Career
Wanita Lebih Rentan Kehilangan Pekerjaan dalam Krisis COVID-19

21 Jul 2020


Foto: Pexels

 
Hasil riset yang dirilis oleh McKinsey Global Institute bulan ini memaparkan bagaimana pandemi COVID-19 terbukti memperburuk kesetaraan gender. Ketimpangan gender ini mendukung laporan-laporan sebelumnya yang mengungkapkan masih sulitnya menciptakan kesetaraan gender dalam ekonomi masyarakat maupun masa depan karier.
 
McKinsey Global Institute memaparkan beberapa aspek penting dari penelitian tersebut.
 
1. Pekerjaan wanita 1,8 kali lebih rentan terdampak dari pada pekerjaan pria dalam kondisi ekonomi yang dipengaruhi COVID-19
 
Keadaan ini disebabkan karena para wanita banyak bekerja di bidang yang sangat terdampak oleh krisis COVID-19, misalnya pelayanan akomodasi dan kuliner. Di samping itu, lebih banyak wanita yang tidak diupah dalam pandemi COVID-19
 
2. Pertumbuhan ekonomi sedang dipertaruhkan
 
Jika ketimpangan gender dalam krisis COVID-19 diabaikan, maka GDP di tahun 2030 akan berkurang sebesar 1 trilyun US$. Apabila kesetaraan gender dapat segera dipulihkan, maka GDP global dapat meningkat sebesar 13 triliun US$ pada 2030 dibandingkan jika ketimpangan gender dibiarkan begitu saja.
 
Di Indonesia 62% dari tenaga kerja yang kehilangan mata pencaharian di masa COVID-19 adalah wanita. Tetapi jika ketimpangan gender tersebut dapat segera diatasi, maka kita dapat meningkatkan GDP sebesar 172 milyar UD$ pada tahun 2030
 
3. Upaya untuk mencapai kesetaraan gender tidak mudah bahkan sejak sebelum krisis COVID-19 melanda
 
Ada beberapa indikator kesetaraan gender yang mencakup empat kategori, yaitu kesetaraan dalam pekerjaan, kesetaraan dalam mendapatkan pelayanan dan kesempatan ekonomi, kesetaraan dalam perlindungan hukum dan partisipasi politik, dan kesetaraan dalam keamanan fisik dan otonomi. Nyatanya, riset ini tidak melihat adanya perkembangan dalam pencapaian kesetaraan sejak 2014 hingga 2019.
 
Ada beberapa perkembangan positif di dunia dalam sejumlah aspek, antara lain menurunnya tingkat kematian wanita saat melahirkan, tersedianya porsi bagi wanita untuk pekerjaan di bidang teknis dan profesional, dan keterwakilan politik. Akan tetapi, tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja yaitu sebanyak dua pertiga dari partisipasi pria tidaklah berubah.
 
4. Ketimpangan gender sebagai dampak dari COVID-19 akan lebih memburuk jika tidak ada intervensi dari pihak terkait untuk mengatasinya
 
Sebanyak 39% tenaga kerja global adalah wanita. Tetapi 54% pekerja wanita kehilangan mata pencaharian di masa COVID-19.

Data ini diharapkan dapat menggugah penentu kebijakan dan pemimpin bisnis untuk melakukan sesuatu. Mereka didorong untuk menghapus hambatan bagi para wanita dalam berpartisipasi dalam dunia kerja dan masyarakat. Upaya ini tak hanya akan berdampak pada kesetaraan gender, namun juga membantu perbaikan ekonomi global di masa depan.(f)
 



BACA JUGA:
Milenial, Generasi Paling Tidak Optimis Pada Kondisi Ekonomi Dalam Krisis COVID-19
Bisnis Berdampak Sosial Lebih Disukai, Ini Manfaatnya Bagi Bisnis Anda
Mendikbud, Nadiem Makarim, Wacanakan Pembelajaran Jarak Jauh Permanen Usai COVID-19. Setujukah Anda?

 


 


Topic

#kesetaraangender, #wanitakarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?