Family
Kurangi Jajan, Yuk, Siapkan Bekal Untuk Anak

12 Apr 2016


Foto: Fotosearch

Dari survei yang dilakukan femina terhadap 182 responden, sebanyak 86% mengaku memberikan uang jajan kepada anak. Tentu  tak ada yang salah dengan itu. Terlebih lagi, beberapa sekolah sekarang menerapkan jam belajar hingga sore hari. Lagi pula, banyak yang beralasan, memberi uang jajan juga bagian dari proses belajar anak: mengelola uang dan melakukan transaksi.

Menurut dokter spesialis anak, dr. Arifianto SpA, faktanya banyak sekali ditemukan jajanan tidak sehat. Makin ke sini, jenisnya makin bervariasi. “Penggunaan bahan tambahan pangan dan bahan pengawet itu dianggap berbahaya apabila melebihi nilai ambang batas,” jelasnya.

Penggunaan bahan tambahan pangan yang melebihi ambang batas bisa menimbulkan efek jangka panjang yang berbahaya pada anak. Efek samping itu antara lain, genotoksisitas (kerusakan DNA yang menyebabkan kanker), merusak kesuburan dan reproduksi. “Itu efek jangka panjang, bisa bertahun-tahun. Kalaupun bisa terlihat langsung, biasanya jika dikonsumsi dalam jumlah sering dan besar,” jelas dokter yang juga menulis buku berjudul Orang Tua Cermat, Anak Sehat ini.

Hal yang perlu dicermati juga adalah soal cara pengolahan dan tempat menjajakan jajanan, karena sering kali tidak memperhatikan kebersihan. Faktor kesadaran higienis dan sanitasi di negara ini masih sangat rendah.

Mengenai konsepsi gaya hidup sehat, dari hal yang sepele saja, seperti kesadaran soal cuci tangan. Berapa banyak orang yang cuci tangan setelah dari toilet? Kalau perilaku mereka soal cuci tangan saja tidak benar, bagaimana mereka bisa dipercaya mengelola makanan?

Padahal, makanan mudah sekali terkontaminasi bakteri. Beberapa jenis bakteri itu antara lain salmonella, sigella, amoeba, campylobacter, cacing, dan escherichia coli (e-coli). Bakteri yang masuk ke saluran cerna, menurut dr. Arifianto, bisa menyebabkan keracunan makanan dan infeksi pada saluran cerna. “Penyakit yang paling sering ditemukan yang disebabkan oleh makanan yaitu muntah, diare, dan keracunan makanan,” tuturnya.  

Bakteri seperti salmonella typhi, seperti kita tahu, adalah penyebab penyakit tifus. Angka kejadian  penyakit tifus ini masih cukup tinggi. Menurut situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka penderita penyakit tifus di seluruh dunia sebanyak 21,5 kasus per tahunnya. Kejadian paling banyak ditemukan di negara-negara berkembang. 

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) juga mencatat, diare mengancam nyawa dan berisiko menyebabkan kematian. Tiap tahunnya, penyakit ini mengakibatkan kematian 760.000 anak di dunia.

Di Indonesia, kejadian luar biasa karena pangan yang kerap terjadi adalah keracunan makanan. Menurut data BPOM, pada tahun 2008  jumlah korban keracunan pangan Indonesia mencapai 25.268 orang. Dari 80% kasus keracunan yang terjadi pada anak sekolah, 35%-nya dialami anak sekolah dasar.

Mengapa anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa? Jawabannya, karena lebih terkait ke berat badan. “Biasanya satuan untuk menunjukkan angka melebihi ambang batas itu menggunakan miligram per kilogram berat badan. Berat badan pada anak-anak lebih ringan daripada orang dewasa, sehingga lebih mudah terpapar,” jelas dr. Arifianto.

