget, tapi akan seru juga kalau membaca atau ngobrol di luar kamar. Mama Mona memelukku  tanpa mengatakan apa-apa. Aku memeluk Ayah dan menepuk-nepuk pundaknya. Aku merasa Ayah membutuhkan itu.

“Saya boleh mandi dulu, ya,” kataku pada Ayah dan Mama Mona sambil berjalan menuju kamar, tak menunggu persetujuan mereka. Setelah meliuk-liuk dibonceng ojek di jalanan yang penuh asap, tubuhku basah oleh keringat.

Dua puluh menit kemudian, aku sudah duduk bersama Ayah dan Mama Mona. Ayah mengambil paspor yang tergeletak di meja dan menyerahkannya padaku. Dan itu paspor Kanada! Sumpah, aku lupa selama ini aku memegang paspor Kanada. Karena aku lahir di Montreal, otomatis aku menjadi warga negara Kanada.

Menurut Ayah, Ibu yang  bersikukuh membuatkan paspor itu sejak aku lahir, kendati aku juga punya paspor Indonesia. Ibu menganggap itu adalah hakku. “Setelah usai 18 tahun, sesuai dengan undang-undang, kau boleh memilih, mau jadi warga negara Indonesia atau Kanada,” kata Ayah, ketika beberapa tahun lalu ia memintaku untuk memperbarui paspor itu.

Aku sendiri lupa tentang keberadaan paspor itu karena aku tak pernah berpikir untuk pergi dari Indonesia. Jadi, 2 kali ke luar negeri, ya, memakai paspor Indonesia. Kini, usiaku sudah 23 tahun. Dan aku belum sempat mengurus untuk mencabut kewarganegaraan Kanada. Ampun, aku memiliki warga negara ganda!

“Pergilah ke Montreal. Siang tadi Rose mengabarkan ibumu meninggal dunia setelah dirawat 10 hari di rumah sakit karena diabetes.” 

Terkesan Ayah berusaha sekali mengontrol getaran suaranya. Mama Mona meninggalkan kami berdua. Tampaknya, ia ingin memberi kesempatan pada  Ayah  untuk menumpahkan kesedihan ditinggal orang yang pernah menemani hari-harinya. Pasti Ibu menempati salah satu sudut di hati Ayah yang sangat khusus.
 


Topic

#fiksifemina