Family
Cara Meyakinkan Suami Pentingnya Keluarga Berencana

9 Jun 2020


Foto: Pexels

 
Merencanakan kehamilan adalah suatu hal yang penting. Tak hanya untuk mengontrol populasi penduduk, tapi juga demi kepentingan ibu dan anak. Menurut dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga berencana Nasional) ada sekitar 2,6 juta pasangan yang menikah setiap tahun di Indonesia. Secara teori kemungkinan 80% wanita dari 2,6 juta pasangan tersebut akan hamil setahun kemudian. “Pasangan baru umumnya gencar berusaha untuk bisa mendapatkan anak. Kita bayangkan kalau ada 2,6 juta pasangan, lalu 80% di antaranya hamil dan melahirkan, ada penambahan kelahiran bayi hampir 2 juta,” kata dr. Hasto dalam webinar bertajuk Urgensi Pelayanan KB Pada Masa New Normal.

Namun keputusan menggunakan alat kontrasepsi demi mengatur kehamilan memang harus dibuat berdasarkan kesepakatan antara istri dan suami. Sayangnya tak semua suami sadar akan pentingnya menerapkan Keluarga Berencana (KB). Citra Ayu Mustika, Pemerhati Perempuan dan Anak, meyakini bahwa istri harus mengedukasi suami akan pentingnya KB.

“Dalam masyarakat Indonesia pendekatan spiritual sering menjadi alasan bagi suami hingga enggan KB. Padahal penggunaan alat kontrasepsi dalam keluarga bukan berarti kita menahan rezeki dari Tuhan. Tujuan kampanye penggunaan alat kontrasepsi adalah menjaga jarak kehamilan demi keselamatan ibu dan bayi. Saya ingin menekankan kehamilan yang tak terencana timbulkan risiko keselamatan dan kesehatan secara langsung pada ibu dan bayi. Jarang pihak suami merasakan dampak langsung dari kehamilan jarak dekat,” terangnya.

Citra menceritakan pengalamannya setelah ia melahirkan anak pertama. Saat itu ia masih belum menyadari pentingnya menjaga jarak kehamilan dan masih takut untuk pakai alat kontrasepsi. Alhasil, saat anak pertamanya baru berusia 6 bulan, ia kembali mengandung. “Saya baru menyadari kalau saya hamil lagi setelah kandungan berusia 3 bulan. Saat itu saya mengalami pendarahan hebat dan saya pikir itu menstruasi. Saya hampir keguguran dan nyawa saya pun terancam,” kenangnya. Pengalaman tersebut membuat Citra dan suami sepakat untuk mulai menjalani KB.

Menurut Citra, Anda harus sampaikan tiga hal berikut jika ingin meyakinkan suami untuk menjalani KB. Pertama, yakinkan suami bahwa risiko kesehatan dan keselamatan dari kehamilan tak terencana ditanggung langsung oleh ibu dan bayi, bukan suami. Kedua, dukungan suami terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah bentuk kasih sayang suami untuk menjaga keselamatan ibu dan anak. Ketiga, KB merupakan bentuk kepedulian suami supaya keluarga bisa memiliki hidup lebih berkualitas. “Dengan memakai alat kontrasepsi, semuanya jadi terencana. Termasuk finansial keluarga dan keadaan psikologis anak,” pungkas Citra. (f)

 
BACA JUGA:
Imunisasi Anak Jangan Ditunda. Ini yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Pergi Imunisasi Anak
Kebutuhan Zat Besi Meningkat, Alasan Anak Perlu MPASI Sejak Usia 6 Bulan
Skenario New Normal, Ajarkan Anak Empati dan Optimisme

 


Topic

#KB, #BKKBN, #alatkontrasepsi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?