Fashion Trend
Lomba Perancang Mode 2017: Mencari The Style Maker

11 Jan 2018


Ratusan desainer ternama telah dilahirkan lewat Lomba Perancang Mode (LPM), ajang kompetisi prestisius di bidang mode yang digagas oleh Femina Group sejak tahun 1979. Event dua tahunan ini begitu ditunggu-tunggu oleh para desainer muda yang berniat mengasah skill mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
 
LPM tak hanya sekadar lomba untuk mencari perancang dengan desain terbaik, tapi juga menjadi semacam ‘sekolah’ bagi para calon desainer baru untuk mendapat pembekalan komprehensif sebelum terjun ke industri mode yang sesungguhnya. Ikuti perjalanan mereka saat mengikuti LPM 2017 dalam liputan khusus berikut ini.
 
Mencari Konsep Terbaik
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kompetisi LPM kebanjiran formulir pendaftaran. Tahun ini, 318 sketsa dan konsep desain datang dari berbagai kota di Indonesia, termasuk yang dikirim oleh para siswa asal Indonesia yang sedang bersekolah di mancanegara. Para peserta LPM yang mensyaratkan WNI dengan usia minimum 18 tahun umumnya berasal dari sekolah mode, tapi tidak sedikit juga pegiat mode yang tidak mengenyam pendidikan mode secara formal.
 
Sebagaimana diketahui, ajang LPM telah menelurkan ratusan desainer yang pada puncak kariernya mampu menorehkan nama besar dan menjadi style maker di industri mode tanah air. Nama-nama seperti Samuel Wattimena, Carmanita, Chossy Latu, Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Musa  Widyatmodjo, Albert Januar, Billy Tjong, Hian Tjen, Lulu Lutfi Labibi, Cynthia Tan, Imelda Kartini, Sally Koeswanto, Jeffry Tan, dan Tex Saverio mengawali karier dari ajang LPM.
 
“LPM adalah platform pengembangan karier calon desainer muda yang tertua di Indonesia dan telah konsisten selama 4 dekade. Kompetisi ini adalah pintu masuk ke industri mode. Para calon desainer yang terseleksi bisa memanfaatkan jejaring dan exposure yang diperoleh sebagai modal memasuki industri
mode yang sesungguhnya,” kata Petty S.Fatimah, Pemimpin Redaksi dan CCO femina, yang merupakan Pembina LPM.
 
Penyelenggaraan LPM ke-28 tahun ini memilih tema Urban Identity. Para peserta ditantang untuk menginterpretasi desain busana ready to wear wanita untuk gaya hidup urban dengan mengeksplorasi wastra dan atau budaya lokal. Peserta diperbolehkan mengolah wastra Seleksi 20 Semifinalis lokal ataupun elemen budaya setempat menjadi elemen desain kontemporer yang memberi kekuatan pada identitas rancangan.
 
“Tiap tahun memang selalu ada tema berbeda sebagai bentuk tantangan desain bagi peserta. Tema 2017, Urban Identity, dipilih untuk menggali kreativitas dalam menciptakan desain busana kontemporer sehari-hari yang unik dan masa kini dengan identitas Indonesia yang kuat. Hal ini sekaligus ajakan bagi mereka untuk belajar mendalami budaya negeri sendiri,” jelas Petty.
 
Untuk mencari konsep terbaik dari ratusan peserta tersebut, maka panitia menyusun dua tahap penjurian utama. Seleksi pertama adalah memilih 20 terbaik sebagai semifinalis, di mana peserta terpilih diwajibkan mewujudkan 3 dan 6 sketsa yang dinilai dalam bentuk busana jadi.
 
Seleksi 20 semifinalis dilakukan oleh tim juri internal Femina Group yang terdiri atas: Tenik Hartono (Pemimpin Redaksi Grazia), Anggia Hapsari (Fashion Editor), Ai Syarif (Creative Director Jakarta Fashion Week), Margaretha Untoro (Pemimpin Redaksi Dewi), dan Zornia Devi (Pemimpin Redaksi Pesona).
 

Reynette Fausto


Topic

#lpm2017

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.