Fiction
Cerber: Ayah [1]

18 Jan 2012

JAKARTA, NOVEMBER 1987
Matahari baru saja menampakkan diri. Langit pagi semburat ke­merahan. Angin lembab bulan November berebut memasuki ka­mar, melalui jendela yang terbuka. Aku mematut diri di depan cer­min. Menatap seragam biru putihku yang sedikit kedodoran.

“Wah, wah, wah! Si pipi merah hari ini sudah jadi anak SMP!”

Tanpa sempat kudengar langkahnya, Ayah berdiri di belakangku, sambil tersenyum menggoda. Selalu begitu. Ia lupa mengetuk pin­tu sebelum masuk kamar. Aku cemberut.

“Ya, ya, ya! Ayah angkat tangan! Silakan tembak! Ayah mengaku salah tidak mengetuk pintu sebelum masuk!”
Aku terkikik geli melihat Ayah mengangkat kedua tangannya, se­perti penjahat tertangkap polisi. Pagi-pagi begini Ayah sudah rapi. Sepertinya, ia hendak bepergian jauh.

“Semalam kau sudah tidur sewaktu Ayah datang. Rencananya, pagi ini Ayah akan berangkat ke Hong Kong untuk urusan bisnis.”

“Ayah pergi berapa lama?” tanyaku, penasaran.

Ayah merangkul bahuku. “Hanya sebulan. Kau baik-baik di rumah, ya. Jangan nakal, ya. Oh, ya, Ayah belum mengucapkan selamat padamu.”

Aku mengerutkan dahi.

“Selamat, ya! Kau berhasil masuk SMP favorit dengan nilai ujian paling tinggi. Kau memang anak Ayah yang hebat!”

“Terima kasih, Ayah!”

Aku tersenyum bahagia, sambil membalas pelukannya. Ayah se­lalu penuh perhatian dan kelembutan padaku.

“Oke, Sayang! Ayah berangkat dulu, ya!”

Ayah mengacak rambutku, lalu melangkah keluar kamar. Aku me­ngikuti di belakangnya. Tante Erna sudah menunggu di samping mobil yang diparkir di halaman. Bagas duduk di be­lakang kemudi. Sebelum masuk ke dalam mobil, Ayah mencium keningku. Tak la­ma kemudian, mobil menderu meninggalkan halaman. Aku me­lambaikan tangan, sambil tersenyum kepada Ayah.

“Ia bukan ayahmu yang sebenarnya, Laras. Tak pantas kau ber­man­ja-manja dengannya seperti itu. Lihatlah di cermin! Raut wa­jahmu saja sama sekali tak mirip dengannya.”

Aku memandang Tante Erna. Sudah lima kali ia mengatakan hal itu padaku, meskipun selalu dengan suara berbisik. Namun, ke­tika kata-kata itu sampai telingaku, rasanya seperti petir yang menyambar di siang bolong. Membuatku ketakutan, menebak-nebak berbagai kemungkinan yang sebenarnya telah terjadi. Ka­lau dia bukan ayahku, lantas siapa ayahku yang sebenarnya?

“Ibumu hamil oleh pria yang tak bertanggung jawab. Pria yang sekarang kau anggap ayahmu itu terpaksa menikahinya hanya ka­rena kasihan. Lalu, lahirlah kamu, Laras.”

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Tante Erna memberikan ja­waban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengendap di kepalaku. Begitu jelas dan tegas. Membuatku ternganga tak percaya. Seperti itukah proses kelahiranku ke dunia? Betapa menyakitkan….

Jantungku berdebar kencang. Mukaku terasa panas. Aku ber­ge­gas meninggalkan halaman. Namun, Tante Erna mencekal lenganku.

“Aku mengatakan hal ini karena Mas Pram tak tega mengatakan padamu bahwa ia bukan ayahmu. Ingat, ini rahasia kita berdua!”

Aku mengangguk lemah. Setelah Tante Erna melepaskan ce­kalannya, aku berlari memasuki kamar. Kukemasi peralatan se­kolahku tergesa. Selintas kulihat bayanganku di cermin. Raut wa­jahku memang berbeda dari Ayah. Alis, mata, hidung, sama sekali tak ada yang mirip. Kulitku kuning langsat, sementara kulit Ayah hitam legam.

Terkadang, aku ingin mengatakan bahwa diriku mirip Ibu, tapi tidak juga. Wajahku memang sedikit mirip Ibu, namun kulit Ibu sawo matang. Jadi, dari mana kudapatkan kulit kuning langsat ini?

