Blog
Ternyata Patah Hati Tidak Bikin Mati

11 Dec 2016


Foto: Fotosearch

Saya tidak tahu pastinya waktu menunjukkan pukul berapa. Tapi saya tahu itu sudah lewat tengah malam. Saya melirik mama saya yang tertidur di samping saya. Mama yang sebelum pulas tertidur, sibuk menenangkan saya. Saya bisa melihat di matanya bahwa dia juga terluka. "Kalau saja rasa sakit itu bisa dipindah, biar mama saja yang merasakan sakit itu," begitu katanya. Mamalah orang pertama yang saya tuju begitu kabar itu saya terima.

Dari ruang sebelah saya mendengar lagu Unbelieveable dari Craig David berulang kali. Adik saya terbiasa mendengarkan lagu ketika dia tidur. Hanya saja, malam itu MP3 player miliknya rusak, sehingga sepanjang malam lagu itu terus berulang. Entah sudah berapa ratus kali lagu tersebut terputar. "In my heart, in my head, it's so clear now, Hold my hand you've got nothing to fear now, I was lost and you've rescued me some how. I'm alive, I'm in love you complete me, And I've never been here before. Now I see, what love means."

Di kesunyian malam ditemani sayup-sayup suara Craig David, saya terus-menerus berkata kepada diri saya bahwa ini cuma mimpi. Kabar tersebut tidak nyata. Besok pagi saat saya terbangun pasti keadaan akan seperti biasa lagi. Semua kembali normal. Dia masih milik saya. Saya pun terus berusaha memejamkan mata agar mimpi buruk ini segera berlalu. Ketika saya mendengar suara adzan Shubuh berkumandang, kesadaran saya pun mulai hilang.

Terbangun dari tidur, keadaan saya tidak lebih baik. Mimpi buruk itu tidak juga pergi. Saya pun mulai membuat skenario di kepala bahwa ini hanya lelucon biasa. Saya mulai mengingat tanggal. Berusaha mencocokkan tanggal bersejarah yang mungkin membuat dia melakukan lelucon ini. Tapi pikiran saya buntu. Pelan-pelan saya mulai terbangun dari harapan itu, ketika saya melihat pesan-pesan yang menyatakan dia menyesal. Puluhan kali dia menelepon, puluhan kali pula saya hanya memandangi handphone saya yang berbunyi.

Menjelang sore hari, saya seperti tidak menginjak bumi. Saya seperti melayang namun di saat yang bersamaan sangat terluka. Tidak ada satu bagian tubuh saya yang tersakiti tapi kenapa rasanya seperti ada yang merobek-robek seluruh diri saya. Sakitnya luar biasa. Jadi seperti ini rasanya patah hati. Rasa paling dahsyat yang pernah saya alami. Di titik itu saya mengerti kenapa ada orang yang bunuh diri karena patah hati. Saat itu, saya pun yakin bahwa rasa sakit ini akan membunuh saya. Saya akan mati. Kalau tidak mati, saya akan gila. Saya sungguh percaya itu akan terjadi.

Ribuan malam telah berlalu dari malam itu. Saya yang dulu tentu tidak akan menyangka bahwa saya akhirnya bisa melalui semua itu. Ternyata patah hati tidak membuat saya mati. Seperti yang bapak saya bilang bahwa itu adalah bagian dari hidup yang harus dijalani. Peristiwa yang bisa diceritakan kepada anak cucu suatu hari nanti. Saya juga tidak menyangka bahwa hati yang sudah terkoyak-koyak pun bisa kembali merasa. Meskipun tidak ada jaminan bahwa perasaan yang melambung karena bahagia itu tidak akan kembali terluka tapi yang penting ia kembali merasa.

Ketika mengetik ini saya bertanya kepada diri saya sendiri, apa akhirnya yang membuat saya bisa melalui patah hati yang membuat sakit tak terkira itu? Waktu. Bagi saya waktu itu menyembuhkan. Bukan hanya menyembuhkan luka namun waktu juga menyadarkan saya bahwa ada kekuatan yang lebih besar. Tidak mudah juga bagi saya untuk akhirnya menerima kenyataan tersebut. Tapi lagi-lagi waktu bisa membuka mata saya kenapa akhirnya Tuhan tidak memilih dia untuk saya. Waktu pula yang bisa membuat saya melihat bahwa rencana Tuhan tidak pernah salah. Tuhan akan selalu memberikan saya yang terbaik meskipun saya harus berdarah-darah terlebih dahulu untuk mengerti rencanaNya. Tuhan itu baik. Saya hanya perlu percaya kepadaNya :)
 
Blog saya sebelumnya:

Yani Lauwoie


Topic

#blogeditor

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.