Family
Kenali Perubahan Remaja Agar Terhindar Dari Masalah Seks

20 Dec 2018


Dok. Pexels

Masa remaja adalah masanya mencoba banyak hal, jika tidak diarahkan secara tepat bisa saja ia terjerumus pada hal-hal yang bisa berakibat tidak menguntungkan. Dalam hal ini termasuk mencoba hal-hal baru yang didorong oleh rangsangan seksual akibat adanya perubahan fisik dalam diri seorang remaja.

Itu sebabnya, remaja perlu mengetahui perubahan fisik apa saja yang mereka alami di masa remaja serta pengaruhnya pada seksualitas. Tidak hanya remaja, orang tua juga perlu menyadari perubahan yang terjadi dalam tubuh anak remajanya.

Berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan KIE Kesehatan Reproduksi untuk Petugas Kesehatan di Tingkat Pelayanan Dasar yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa perubahan fisik saat remaja terjadi begitu cepat dan tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan. Hal tersebut dapat membingungkan para remaja sehingga perlu bimbingan dan dukungan lingkungan di sekitarnya agar tidak salah melangkah.

Perubahan fisik pada remaja terjadi karena pertumbuhan fisik termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) menuju kematangan. Berdasarkan rilis yang dikirim Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, perubahan ini dapat dilihat dari tanda-tanda seks primer dan seks sekunder.

Tanda-tanda seks primer, yakni berhubungan langsung dengan organ seks seperti haid dan mimpi basah. Sementara tanda-tanda seks sekunder, pada remaja laki-laki terjadi perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, badan berotot, tumbuhnya kumis, cambang dan rambut di sekitar kemaluan dan ketiak. Pada remaja putri ditandai dengan payudara membesar, pinggul melebar, dan tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar kemaluan.

Tidak hanya perubahan fisik, di masa ini remaja juga mengalami perubahan kejiwaan. Secara emosi, mereka menjadi lebih sensitif seperti mudah menangis, cemas, frustasi, dan tertawa. Kemudian secara intelegensia, remaja mampu berpikir abstrak, dan senang memberikan kritik.

Namun, di antara itu semua yang penting diperhatikan adalah keingintahuan remaja pada hal baru terutama soal seks. Dari segi kesehatan reproduksi, perilaku ini rawan karena dapat berakibat buruk, seperti risiko tertular penyakit menular seksual seperti, gonore, sifilis, herpes simpleks (genitalis), clamidia, kondiloma akuminata, dan HIV/AIDS serta terancam kehamilan yang tidak diinginkan, pengguguran kandungan yang tidak aman, infeksi organ reproduksi, anemia, kemandulan, dan kematian karena perdarahan atau keracunan kehamilan.

Dampak lainnya adalah depresi dan hilang kesempatan melanjutkan pendidikan. Di lain sisi, kehamilan pada usia remaja juga bisa menyebabkan kelahiran bayi kurang sehat.

Besarnya dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks dini, remaja perlu pembinaan kesehatan reproduksi untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perilaku hidup sehat.

Dengan pengetahuan yang memadai tentang perubahan fisik, dan dampak dari seks pranikah, remaja diharapkan mampu memelihara kesehatan dirinya agar dapat memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi yang sehat. (f)

Baca Juga: 

Ketahananan Mental Mampu Mengurangi Angka Bunuh Diri Pada Remaja
Kenali Depresi Pada Anak Sejak Dini Lewat Kuis Singkat Ini







 

 


Faunda Liswijayanti


Topic

#remaja, #seks, #keluarga