Career
Atlet Perlu Mengantisipasi Karier Yang Tak Panjang

15 Oct 2018


Foto: Shutterstock

Seperti halnya semua profesi yang memiliki masa kedaluwarsa dalam hal fisik, maka ketika usia meredupkan prestasi, berkurang juga kucuran hadiah, bonus dan perolehan materi lainnya. Bila tidak hati-hati yang tertinggal hanyalah kebahagiaan semu dan cerita nestapa. Berita tentang kehidupan menyedihkan mantan atlet nasional peraih medali masih kerap tersiar. Seperti petinju legendaris Ellyas Pical, orang Indonesia pertama peraih sabuk juara dunia IBF pada 1985. Ia dikabarkan hidup sengsara setelah melewati masa aktifnya sebagai atlet dan bekerja menjadi office boy dan satpam, karena tidak memiliki skill lain untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik.
 
Nasib mantan atlet tanah air yang bernasib kurang baik selepas masa jaya kerap mencuat lewat media sosial. Sebut saja, Marina Segedi, mantan atlet nasional pencak silat yang bekerja sebagai sopir taksi. Leni Hadi, mantan atlet perahu naga di kejuaraan dunia dan SEA Games yang bekerja sebagai buruh cuci di Jambi. Dan masih banyak lagi.
 
Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di tanah air, tapi di negara maju sekalipun. Boris Becker, atlet tenis asal Jerman yang berjaya dan sempat menjadi petenis nomor satu dunia di era 80-an dan dikabarkan memiliki kekayaan ratusan juta dolar, tahun lalu dikabarkan bangkrut. Mike Tyson, mantan petinju asal Amerika Serikat, yang dijuluki si leher besi dan menghasilkan 300 juta dolar pada masa keemasan kariernya di era‘80-‘90-an, juga dinyatakan bangkrut pada tahun 2003. Mantan kiper nasional Inggris tahun 2010, David James, juga dikabarkan bangkrut pada tahun 2014. Ia harus melelang barang-barang berharganya.
 
Sehebat apa pun seorang atlet dan sebanyak apa pun uang yang dihasilkan selama aktif sebagai atlet, memang akan habis cepat atau lambat. Menurut National Basketball Association, organisasi yang menggelar liga basket profesional di Amerika Serikat, sekitar 60% anggotanya mengalami masalah keuangan lima tahun setelah pensiun. Sementara, menurut laporan yang dilansir Sport Illustrated, 78% pemain American football alias rugby mengalami bangkrut dua tahun setelah berhenti mengikuti kompetisi. Bagaimana di Indonesia? Saat kompetisi sepak bola di Indonesia sempat dibekukan, banyak atletnya yang kelimpungan, padahal belum pensiun.
 

Nuri Fajriati


Topic

#karier, #atlet