Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [1]

14 Oct 2017


 
Beaver Lake
Aku turun dari bus di halte yang dekat dengan Beaver Lake. Rose yang menyarankan agar aku tak perlu memutar jalan atau mendaki Mount Royal. Ia berjanji akan menungguku di halte itu. Aku menolak  halus permintaan Rose untuk datang ke rumahnya dan pergi bersama-sama ke danau itu. Sebab, setelah ku-googling, letak danau itu lebih dekat dari hotelku dibanding dari rumah Rose yang berada di stasiun terakhir metro bawah tanah. Bahkan dari situ masih harus berjalan 3 blok lagi. Aku yakinkan ia, jika aku tak akan kesulitan mencapai tempat itu. Semua informasi tentang jadwal bus dan jarak tempuh sudah kuperoleh dari media sosial.

“Yang penting jangan lupa membawa benda  itu,” pesanku pada Rose di telepon, berulang. Sebab, untuk itulah mengapa sore ini aku berada di tengah suhu udara minus 10 derajat Celsius, beda dengan suhu Jakarta yang panas, 35 derajat Celsius.

“Ya, tapi pulangnya  kamu harus ke rumahku. Ada beberapa barang miliknya. Terserah hendak kamu apakan.” Ayah berpesan agar aku mengunjungi perempuan baik hati ini. Ia menyelesaikan semua urusan kematian Ibu. Rose, juga orang yang dipercaya oleh Ibu untuk menyampaikan wasiat sebelum kematiannya. Untuknya, aku membawa selembar tenun Lombok dan sebuah syal batik sutra. Tentu saja itu belum seberapa.

“Sudah kusiapkan kamar untukmu. Menginaplah beberapa malam di rumah,” ajak Rose.
Rose berteriak ketika kukatakan aku akan kembali ke  Jakarta lusa.
“Oh, ya! Sesingkat itu kamu di sini! Tidak ingin jalan-jalan dulu? Tidak ingin menyusuri kota masa kecilmu. Kota kelahiranmu.” Kupilih jawaban yang membuatnya menghentikan ajakan.
“Aku sekarang sedang tidak mood liburan. Mungkin lain kali aku akan datang khusus untuk liburan.”
“Kamu tidak lelah?” Tentu saja lelah. 

Penerbangan Jakarta–Montreal, lebih dari 21 jam dengan dua kali transit di Hong Kong dan Vancouver, cukup membuat kaki kaku dan jam tidur acak-acakan. Namun, aku tak tertarik berlama-lama di kota yang menjadi sumber petaka dalam hidupku. Coba aku berada di Praha, Santorini, atau Barcelona, akan kusisir habis tiap sudut kota dan kucicipi kulinernya seperti saran yang ditulis di buku atau situs Lonely Planet.

Semburan angin akhir November menerpa wajahku, saat turun dari bus. Rasanya seperti diguyur segelas air es, membuatku merasa beku sekejap. Segera kutarik ritsleting coat musim dingin dan menegakkan kerahnya hingga menutupi leher. Kubenahi syal  hingga menutupi telinga dan leher agar tak ada celah sedikit pun bagi angin untuk menyentuh kulitku.

“Bisakah waktunya diubah ke musim semi agar udara lebih hangat,”  protesku pada Ayah, setelah kucari tahu dan kutemukan suhu udara di kota itu lebih dingin dari freezer kulkas yang hanya 0 derajat Celsius. Tapi, Ayah tetap bersiteguh aku harus pergi musim dingin sesuai wasiat yang ditulis Ibu. “Kamu pernah mengalami 10 kali musim dingin. Jadi, suhu dingin tak akan masalah bagimu.”

Ayah mengatakan itu ketika aku agak menggerutu harus membawa perlengkapan berat seperti sepatu bot, sweater, dan jaket musim dingin. Dengan pakaian lengkap seperti ini, tetap saja membuatku tidak nyaman berada di luar ruangan. Ditambah pemandangan di bukit ini yang kerontang dan beku. Hanya ada jejeran pohon dengan batang dan ranting yang daun-daunnya untuk sementara digantikan oleh serpih-serpih salju yang memantulkan cahaya.
 


Topic

#fiksifemina