Celebrity
Ardhito Pramono, Fokus Bermusik di YouTube

5 Feb 2017


Foto: Dok. Pribadi

Musik sudah mengalir dalam darah Ardhito Pramono (21) sejak kecil. Ia belajar main piano pada ibunya. Kemajuan dunia digital ia manfaatkan untuk mengunggah musik-musik yang ia ciptakan sejak tahun 2013, ketika ia masih kuliah di JMC Academy, Australia, Jurusan Perfilman.

Pertama tampil di YouTube, ia meng-cover lagu milik AJ Rafael seperti She Was Wine. Setahun kemudian setelah lulus kuliah dan mulai dikenal banyak orang, ia pun menciptakan lagu untuk direkam menjadi video. Lagu pertamanya berjudul I Placed My Heart, kemudian disusul dengan lagu What Do You Feel About Me. Lagu kedua menjadi salah satu lagu yang paling banyak ditonton.

Sebelum YouTube, ia juga sempat menggunakan saluran digital lain seperti Soundcloud dan MySpace. Namun, saat ini ia fokus di YouTube saja, karena lebih mendunia. “Saya bisa menampilkan visual ketika saya bernyanyi sambil memainkan berbagai alat musik seperti gitar atau piano,” katanya. Yang paling menyenangkan, ia bisa unggah video tanpa harus bayar.

Di balik beragam kelebihan yang dimiliki YouTube, ada pula sisi yang membuatnya tidak nyaman. Orang-orang sulit mengakui bahwa dirinya memang musikus  karena sekarang sedang masanya fenomena YouTuber mencari sensasi untuk mengangkat popularitas mereka. “Saya tidak mencari sensasi. Saya musikus yang memanfaatkan platform sebagai media untuk menyebarkan karya,” katanya tegas.

Dengan karakter musik ethnic dan jazz, Ardhito banyak terinspirasi dari lagu tahun ’50-’60-an, seperti karya-karya Sam Saimun dan Rita Zahara. Ardhito mengungkapkan, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang menyukai genre musik jazz. Hal itu membuatnya makin bersemangat untuk menciptakan lagu. “Saya juga terpacu untuk memperkuat branding saya sebagai Ardhito. Memperkuat rasa cinta saya kepada musik. Itulah cara saya bersaing dan menjaga popularitas,” ujarnya, optimistis.

Selain itu, kadang-kadang Ardhito menghadirkan sesuatu yang beda pada videonya. Dalam videoklip Hypnoteraphy on Session misalnya, ia mengajak penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan orang-orang yang disayang sambil mendengar lagunya. Teknik ini ia pelajari dari ibunya. “Responsnya sangat baik. Banyak penonton yang menjadi ingat kepada orang tua mereka,” katanya.

Selain mendapat pujian, berbagai ucapan negatif juga kerap ditujukan kepadanya di kolom komentar. Namun, ia memilih mengabaikannya. Tak jarang pula ada kritik positif yang menjadi bahan pelajaran dan koreksi baginya. “Pernah saya harus memproduksi ulang videoklip karena dikritik oleh seorang follower. Katanya, sih, video pertama kurang menghibur,” tutur pria yang lebih sering memproduksi videonya sendiri ini.

Atas kerja keras dan konsistensinya dalam berkarya, ia mulai bisa menghasilkan uang dari YouTube sejak tahun 2014. Untuk 100.000 views, ia dibayar sekitar Rp1 juta. “Saya menganggap bayaran dari YouTube sebagai bonus. Pendapatan terbesar saya justru berasal dari penampilan off air,” ujar pria yang sudah pentas di kafe-kafe, dan juga Pentas Seni (Pensi) di berbagai SMP dan SMA ini.

Ardhito juga bertekad untuk tetap menulis lagu dan menyanyikannya. “Saya tetap pada jalur jazz. Saya juga ingin menghidupkan kembali musik-musik klasik yang pada zamannya diputar di berbagai radio,” katanya. Rencananya, kolaborasi dengan pekerja kreatif lain juga akan ia lakukan, baik off air atau menciptakan lagu dan videoklip secara bersama-sama. Hingga kini, ia ingin fokus di jalur digital saja. Baginya, berkarya dan terkenal tidak harus lewat label mayor. “Awal tahun 2016 saya pernah datang ke salah satu label untuk menawarkan karya saya. Saya menyanyi di depan produsernya. Namun, saya ditolak karena menurut mereka suara dan genre saya belum dibutuhkan pasar,” katanya. (f)

Baca juga:
3 Tip Sukses Bermusik di YouTube
10 Video Musik Ini Tembus 1 Miliar Views di YouTube
Kaleidoskop 2016: 10 Video Musik K-Pop yang Paling Banyak Ditonton di YouTube

 

Desiyusman Mendrofa


Topic

#YouTube

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.