
Foto: Fotosearch
Klien bisa jadi pihak yang paling menyebalkan setelah atasan. Hehehe. Entah karena sama-sama demanding, entah karena sama-sama tidak boleh dibantah. Yang jelas, nih, klien kerap jadi sumber masalah dan membuat stress, apalagi kalau kliennya reseh. Dalam berhubungan dengan klien, memang banyak kendala yang mungkin terjadi. Tapi tidak usah khawatir, dibantu Patricia Susanto dari Jakarta Consulting, berikut solusi hadapi klien dengan berbagai karakternya.
#1/ Banyak maunya
Saat kita dipercaya perusahaan untuk mengepalai proyek yang bekerja sama dengan perusahaan atau pemegang modal lain, otomatis kita menjadi wakil perusahaan sekaligus penyambung lidah klien. Sayangnya, kerja sama yang terjalin tidak selalu mulus seperti yang kita harapkan. Kadang, klien besar punya ekspektasi terlalu tinggi dan banyak menuntut. Kita bingung bagaimana menolak keinginannya tanpa terkesan tidak professional. Di sisi lain, kita tidak mau terlihat sebagai pengeluh di hadapan atasan dan tim—padahal merasa nbeban kelewat berat. Akhirnya, stress sendiri, deh!
Solusi:
Sebenarnya, nih, permintaan yang tinggi dan seolah tidak realistis dapat kita lihat sebagai tantangan mendapat klien besar—meski banyak permintaan—sangat berharga karena kita bisa belajar banyak. Coba ubah sudut pandang kita, deh, agar lebih optimis dan semangat. Semakin bersemangat kita, semakin senang klien. Biasanya, sih, jika klien senang, nantinya kita bakal lebih dianggap sebagai partner, bukan sekadar ‘pesuruh’.
#2/Berubah konsep
Bila kita bekerja dalam bidang event organizer, saat berhubungan dengan klien, seringnya, nih, posisi kita seolah-olah di bawah mereka. Maklum, mereka pihak yang punya uang. Di saat-saat kritis, mereka bisa seenanknya melenceng dari perjanjian awal, dan menganggap sikapnya itu sah-sah saja. Betenya, kita cuma bisa pasrah karena proyek sudah berjalan sebagian. Masih mungkinkah ada win-win solution?
Solusi:
Sebagai perusahaan yang berbasis servis, kita memang terpaksa menganut prinsip ‘pelanggan adalah raja’ sehingga mau tidak mau, harus memberikan servis terbaik. Bila keinginan atau gagasan klien kita anggap kurang tepat, kita wajib memberitahu konsekuensinya. Katakan saja bila tetap mengikuti gagasan darinya, hasilnya mungkin kurang baik. Kalau klien kita ngeyel, keputusan ada di kita, kok: menghentikan proyek atau tetap di jalan—dengan catatan, klien tidak berhak protes bila hasilnya ternyata memang kurang maksimal. Cara lainnya, kita bisa mengajukan konsep baru yang sesuai visi misi kita, sekaligus sesuai keinginan klien—mencari titik temu, deh. Ingat, tujuan utama kerja sama adalah keinginan kedua belah pihak tercapai, bukan mencari tahu pihak yang benar dan salah.
#3/Deadline molor
Dalam dunia advertising, sering ditemui klien yang suka tidak menepati time line yang sudah disepakati. Klien merasa pegang kendali, sehingga bisa cuek dan lambat merespons maupun memberi revisi. Ujung-ujungnya, kita yang terbirit-birit demi deadline terpenuhi.
Solusi:
Kalau kita sudah tahu kebiasaan klien yang sering molor, majukan saja time line revisi bagian mereka, sehingga walaupun mereka terlambat, deadline masih dapat terpenuhi. Selain itu, informasikan konsekuensinya bahwa proyek yang dikerjakan bersama akan tertunda bila mereka lambat merespons. Namanya kerja sama, tentu butuh usaha dari kedua belah pihak, dong, agar proyek lancar.
#4/Dianggap remeh
Usia kita yang terbilang muda kadang menjadi kendala bila berhadapan dengan klien. Apalagi jika klien kita termasuk orang yang percaya bahwa kualitas ditentukan berdasarkan pengalaman alias umur seseorang.
Solusi:
Pandang usia kita sebagai berkah. Jika kita muda tapi menunjukkankinerja luar biasa, apresiasi uang kita dapat pasti juga lebih tinggi—meski untuk itu kita harus kerja dua kali lebih keras. Jangan mudah gentar jika kita dianggap sebagai anak bawang pada awalnya. Yakin saja, deh, dengan kinerja oke, pandangan klien kepada kita akan berubah seiring waktu. Jangan lupa, penampilan juga bisa memengaruhi. Dengan memakai busana yang terlihat konservatif dan formal—misalnya blazer dan high heels—bisa menaikkan usia kita di hadapan klien.