Lantas, adakah hubungannya antara jajanan tak sehat dengan kecerdasan kognitif anak? Mengenai hal ini, dr. Arifianto mengatakan, penelitian sahih yang punya tingkat evidence based medicine (EBM) tinggi belum ia temukan. “Umumnya, pendapat yang mengatakan asupan tak sehat memengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan kognitif anak, lebih ke arah teori. Anak jadi hiperaktif dan memiliki gangguan tumbuh kembang. Namun, hal ini masih terdapat pro dan kontra,” jelas dr. Arifianto, yang tidak mengelak, tingkat bahaya  jajan sembarangan ini tetap harus diwaspadai.

Kalaupun jenis jajanan itu aman, menggunakan gula, garam, pewarna, dan pengawet sesuai dengan batas yang ditentukan, misalnya, jajanan dalam kemasan, belum tentu sehat. Makanan itu bisa disebut ‘safe’, tapi belum tentu ‘healthy’.

Untuk itu, kita perlu menelisik lebih jauh, apa sebetulnya yang disebut jajanan sehat. Para praktisi kedokteran merujuk pola makan yang baik menurut food plate (www.choosemyplate.gov), yaitu makanan yang seimbang karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan buah.

Buat anak-anak, ada meal time dan snack time. “Snack time sehat itu berupa jajanan rendah kalori dan tinggi serat. Ujung-ujungnya banyak sayur dan buah juga. Memang itu diet yang benar,” jelas dr. Arifianto, yang mengatakan, gemuk dan kurusnya anak belum tentu karena faktor makanan, bisa juga karena faktor genetis.

Mengenai berapa banyak dan berapa kali sehari anak mengonsumsi snack, dr. Arifianto berpendapat, “Prinsipnya, tiga kali makan, dua kali camilan. Tapi, namanya anak, dia makan kalau dia lapar. They eat what they see. Bisa jadi makan  snack-nya cuma sekali karena keasyikan main. Selama kurva berat/tinggi badannya mengikuti kurva standar WHO, dia tumbuh normal.”

Hal yang patut diwaspadai juga, menurut dr. Arifianto, adalah keberadaan iklan makanan yang berkali-kali muncul di layar televisi. Jingle-nya yang catchy langsung ‘kena’ di kepala anak. “Selain kebijakan pengawasan makanan, mungkin perlu ada kebijakan penayangan iklan yang berkaitan dengan makanan. Jangan cuma iklan rokok yang diatur. Ada iklan seperti jelly, sosis, dan snack-snack kemasan yang ditayangkan ke anak-anak. Banyak dari makanan itu tinggi gula, pengawet, dan garam,” cetus dr. Arifianto.

Ditambahkannya, jika mengonsumsi makanan itu, sebaiknya sesekali saja. Tapi, praktiknya untuk anak-anak memang susah. Apalagi di mana-mana lihat iklan. Tak heran jika saat ini angka obesitas dan penyakit degeneratif terus meningkat. “Dengan menerapkan pola makan dan jajan sehat pada anak, diharapkan di masa mendatang penderita penyakit degeneratif menurun.”

Sekarang, tantangannya  bisakah kita, orang tua, mengubah paradigma dan gaya makannya? Sebab, harus diakui,   orang tua juga bisa disebut sebagai korban dari serangan asing yang masuk lewat media, yang membuat kebanyakan pola makan dan kudapan kita jauh dari sehat. Sulit untuk mengubah begitu saja.

Untuk menerapkan pola makan sehat di keluarga, tentu harus dimulai dari kita. Para orang tua haruslah menjadi role model bagi anaknya. “Kalau anak makanannya diatur, disuruh-suruh, tetapi orang tuanya makan mi instan, fast food, dan gorengan, percuma saja. Jika orang tuanya bagus pola makannya, anak tidak akan terpengaruh dengan beragam jajanan tidak sehat yang dijajakan di luar,” ujar dr. Arifianto.

Langkah awal untuk memulai hidup sehat adalah dengan memahami, seperti apa gaya hidup sehat itu. Selain mengenali jenis makanan sehat, kebersihan juga harus menjadi bagian dari gaya hidup. “Jika sulit menemukan jenis jajanan sehat, tidak ada cara lain kecuali membawa bekal sendiri dari rumah,” ujar dr. Arifianto.


 


Topic

#haribawabekalnasional

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?