Ah, hari ini seharusnya aku bahagia karena pertama kali ma­suk Sekolah Menengah Pertama. Ayah membelikan se­mua per­lengkapan sekolah baru. Tapi, Tante Erna merusak keba­hagiaanku dengan kata-katanya yang pedas.

Tiga tahun yang lalu ibuku meninggal karena kanker payudara. Setelah dua tahun hidup sendiri, Ayah memutuskan menikahi Tan­te Erna. Kabarnya, Tante Erna ini adalah teman Ibu semasa se­kolah di kota. Tante Erna seorang janda yang hidup bersama se­orang anak laki-laki, yakni Bagas, yang umurnya tiga tahun lebih tua dariku. Meskipun aku kurang menyukai sikap Tante Erna yang menekan, aku terhibur oleh perhatian Ayah. Ia tak pernah be­rubah. Aku merasa tak pernah kehilangan Ayah, meski dengan kehadiran seorang ibu tiri.

“Kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya kan, Laras? Jadi, jangan berharap mendapatkan banyak fasilitas. Mulai hari ini, Pak Narto tak bisa lagi mengantarmu ke sekolah atau ke rumah teman-te­manmu. Mulai sekarang, kau harus naik angkutan umum!”

Aku terbangun dari lamunan tentang Ibu karena mendengar su­ara Tante Erna. Tante Erna berdiri di depan pintu kamar de­ngan muka masam. Aku benar-benar tak suka melihatnya. Sete­lah menyandang tas sekolah, aku bergegas. Tanpa sarapan, aku ber­pamitan pada Tante Erna. Selera makanku sudah menguap en­tah ke mana.

Sebulan kemudian Ayah datang dari Hong Kong. Ia terlihat ce­mas melihatku naik angkutan umum ke sekolah. Beberapa kali ia menanyakan padaku mengapa aku tak mau diantar sopir. “Aku ingin belajar mandiri, Ayah.” Begitu aku selalu menjawab.

Waktu terus beringsut maju, menggantikan jam demi jam men­jadi hari, minggu, dan bulan. Tanpa kusadari sepenuhnya, aku semakin menjauh dari Ayah. Aku tidak mengizinkan Ayah memasuki kamarku seperti dulu. Aku menghindar setiap kali Ayah berusaha merangkul bahuku, mencium keningku, atau se­­kadar mengacak rambutku. Aku menutup telinga setiap kali Ayah memanggilku dengan sebutan kesayangan ‘si pipi merah’. Aku merasa tak pantas bermanja-manja padanya. Ia hanya se­orang pria yang jatuh kasihan melihat aku lahir tanpa pria yang seharusnya menjadi ayahku. Aku malu!

Tak pernah kujawab pertanyaan Ayah tentang perubahan si­kapku yang drastis. Aku lebih suka mengurung diri di dalam ka­mar. Mengabaikan rayuan Ayah dan ajakan Bagas untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Setiap kali merindukan perhatian Ayah, aku menenggelamkan diri pada buku-buku sekolah. Belajar te­lah menjadi hiburan paling menyenangkan bagiku, di samping ber­khayal cepat-cepat meninggalkan rumah ini dan pergi jauh. Ya, aku ingin sekali pergi jauh….


JAKARTA, NOVEMBER 2005
Aku berdiri mematung di depan jendela apartemen. Meman­dangi langit senja yang menghitam. Dari lantai delapan apartemen tempatku berada kini, lalu lintas kendaraan dan orang-orang di jalanan Jakarta seperti semut-semut berlarian. Aku baru saja me­rapikan tirai jendela ketika bel berbunyi.

Ting-tong…!

Dari lubang kecil di pintu, kuintip tamu yang datang. Oh, rupanya dia yang datang! Seraut wajah tampan berahang kukuh menyembul dari balik pintu. Senyum simpatiknya mengembang. Tubuh atletis di depanku itu menggigil kedinginan. Seluruh pa­kaiannya basah kuyup.

“Di luar hujan deras! Mobilku masuk bengkel. Terpaksa aku naik angkutan umum. Semua sopir taksi mogok karena kenaikan BBM. Beginilah jadinya, basah kuyup!” jelasnya tanpa kutanya, se­telah kami duduk di ruang tamu mungil apartemenku.

Aku tertawa kecil. Mata elangnya menyambarku. Aku meng­alihkan pandangan pada rak penyekat ruangan yang berisi cen­dera mata dan buku-buku sastra kesukaanku
.
“Bagaimana, Laras? Kau menyukai apartemen ini?”

