Celebrity
Marshanda: It’s Okay Not to be Okay

6 Feb 2022

Marshanda
Foto: Dok. Pribadi


Tidak banyak orang terbuka soal kesehatan mental, apalagi mengakui diri sendiri sedang rapuh, jatuh, dan vulnerable. Saya yakin saya diberi cobaan mental illness salah satunya, karena ada misi mulia yang Allah maksud di balik semua ujian itu. Di mana saya bisa menjadikan ketidaksempurnaan ini untuk memotivasi, menginspirasi, sekaligus menguatkan orang lain di luar sana yang tengah merasa sendiri dan mengalami stres, entah ringan atau parah. Saya rasa itu tujuan hidup saya sekarang. 
 

Tidak Perlu Menjadi Sempurna


Semua orang punya pain dalam hidupnya, itu pasti. Mengalami masa-masa di mana saya sendirian dalam struggle kesehatan mental, menyadarkan saya, ada banyak orang yang sebetulnya tanpa mereka bilang secara terbuka, juga struggle secara mental, emosi, dan perasaan dalam hati.

Ditambah stigma di masyarakat mengenai penyakit mental, stres, dan lainnya - yang sebetulnya dialami semua orang tanpa terkecuali, tapi tidak semua orang berani mengakuinya - membuat orang semakin enggan untuk mengungkap kesehatan mentalnya. 

Inilah yang ingin saya suarakan secara terus menerus, dalam bentuk
sharing mengenai cerita kesehatan mental, healing journey, dan berbagai hal yang saya alami untuk meng-empower orang banyak. Saya ingin orang bisa merasakan, ”Caca bisa kuat. Caca bisa bangkit walaupun tidak sempurna. Berarti saya juga bisa seperti itu.”

Kita tumbuh di
society yang mengajarkan untuk selalu merasa bahwa “we are okay”, “I am okay all the time”, “I am good”, “I am fine”, “I am happy all the time”. Kita akan dianggap negatif ketika mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehinga kita cenderung memendam, tidak mengakui, bahkan men-deny rasa-rasa negatif yang kita memiliki. 

Padahal, itu bagian dari manusia. Yang namanya rasa itu ada positif dan negatif. Ketika rasa negatif ada, bukan untuk kita cap negatif, lalu kita anggap buruk. Apalagi sampai mengidentifikasi diri sebagai orang yang tidak baik. Perasaan negatif ada untuk kita jadikan sahabat, untuk kita jadikan
warning signs, untuk kita jadikan message

Apa sih yang sebenarnya perlu kita lihat, perhatikan, dan sembuhkan dari diri sendiri? Mungkin ada trauma yang perlu kita
pay more attention to, mungkin ada luka batin yang perlu berhenti kita cuekin, karena terkubur bertahun-tahun. 

Selama menjalani berbagai terapi, yang paling menantang buat saya adalah
to feel. Merasa kalau saya perlu down, mengizinkan diri untuk down, mengizinkan diri untuk nangis, dan tidak melabeli rasa-rasa negatif yang muncul dengan "Wah ni orang bipolar kumat, nih gitu". Karena sangat mudah bagi saya melakukan itu, melabeli rasa-rasa negatif sebagai gejala-gejala orang sakit jiwa. 

Tapi saya memilih untuk menormalisasikan dan memanusiakan diri sendiri ketika mengalami emosi yang tidak menyenangkan. Karena itu bagian dari hidup dan
healing. Hidup sehat tidak hanya untuk merasakan hal-hal yang happy, yang indah, tapi juga mengizinkan diri memproses rasa-rasa yang tidak nyaman. Kalau kita tahan, emosi-emosi negatif nanti jadi penyakit.

Saya cukup beruntung, memiliki keluarga, mentor,
counselor serta guru yang bisa saya jadikan tempat belajar dan mencari bimbingan. Mereka inilah suporter terbesar saya di masa-masa sulit. Yang mendukung saya dengan ilmu pengetahuan, teknik healing yang berjuta-juta bentuknya, nasihat yang tepat, penerimaan, pengertian, keterbukaan hati, juga support untuk memahami kekurangan dan kelebihan saya.
 

