Bermain, bersosialisasi... tiap anak berhak merasa dilindungi. Foto ilustrasi: Unsplash/Mohit Suthar
Setiap anak berhak mendapatkan kebahagiaan dengan hidup dalam lingkungan yang aman dan nyaman.
Namun kenyataannya, masih banyak anak-anak yang harus mengalami pelecehan bahkan kekerasan seksual.
Berdasarkan fakta dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, pada tahun 2023 terdapat 10.932 kasus kekerasan seksual pada anak.
Namun kekerasan seksual memang masih menjadi fenomena gunung es, terlebih pada kasus kekerasan seksual pada laki-laki. Stereotipe maskulinitas membuat para korban lebih memilih bungkam atas apa yang mereka alami.
Masih berdasarkan pada data yang sama, kelompok laki-laki berusia 6 hingga 12 tahun mengalami pelecehan sebanyak 33,2% persen dari 2.278 kasus. Sedihnya, ini merupakan kelompok usia kedua tertinggi yang mengalami kekerasan seksual setelah kelompok usia 13-17 tahun. Mengapa hal ini bisa terjadi?
"Salah satu data penelitian juga menyatakan laki-laki bisa jadi korban. Kalau laki-laki memang tidak berbekas, tidak terlihat, padahal mereka mengalami korban psikologis yang berat," jelas Prof. Dr. dr. Meita Dhamayanti, Sp.A(K), M.Kes, Anggota Satgas Perlindungan Anak PP IDAI, saat menjadi pembicara pada webinar dengan topik Bagaimana Mengajarkan dan Melindungi Anak dari Kekerasan dan Pelecehan Seksual.
Masyarakat kerap menuntut anak laki-laki untuk menjaga diri mereka sendiri. Menurut Jim Hopper, periset sekaligus bagian dari organisasi nirlaba korban pelecehan seksual terhadap laki-laki 1in6, anak laki-laki kerap malu menceritakan tentang pengalaman mereka karena dianggap 'menyukai' pengalaman itu.
Orang dewasa di sekitar juga meremehkan pengalaman anak. Hal ini yang membuat anak laki-laki sulit berterus terang dan harus menghadapi apa yang mereka lalui sendiri.
Jangan jadikan tabu!
Demi menyelamatkan anak-anak kita dari jeratan pelecehan seksual, Prof. Meita meminta seluruh orang tua untuk jangan menganggap hal tersebut adalah tabu."Ada riset menunjukkan bahwa umumnya mereka yang mengalami pelecehan seksual karena merasa hal ini adalah hal yang tabu untuk dibicarakan," ujar Prof. Meita.
Anak bisa diajarkan pendidikan seksual sedini mungkin. Bisa dimulai dengan mengajarkan jenis-jenis bagian tubuh saat anak saat mandi sejak dua tahun pertama usia anak. Ketika sudah mulai paham, orang tua bisa menjelaskan bagian tubuh anak mana yang boleh disentuh dengan yang tidak.
Orang tua memang mengharapkan anak laki-laki mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Namun, jangan anggap remeh cerita anak. Walau pelaku adalah perempuan sebayanya sekalipun, orang tua harus tetap tanggap karena pelaku kekerasan seksual bisa terjadi kapan dan oleh siapa saja.
Kenali tanda-tandanya
Dampak dari kekerasan seksual pada anak laki-laki memang sama bahayanya dengan yang terjadi pada anak perempuan. Namun, anak laki-laki memiliki cara berbeda untuk menghadapinya karena stereotipe gender yang tertanam pada mereka.Menurut organisasi Rape, Abuse & Incest National Network (RAINN), anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual akan lebih agresif, seperti menggunakan kata-kata kasar hingga tidak segan memarahi orang saat mandi atau berganti baju.
Berikut adalah ciri-ciri lainnya:
- Depresi dan sering cemas
- Sulit tidur
- Mimpi buruk
- Perbedaan pada pola makan
- Mengeluh sakit pada bagian intim saat ke kamar mandi
- Takut pada orang atau tempat tertentu.
Ketika trauma pada anak laki-laki tidak ditangani dengan baik, mereka akan mencoba tindakan berisiko lainnya, seperti menggunakan obat-obatan terlarang, menyakiti diri sendiri, bahkan orang lain.
Tugas kita sebagai orang dewasa maupun orang tua untuk melindungi anak-anak, perempuan dan laki-laki, dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual. Jika itu terjadi, kita juga harus sigap menolong mereka, baik dari segi fisik maupun psikologis pasca-trauma.
Kekerasan seksual pada anak sebagai fenomena gunung es harus dihancurkan tuntas, demi masa depan anak-anak.
Baca juga:
Peduli Pekerja Anak, Jangan Pakai Produknya!
Tips Rencanakan Liburan Keluarga, Nomor 3 Kunci Agar Bujet Tidak Kebablasan
Bukan Sekadar Picky, Ini Gangguan Makan ARFID pada Anak
Ghina Athaya


