
Foto: 123RF
Berkata ‘tidak’ bukan langkah populer dan pada kenyataannya sulit dilakukan. Tidak hanya di dunia kerja, tapi juga di lingkungan pergaulan atau keluarga. Apalagi bagi kita yang tinggal di budaya Timur, yang tidak terbiasa dengan budaya asertif dan sangat menjaga perasaan orang lain. Berkata ‘tidak’ bisa menjadi langkah agresif yang melukai perasaan orang lain. Bahkan, bisa menjadi kontroversi jika dilakukan oleh seorang bawahan kepada atasan. Seperti apa strategi dan etikanya?
• Ukur pro dan kontranya.
Sebelum Anda maju dengan langkah asertif ini, ada konsekuensi yang harus Anda ukur atau hitung. Apa konsekuensi yang akan Anda tanggung saat berkata ‘ya’, dan kemungkinan respons yang harus Anda hadapi saat berkata ‘tidak’. Hasil pengukuran Anda ini pun nantinya akan membantu Anda dalam mengutarakan kondisi Anda saat ini kepada atasan. Misalnya, ketakutan Anda bahwa hasilnya tidak akan maksimal.
• Ta warkan kontribusi Anda.
Jangan biarkan atasan memikirkan solusi dari tindakan asertif Anda. Bantu mencari tenaga pengganti untuk tugas yang telah Anda tolak, atau tawarkan alternatif solusi. Misalnya, dengan menawarkan bantuan di bagian lain dari proyek tersebut yang masih mungkin Anda kerjakan dalam koridor waktu yang ada.
• Komunikasikan dengan baik.
Di era teknologi digital dan gaya hidup profesional dan personal yang mobile seperti sekarang ini, bertemu langsung melalui tatap muka bisa menjadi hal yang terhitung mewah. Apabila ini situasi yang Anda hadapi, maka dalam beberapa kasus, menyampaikan argumen secara langsung melalui telepon justru bisa lebih berisiko.
Artinya, ada kalanya penolakan ini akan lebih baik jika Anda sampaikan secara tertulis, apakah itu melalui WA atau e-mail. Melalui bentuk tertulis, Anda bisa benar-benar memikirkan kalimat dan merangkai logika dengan lebih baik. Sehingga, kalimat yang keluar tidak berantakan atau bermuatan emosi negatif.
Hukum utamanya adalah harus jelas. Redaksional isi pesan tentu harus benar-benar menjadi perhatian. Artinya, bahasa yang Anda pakai haruslah sama profesional dan sopannya seperti ketika Anda bertatap muka secara langsung dengan atasan.
• Hindari alasan yang panjang dan mendetail.
Misalnya, dengan menjelaskan secara terperinci isi to-do list Anda dari waktu ke waktu. Sebab, ini hanya akan menimbulkan kesan bahwa Anda mengukur loyalitas Anda terhadap perusahaan hanya sebatas hitungan untung-rugi. Hal ini tentu akan menjadi bumerang bagi citra profesional Anda di mata atasan.
• Minta masukan solusi.
Pertama-tama, ungkapkan penghormatan Anda terhadap keputusan atasan memilih Anda. Katakan juga bahwa penilaian Anda terhadap urutan prioritas yang terkait dengan pemberian tugas baru ini bisa jadi salah. Mintalah bantuan atasan Anda untuk mengatur kembali prioritas kerja, misalnya dengan mencoret salah satu beban kerja sehingga memungkinkan Anda untuk mengerjakan tugas tambahan tersebut. Atau mengajukan bantuan dari rekan atau junior, sehingga semua pekerjaan bisa rampung sesuai tenggat tanpa diikuti penurunan kualitas.(f)
Baca juga:
Waktu yang Pas Berkata ‘Tidak’ Dalam Pekerjaan
3 Hal yang Halangi Wanita Raih Kesuksesan Karier
Hati-hati, Gampang Berkomitmen Banyak Ruginya!
Konsultan: Founder Daya Lima Family, sebuah jasa konsultan yang bergerak dalam bidang people strategist, Rozan Anwar.
Topic
#karier, #katatidak