Me Time for Self Respect

Kepada anak saya, Sienna, saya tidak menutup-nutupi kondisi Bipolar saya. Saya sering bicara di webinar-webinar dan Sienna menemani saya. Jadi, dia sering dengar saya sharing bahwa saya ada Bipolar Disorder. Saya punya kebutuhan untuk misalnya me time untuk recharge diri sendiri, dan sebagainya. 

Saya selalu berusaha mencontohkan kepada Sienna aksi nyata bahwa
‘I am respecting myself’ dan ‘I allow myself to take a break when I need to take a break’. Jadi kalau saya lagi capek, lagi butuh quiet time, saya akan bilang ke Sienna. “Ibu lagi butuh quality time, ya. Nana gak perlu pisah sama Ibu. Tapi, kita diem dulu. Ibu lagi "I wanna be with my thoughts because doing that can recharge my energy and I want to be save my energy so I can play with you. I can be kind to you. I won't be angry, irritable, dan lain-lain.”

Dengan saya mencontohkan dan mempraktekkan hal tersebut secara konsisten, ia akan belajar bahwa ternyata boleh ya mengizinkan diri untuk kasih tahu ke orang lain, kalau kita lagi capek, kita lagi butuh
break, dan it's a form of self-respect.

Kalau saya terus menempa, menggerus diri untuk serving other people, tanpa mengizinkan diri saya take a break - dan Sienna menyaksikan itu sambil dia grow up - dia nggak akan belajar bahwa sebagai seorang individu bagus dan boleh, dan hebat kalau kita bisa set boundaries, dan tahu kapan kita perlu istirahat. 

Apalagi kalau punya bipolar, manajemen energinya perlu lebih
aware ketika diri sendiri overwhelmed dan lain-lain, agar saya tetep bisa bersikap stabil dan baik dengan orang lain di sekitar.

Sikap ini juga saya terapkan pada semua orang di sekitar saya. Saya akan informasikan ke siapapun yang bersama saya, bahwa ”Aku
me time dulu, ya". 

Saya aslinya
introvert, tapi saya punya ‘quota’ ketika berinteraksi terus menerus dengan orang lain, semacam battery level.Jadi, setelah sekian jam, saya butuh recharge dengan me-time. Be with my own thoughts, listening to music, meditation, just being with myself. 

Kalau saya tidak melakukan itu, saya jadi banyak overthinking, stress, dan lainnya. Jadi saya belajar menghormati kebutuhan saya untuk mempunyai jeda dan memberikan itu ke diri sendiri.

Kita tidak bisa menyembuhkan apa yang tidak kita rasakan. Itu sangat
detrimental for our even physical health. Karena banyak sekali lebih dari 90%, penyakit fisik yang kronis penyebabnya adalah psikis atau mental.

Saying that I need help and looking for that help, asking for that help,” adalah bentuk keberanian, bukan bentuk kelemahan. Semua orang butuh bantuan, tapi nggak semua orang berani mengucapkan itu keras-keras. Jadi orang yang berani minta bantuan adalah orang yang punya kesadaran bahwa saya butuh pengetahuan yang belum saya miliki sekarang untuk survive dan jadi orang yang lebih baik, dan lebih sehat. It’s a wonderfully courageous thing for you to do

Ketika kita butuh dibantu dan ketika kita butuh beberapa waktu sendiri untuk
healing, untuk be happier, untuk recharge, mungkin terdengar egois. Tapi inget, tujuan kita untuk give ourselves time to heal adalah agar setelah healing proses itu selesai, kita bisa kembali ke keluarga kita, ke orang-orang tersayang dalam hidup kita, menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat buat mereka. So, the end goal is for everyone around us is just not for us. We heal ourselves because we want to help and love others better. (f) 


Baca Juga: 

Apa Itu OCD, Gangguan Mental yang Dialami Aliando Syarief?
Tahun 2022, Perhatikan Kesehatan Mental
Apa Itu Self Compassion dan Manfaatnya Bagi Kesehatan Mental

 


Faunda Liswijayanti


Topic

#marshanda, #bipolar, #kesehatanmental

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?