#5/Diam-diam naksir…
Belakangan, klien suka menelepon di luar jam kantor. Topik pembicaraannya pun sudah melebar, tidak hanya seputar kerjaan. Kalau kita juga tertarik, sih, asyik-asyik saja. Tapi kalau tidak ada naksir-naksirnya sedikitpun, kita jadisungkan, apalagi proyek belum kelar. Takutnya, hubungan jadi tidak enak—atau proyek malah dihentikan sepihak!
Solusi:
Kita harus tegas dalam bersikap. Tunjukkan kalau kita hanya tertarik berhubungan secara professional. Kalau klien sudah kelewat batas, informasikan pada atasan—jangan sampai masalah pribadi merugikan perusahaan. Kita selalu bisa berlindung di balik perusahaan, kok, misalnya dengan meminta orang lain menggantikan tugas kita menghadapi klien.
#6/Menjamu… atau menjilat?
Jika berhubungan dengan klien, tentu saja ada usaha kita untuk menyenangkan atau mengambil hatinya. Tapi, tentu ada batas agar tidak berkesan menjilat atau menyogok. Lalu, sejauh mana kita boleh menjamu klien?
Solusi:
Dalam berhubungan dengan klien, perlu banget pendekatan secara personal, tapi memang harus pada tempatnya. Sebagai langkah awal, menja,mu makan adalah hal yang lumrah. Kalau sudah lebih dekat, kita bisa melakukan golf atau aktivitas bersama lain. Selama tidak memberi barang—terutama yang mahal—biasanya masih dianggap lumrah, kok.
#7/Minim info
Ada tipe klien yang suka memberi masukan sepotong-potong. Dia baru memberitahu kita seingatnya saja—bukannya sekaligus sejak dari awal proyek. Kalau sudah begitu, kita yang harus melakukan revisi kecil berulang kali. Ngerjain banget, deh!
Solusi:
Menghadapi klien seperti ini, sebaiknya kita ajak klien menyisihkan waktu yang cukup dalam melakukan brainstorming. Jadi, kita tahu betul apa keinginan dna harapan klien. Sebelumnya, kita juga harus melakukan persiapan agar saat brainstorming bisa memberi masukan dan ide yang dapat mengembangkan diskusi.(f)
Aurelia Nelly
#1/ Banyak maunya
Saat kita dipercaya perusahaan untuk mengepalai proyek yang bekerja sama dengan perusahaan atau pemegang modal lain, otomatis kita menjadi wakil perusahaan sekaligus penyambung lidah klien. Sayangnya, kerja sama yang terjalin tidak selalu mulus seperti yang kita harapkan. Kadang, klien besar punya ekspektasi terlalu tinggi dan banyak menuntut. Kita bingung bagaimana menolak keinginannya tanpa terkesan tidak professional. Di sisi lain, kita tidak mau terlihat sebagai pengeluh di hadapan atasan dan tim—padahal merasa nbeban kelewat berat. Akhirnya, stress sendiri, deh!
Solusi:
Sebenarnya, nih, permintaan yang tinggi dan seolah tidak realistis dapat kita lihat sebagai tantangan mendapat klien besar—meski banyak permintaan—sangat berharga karena kita bisa belajar banyak. Coba ubah sudut pandang kita, deh, agar lebih optimis dan semangat. Semakin bersemangat kita, semakin senang klien. Biasanya, sih, jika klien senang, nantinya kita bakal lebih dianggap sebagai partner, bukan sekadar ‘pesuruh’.
#2/Berubah konsep
Bila kita bekerja dalam bidang event organizer, saat berhubungan dengan klien, seringnya, nih, posisi kita seolah-olah di bawah mereka. Maklum, mereka pihak yang punya uang. Di saat-saat kritis, mereka bisa seenanknya melenceng dari perjanjian awal, dan menganggap sikapnya itu sah-sah saja. Betenya, kita cuma bisa pasrah karena proyek sudah berjalan sebagian. Masih mungkinkah ada win-win solution?