Aku mengerutkan kening. “Hmm, bagaimana, ya?” Pura-pura berpikir, sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan apartemen.

Sebelum pulang ke Indonesia usai program beasiswaku di Bos­ton, aku meminta Rayan mencarikan sebuah apartemen untuk tempat tinggal. Terletak di pinggiran kota, apartemen ini lebih da­ri cukup bagiku. Sebuah kamar tidur, dapur, dan satu ruangan yang kuatur sedemikian rupa menjadi ruang tamu dan ruang ker­ja dengan sebuah rak besar sebagai sekatnya. Dari kantorku, se­buah televisi swasta tempatku bekerja sebagai creative director, aku hanya perlu masuk tol dalam kota, lalu menuju kawasan ba­rat Jakarta. Dengan demikian, aku bisa lebih menghemat waktu karena menghindari kemacetan yang semakin menggila di ja­lanan Jakarta. Tapi, seperti biasanya, Rayan selalu khawatir aku tidak menyukai pilihannya.

“Laras, kau suka atau tidak?” Rayan mengulangi pertanyaannya, dengan wajah cemas yang diam-diam kunikmati.

“Hei, jawab, dong! Kalau kau tak suka, kita bisa mencari tempat lain dan kau bisa memilihnya sendiri. Apartemen yang sudah kau beli ini akan kuganti uangnya untuk membeli apartemen barumu.”

Aku tertawa. Rayan mengerutkan dahi, bingung. Dalam ke­adaan serius dan cemas begini, Rayan terlihat semakin tampan di mataku.

“Kenapa, sih, kau selalu saja takut aku tidak menyukai pi­lihanmu?”

“Karena aku tidak ingin mengecewakanmu,” jawabnya, sambil melingkarkan lengannya di leherku dan mendekatkan wajahnya.

Aku menarik diri, menghampiri coffee maker yang berbunyi dari arah dapur. Kutuangkan kopi ke dalam dua cangkir. Secangkir kopi di senja yang dingin seperti ini terasa sangat nikmat.

“Aku boleh menginap di sini malam ini?” Rayan menghirup kopinya, sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Meskipun sekarang aku tinggal di apartemen, semua aturan te­tap berlaku. Jam tamu untuk pria hanya sampai pukul 9 dan tak boleh masuk kamar, apalagi menginap! No way!”

“Ck, ck, ck! Jangan-jangan, setelah kita menikah pun aturan itu tetap berlaku?” Rayan terkekeh. “Kukira, Boston telah meng­ubahmu. Tapi, ternyata, kau masih yang dulu. Ah, aku semakin mencintaimu. Tapi, kapan kau mau menikah denganku, Laras?”

Aku menghela napas berat. Menikah? Bukan sekali dua kali, Ra­yan mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Bahkan, Rayan sudah meminangku usai wisuda sarjana enam tahun yang lalu. Mu­lanya, kami bertemu di sebuah komunitas backpacker ketika masih sama-sama mahasiswa. Sesama penggila traveling, kami sering me­­lakukan perjalanan bersama. Ia mempunyai kesabaran seluas sa­mudra, sikap sekokoh karang, dan kesetiaan seperti ombak yang tak jemu mengunjungi pantai. Aku mencintainya.

Tak ada keraguan lagi untuk menerima Rayan sebagai pendam­ping hidup. Begitu pula sebaliknya dengan Rayan. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal langkahku untuk menikah. Rayan pun mengetahui ganjalan itu. Seorang anak gadis seharusnya di­ni­kahkan oleh ayah kandungnya. Aku ingin menemukan ayah kan­dungku sebelum menikah dengan Rayan.

“Sorry. Sepertinya, aku membuatmu sedikit bersedih. Tapi, ja­ngan khawatir! Aku akan tetap menunggumu, meski sampai memutih ram­butku!” Rayan meringis, sambil melirikku dengan sudut matanya
.
“Sejak menjemput di bandara, kau menggombaliku terus, Rayan!”

“Aku sangat merindukanmu, Laras. Kau terlalu lama pergi ke Boston. Membuatku kesepian, merana, dan hampir mati.”

Aku pura-pura menutup telinga. Tapi, Rayan malah meng­go­daku. Mengeluarkan rayuan gombalnya, sambil tersenyum-se­nyum. Membuat tanganku tak tahan lagi untuk tidak men­daratkan cubitan di lengannya. Senja yang dingin berubah hangat oleh kehadiran Rayan.


Penulis: Sri Lestari