Family
Kenali Tanda-Tanda Anak Mengalami Kesepian

4 Sep 2019


Dok. Rawpixel




Sebagai orang tua, tentu kita tak ingin anak-anak dihantui oleh ancaman menakutkan dari perasaan kesepian. Maka dari itu, penting bagi orang tua atau keluarga dekat mengenali tanda-tanda kesepian pada anak sedini mungkin, sebelum dampaknya menjadi lebih buruk. 

Tanda-tanda itu diantaranya adalah selalu sibuk dengan dunianya sendiri, kerap menyendiri, menarik diri dari interaksi di sekitarnya, dan tidak betul-betul memiliki teman untuk bertemu. Ada juga yang kemudian berusaha menarik perhatian dengan cara-cara yang tidak tepat, misal dengan komen di status teman dengan hal-hal menyebalkan, sehingga dia semakin dijauhi.

Bisa juga dilihat dari performa di sekolah, karena mungkin saja anak jadi tidak optimal belajar atau merosot dibandingkan sebelumnya. Jika hal ini mulai nampak, maka perlu melakukan sesuatu.

“Pertama-tama, orang tua perlu introspeksi diri dulu. Karena hal itu mungkin saja terjadi karena hubungan orang tua dan anak yang tidak baik, membuat anak tenggelam dalam kesendirian,” ujar psikolog anak dan keluarga di Klinik Terpadu Fakultas Psikolog Universitas Indonesia, 
Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si

Menurut wanita yang akrab dipanggil Nina ini, yang salah satu anaknya adalah gen Z, mengaku bahwa penting bagi dirinya untuk tegas dan berusaha membatasi penggunaan gawai, serta membiarkan si anak bermain hal-hal yang nyata. Pasalnya ia khawatir, jika sang putri terus berkutat dengan gawainya terus menerus, ia hanya akan memiliki pergaulan yang sifatnya semu.

“Ini yang kemudian mesti kita jaga. Jangan sampai mereka pergaulannya itu-itu saja. Bukannya lantas melarang anak main gawai, yang penting adalah membatasi,” saran Nina. 

Libatkanlah anak pada kegiatan-kegiatan yang lebih banyak mengajaknya untuk bersosialisasi. Misalnya, seperti mengikutsertakan anak dalam komunitas yang sesuai dengan apa yang ia sukai, atau mengajaknya bermain non-teknologi yang sama serunya dengan bermain gawai. Kegiatan-kegiatan ini penting untuk memberikan kesempatan pada anak mengeksplorasi diri dan lingkungan sekitarnya.

Sementara itu,
Ainun Chomsun, pemerhati literasi digital, mengakui sebenarnya internet seperti perpustakaan yang positif jika kita menggunakannya dengan tepat. Orang tua hanya perlu menjadi bagian dari support system dengan menjadi pendamping dan mengenal dunianya anak-anak zaman sekarang tanpa harus menghakimi mereka. 

“Daripada berusaha mati-matian mensterilkan anak-anak dari gawai, lebih baik kita main dan berinteraksi bersama. Ingat, jangan berusaha untuk lebih sok tahu, karena sebenarnya mereka lebih tahu tentang teknologi daripada kita,” ujar Ainun. 

Sementara, berpatokan dari temuan Cigna yang mengatakan bahwa generasi Z adalah generasi kesepian, 
Dr. Doug Nemecek, Chief Medical Officer Cigna, mengingatkan, bahwa keseimbangan hidup bisa menjadi obat dalam mengatasi masalah ini. Yaitu keseimbangan kehidupan sosial dan me time dapat membantu meringankan perasaan kesepian.

Inilah mengapa perlu mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi secara langsung. Anak-anak zaman
now harus diperbanyak berlatih komunikasi secara tatap muka.

“Mungkin anak-anak ini jago berkomunikasi via media sosial atau
chatting. Tetapi ketika mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan komunikasi langsung, kesannya anak-anak ini terlihat tidak sopan atau kasar. Padahal mungkin sebenarnya, mereka melakukan hal itu hanya karena mereka tidak tahu bagaimana mengutarakan emosi,” jelas Ainun. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan, yaitu untuk mengajarkan anak skill-skill dasar kehidupan, seperti kemampuan sosial dan komunikasi.

Kemampuan-kemampuan ini adalah inti agar anak-anak bisa berinteraksi sehat dengan orang lain di sekitarnya. Karena, jika saat ini saja gen Z didiagnosis sebagai generasi kesepian, bukan tak mungkin generasi Alfa (yang saat ini berusia 0-8 tahun) akan menghadapi hal yang sama. Bahkan, diprediksi oleh sejumlah pakar di dunia bahwa gen Alfa akan menjadi generasi paling terhubung namun menghabiskan lebih sedikit waktu bicara dengan lingkungan mereka secara pribadi.

Jadi, apakah gen alfa akan menghadapi kesepian yang sama dengan gen z? Dari sudut pandang yang berbeda, Ainun berpandangan bahwa kita tak bisa menyamaratakan ukuran kesepian atau kebahagiaan pada tiap-tiap generasi.

“Kesepian atau kebahagiaan itu kan ukuran kita (gen x atau gen millennial), karena bagi generasi kita berteman itu harus bertemu fisik. Sementara bagi anak-anak yang lahir dan besar di zaman digital, mungkin berteman melalui
chatting sudah cukup menyenangkan,” tutur Ainun yang berharap akan ada penelitian yang bisa menjawab hal ini. Ainun optimis, bahwa gen alfa akan menjadi generasi yang lebih pintar melihat situasi.

Sementara itu Nina berharap, bahwa kelak akan ada penelitian yang dapat membantu memahami anak-anak gen alfa untuk tak menghadapi masalah yang sama dengan kesepiannya para gen z.

“Mungkin saja kelak gen alfa akan lebih adaptif terhadap kondisi sosial di eranya. Namun seiring dengan itu, orang tua juga perlu meningkatkan literasi digitalnya, sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada anak-anak yang
digital native ini,” saran Nina.

Kecepatan, perubahan tak berujung, dan mudahnya konektivitas dari hadirnya digitalisasi tentunya memiliki dampak psikologis bagi generasi
digital native. Namun, terlepas dari prediksi apakah gen alfa akan senasib dengan gen z, yang sudah pasti terjadi adalah teknologi telah memengaruhi dan membentuk generasi-generasi muda ini. 

Tentunya kita tak dapat menghentikan kemajuan teknologi. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkannya terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Edukasi memainkan peranan penting untuk mempersiapkan masyarakat untuk menjadi adaptif, terbuka untuk belajar hal baru, menghadapi berbagai risiko dan bertahan di tengahnya. (f)



BACA JUGA : 

Psikolog Tika Bisono: Jangan Merusak Anak dengan Gadget
Singkirkan Gadget untuk Dapatkan Waktu Berkualitas Bersama Keluarga, Setuju?
Hindari Anak dari Pornografi dan Konten Negatif Lainnya dengan Cara Ini

 


Topic

#anakkesepian

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?