Family
Menjauhkan Anak dari Bahaya Radikalisme, Orang Tua Perlu Melakukan Hal Ini

25 Sep 2018


Dok: Pexels.com

 

Meningkatnya jumlah insiden kekerasan dan intoleransi di tengah masyarakat Indonesia 10 tahun belakangan menjadi perhatian Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau akrab disapa Alissa Wahid. Putri Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini melihat ada banyak hal yang membuat intoleransi seperti tumbuh dengan mudah di tanah Indonesia, mulai dari meningkatnya legislasi yang rentan diskriminasi, munculnya sikap ekstrim dan eksklusif dalam beragama, hingga praktik politik berbasis kekuatan dan kapitalis yang seakan menghalalkan segala cara.

“Kita sering tidak bisa membedakan atau tidak related hingga ada anggapan kekerasan agama hanya terorisme. Padahal intoleransi agama juga berbahaya,” ungkapnta, di sela-sela acara ulang tahun femina, Power Breakfast, Rabu (19/9/2018). Direktur Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia pun menilai jika sikap intoleransi dan kekerasan ini dibiarkan tentunya akan merusak generasi bangsa.

Itu sebabnya, Alissa mengingatkan kembali setiap orang tua akan bahaya radikalisme yang mungkin ada di sekitar anak-anak kita. Radikalisme ini bisa muncul dari penanaman sifat eksklusif, misalnya tidak seagama atau tidak seidiologi. Ekskusivisme ini hanya mengutamakan kelompoknya. Hingga muncul sikap superiority, merasa lebih baik dari yang lain. Yang jika terus meningkat kadarnya bisa menjurus pada intoleransi.

Untuk mencegah seorang anak berproses jadi bersikap intoleransi, menurut Alissa yang pertama harus diperhatikan adalah pergaulannya. “Ada orang yang akan mendekati memberikan pertemanan, cinta hingga kemudian dibangun dignity hingga timbul proud. Tahun 45 -60 dignity kita sebagai bangsa dibangun kuat oleh Soekarno. Sekarang ini orang tua lalai menanamkan soal dignity ini pada anak-anak, mereka cenderung menyerahkannya kepada sekolah,” ungkap Alissa.

Membentuk dignity anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Tapi sayangnya, banyak orang tua yang merasa tidak mampu untuk membentuk jati diri anaknya. “Perlu disadari, jika bukan orang tua yang menbangun, maka dignity anak akan diisi oleh siapa saja orang-orang di sekitar mereka, bisa teman, guru, televisi, hingga gadget,” jelas Alissa.

Orang tua perlu menanamkan nilai-nilai yang kuat kepada anak-anaknya. Karena semakin kita sering mengingatkan anak-anak pada nilai-nilai yang baik yang kita tanamkan, maka akan semakin kuat metal anak-anak kita nantinya.

Alissa pun menyebutkan ada tiga hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam perkembangan anak-anaknya agar mereka terlindungi dari prinsip radikalisme, yaitu:

1/ Pentingnya menghidupkan nilai-nilai dalam keluarga, seperti nilai toleransi. Orang tua harus jelas, mana nilai yang mereka tanamkan ke anak-anaknya sehingga anak-anaknya juga sadar akan nilai-nilai dari orang tuanya, walaupun mereka berada di lingkungan luar.

2/ Mengajarkan anak tentang live skill atau kecakapan hidup. Intinya adalah self management, melatih anak untuk bisa mengambil keputusan sejak kecil serta keterampilan berkomunikasi. Ajarkan pada anak bahwa semua manusia itu sama, tumbuhkan rasa hormat pada orang lain. Beri juga mereka pemahaman bahwa aturan bisa saja berbeda di tempat lain, namun tetap menguatkan bahwa nilai yang diajarkan orang tuanya adalah yang harus ia pegang.

3/ Tanamkan pengetahuan pada anak-anak tentang mana yang baik, mana yang kurang baik. Dengan pengetahuan ini, anak bisa membuat keputusan. Jika nilai-nilai yang Anda tanamkan suda tepat, maka ini akan menjadi bekalnya dalam membuat sebuah keputusan hidup.

“Sebagai orang tua jangan khawatir apakah anak kita bisa menjadi anak yang baik, tapi khawatirlah apakah kita bisa menjadi orang tua yang baik,” tutup Alissa. (f)


Baca Juga: 

Alissa Wahid : Menguatkan “Kita” di Tengah “Aku”
Semangat Indonesia Diangkat Untuk Menangkal Intoleransi & Radikalisme Dalam Ulang Tahun Femina Ke-46 Yang Dihadiri Alissa Wahid
Apakah Generasi Z Lebih Toleran Terhadap Perbedaan?

 

 


Faunda Liswijayanti


Topic

#toleransi, #family, #alissawahid