Solusi:
Sebagai perusahaan yang berbasis servis, kita memang terpaksa menganut prinsip ‘pelanggan adalah raja’ sehingga mau tidak mau, harus memberikan servis terbaik. Bila keinginan atau gagasan klien kita anggap kurang tepat, kita wajib memberitahu konsekuensinya. Katakan saja bila tetap mengikuti gagasan darinya, hasilnya mungkin kurang baik. Kalau klien kita ngeyel, keputusan ada di kita, kok: menghentikan proyek atau tetap di jalan—dengan catatan, klien tidak berhak protes bila hasilnya ternyata memang kurang maksimal. Cara lainnya, kita bisa mengajukan konsep baru yang sesuai visi misi kita, sekaligus sesuai keinginan klien—mencari titik temu, deh. Ingat, tujuan utama kerja sama adalah keinginan kedua belah pihak tercapai, bukan mencari tahu pihak yang benar dan salah.
#3/Deadline molor
Dalam dunia advertising, sering ditemui klien yang suka tidak menepati time line yang sudah disepakati. Klien merasa pegang kendali, sehingga bisa cuek dan lambat merespons maupun memberi revisi. Ujung-ujungnya, kita yang terbirit-birit demi deadline terpenuhi.
Solusi:
Kalau kita sudah tahu kebiasaan klien yang sering molor, majukan saja time line revisi bagian mereka, sehingga walaupun mereka terlambat, deadline masih dapat terpenuhi. Selain itu, informasikan konsekuensinya bahwa proyek yang dikerjakan bersama akan tertunda bila mereka lambat merespons. Namanya kerja sama, tentu butuh usaha dari kedua belah pihak, dong, agar proyek lancar.
#4/Dianggap remeh
Usia kita yang terbilang muda kadang menjadi kendala bila berhadapan dengan klien. Apalagi jika klien kita termasuk orang yang percaya bahwa kualitas ditentukan berdasarkan pengalaman alias umur seseorang.
Solusi:
Pandang usia kita sebagai berkah. Jika kita muda tapi menunjukkankinerja luar biasa, apresiasi uang kita dapat pasti juga lebih tinggi—meski untuk itu kita harus kerja dua kali lebih keras. Jangan mudah gentar jika kita dianggap sebagai anak bawang pada awalnya. Yakin saja, deh, dengan kinerja oke, pandangan klien kepada kita akan berubah seiring waktu. Jangan lupa, penampilan juga bisa memengaruhi. Dengan memakai busana yang terlihat konservatif dan formal—misalnya blazer dan high heels—bisa menaikkan usia kita di hadapan klien.
#5/Diam-diam naksir…
Belakangan, klien suka menelepon di luar jam kantor. Topik pembicaraannya pun sudah melebar, tidak hanya seputar kerjaan. Kalau kita juga tertarik, sih, asyik-asyik saja. Tapi kalau tidak ada naksir-naksirnya sedikitpun, kita jadisungkan, apalagi proyek belum kelar. Takutnya, hubungan jadi tidak enak—atau proyek malah dihentikan sepihak!
Solusi:
Kita harus tegas dalam bersikap. Tunjukkan kalau kita hanya tertarik berhubungan secara professional. Kalau klien sudah kelewat batas, informasikan pada atasan—jangan sampai masalah pribadi merugikan perusahaan. Kita selalu bisa berlindung di balik perusahaan, kok, misalnya dengan meminta orang lain menggantikan tugas kita menghadapi klien.
#6/Menjamu… atau menjilat?
Jika berhubungan dengan klien, tentu saja ada usaha kita untuk menyenangkan atau mengambil hatinya. Tapi, tentu ada batas agar tidak berkesan menjilat atau menyogok. Lalu, sejauh mana kita boleh menjamu klien?
Solusi:
Dalam berhubungan dengan klien, perlu banget pendekatan secara personal, tapi memang harus pada tempatnya. Sebagai langkah awal, menja,mu makan adalah hal yang lumrah. Kalau sudah lebih dekat, kita bisa melakukan golf atau aktivitas bersama lain. Selama tidak memberi barang—terutama yang mahal—biasanya masih dianggap lumrah, kok.
#7/Minim info
Ada tipe klien yang suka memberi masukan sepotong-potong. Dia baru memberitahu kita seingatnya saja—bukannya sekaligus sejak dari awal proyek. Kalau sudah begitu, kita yang harus melakukan revisi kecil berulang kali. Ngerjain banget, deh!
Solusi:
Menghadapi klien seperti ini, sebaiknya kita ajak klien menyisihkan waktu yang cukup dalam melakukan brainstorming. Jadi, kita tahu betul apa keinginan dna harapan klien. Sebelumnya, kita juga harus melakukan persiapan agar saat brainstorming bisa memberi masukan dan ide yang dapat mengembangkan diskusi.(f)
Aurelia Nelly
Topic
#menghadapiklien


