Blog
Satu Anak Saja (Tidak) Cukup? Balada Ibu Satu Anak Menjawab Pertanyaan Basa-Basi

29 May 2016


Foto: Fotosearch

Pertanyaan basa basi bukan hanya ‘menyerang’ kaum lajang saja. Terus terang, saya (yang sudah menikah) pun juga menjadi korban deraan pertanyaan basa-basi. Bedanya jenis pertanyaannya. Bukan lagi tentang ‘Kapan Kawin?” tapi “Kapan nambah anak?”

Saya tidak mengerti, apa yang salah dengan punya anak satu. Bisa dipastikan, setiap kali mudik dan bertemu keluarga besar, pertanyaan kapan nambah itu pasti tercetus. “Kasihan anakmu, sendirian enggak ada teman.” “Nanti jadi anak manja, lho!” “Jangan egois gitu, dong!” “Nanti jaraknya kejauhan, keburu tua.” “Masak kamu tega banget anaknya kesepian.” Pertanyaan itu juga bisa datang dari tetangga, teman sekolah dulu, teman online, kenalan baru, dan siapapun itu, begitu orang tahu, “Anaknya cuma satu?”

Untuk menjawab pertanyaan yang satu itu, biasanya saya selalu punya stok jawaban yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Tergantung siapa yang saya hadapi, dan mood saya waktu itu. Suatu kali saya jawab, “Lagi nggak ada PRT nih, kasihan ditinggal kerja, bisa tolong cariin?” Maklum, kalau yang nanya keluarga, biasanya dia sudah tahu riwayat kesulitan saya setengah mati mencari PRT. Jangankan bagus, yang mau aja susah. Stoknya tidak ada. GIliran dapet, baru seminggu sudah cabut. Tak terhitung deh, lika-liku pencarian saya pada PRT. Persis seperti mencari soul mate.  Frustrating.

Begitu dapat, punya PRT juga tidak membuat hidup saya tenang.  Simalakama!

Kali lain, saya beralasan faktor ekonomi. “Habis, sekarang apa-apa mahal banget. Enggak mampu, deh, kayaknya punya anak lagi.” Bagi teman yang sebaya, mamah-mamah muda, rasanya bisa paham banget alasan yang satu ini. Masuk SD sekarang sudah di atas Rp20 juta. Belum biaya kebutuhan hidup, traveling, dan lainnya. Bayangkan, berapa biaya kuliah mereka nanti, ditambah dengan inflasi 10 persen per tahun. Ah, sudahlah!

Pernah juga, saya mengeluarkan jurus jawaban yang mellow. Walaupun sebenarnya karena kesal saja, asal jawabin. “Pinginnya sih, gitu. Tapi belum diizinkan Yang Kuasa. Kemarin baru keguguran.” Dengan jawaban ini, biasanya si penanya akan merasa bersalah, menarik pertanyaannya, dan kemudian bersimpati atas musibah yang saya alami.

Saya tidak mengada-ada kok, dengan jawaban ini. Sebab, faktanya memang demikian. Keguguran itu terjadi, bahkan tanpa saya ketahui tentang kehamilan saya sendiri. Tahu-tahu, saya sudah perdarahan dan dokter mengatakan bahwa saya keguguran. Sedih? Saya tidak tahu harus jawab apa, karena keguguran yang saya alami itu ibarat ‘diambil’ milik saya, yang saya tidak pernah merasa ‘memiliki’.  

Pernah juga, saya jawab, “Amiiin,’ sambil menyunggingkan senyum. Sekesal apa pun, saya tak pernah menanggapinya masuk ke hati. Kalau bisa saya  jawab, saya akan jawab seperlunya. Namanya juga basa-basi. Jawabnya juga boleh basa-basi, dong. Hanya, yang bisa bikin saya emosi adalah ketika anak saya yang menjadi korban pertanyaan basa-basi itu. Please, jangan  bawa-bawa anak. Kasihan, kan, anak kecil sudah harus menanggung beban sosial itu.
“Pilar mau adik?” “Pilar enggak mau minta adik?” “Minta gih, sama Ibu!”

Maaf, itu sudah kelewatan. Terus terang, pingin saya jambak yang nanya. Untungnya, anak saya kok, tegar, dan bisa jawabin dengan bijak. “Bayi itu kan, misteri Ilahi,” ujarnya, singkat. Ini kejadian, PRT yang baru bekerja satu hari di rumah saya melontarkan ujaran itu ke anak saya. Grr, rasanya, ingin saya pulangkan dia hari itu juga.

Benarkah saya tidak mau punya anak lagi? Jawabannya bisa simple bisa tidak. Sebagaimana halnya isi hati dan isi kepala manusia yang dengan begitu mudah berubah dari waktu ke waktu.

Bahwa anak adalah mukjizat, itu saya setuju dan saya alami. Dengan segala dramanya, kehadiran anak memang telah mengubah total hidup saya, hidup kami. Tak terkira kebahagiaan yang saya dan suami rasakan, setelah kehadiran anak. Dalam kondisi yang serba penuh keterbatasan, dua-dua bekerja, dan tanpa support system keluarga besar karena mereka semua jauh di luar kota, kami berjuang untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi anak kami.

Fast forward ke masa sekarang, kami adalah keluarga kecil yang bahagia. Punya satu anak itu sempurna. Setelah anak semakin besar (sekarang sembilan tahun), saya merasa santai, enjoy, dan happy. Anak sudah jauh lebih mandiri. Lebih hands on dengan pekerjaan rumah. Dia sudah bisa diajak kemana-mana, diajak diskusi topik apa pun dan seolah  menjadi ‘teman ketiga’ di antara saya dan suami. Setiap hari, selalu ada quote baru terlontar dari mulutnya, yang membuat saya takjub. He is amazing!

Ada rencana punya bayi lagi? Jujur, saya salut dengan orang yang berani berencana untuk punya anak. Menurut saya, punya anak adalah sebuah tanggung jawab yang teramat besar. Saya tak yakin saya tipe orang yang sanggup memikulnya. Di sisi lain, saya bersimpati pada mereka yang sudah berusaha dengan segala  upaya untuk bisa punya anak, tapi belum juga dikaruniai anak.

Keinginan dan (ketidakinginan)  untuk punya anak itu naik turun. Saya menyukai anak-anak. Saya senang menggendong bayi dan sering tak tahan untuk gemas melihat keimutan mereka yang tiada tara. Ada masanya, saya ingin menimang bayi lagi. Bayi sendiri. Ada masanya, suami yang meminta bayi lagi. Ada masanya, malam-malam ketika kami bercinta, tanpa menggunakan pengaman sama sekali. Bukan karena kecerobohan, tapi pure act of love. Sadar sesadar-sadarnya, kalau nanti saya bisa hamil lagi. Di penghujung bulan, kami pun berdebar-debar menantikan kehadiran sang janin. Tapi, yang ditunggu tak datang.    

Lebih sering, saya rasional saja.

Di sisi lain, siapa sih, yang tidak mencelos hatinya ketika anak mengatakan,

“Bu, kayaknya di kompleks ini, cuma aku yang sendiri. Yang lain semua berdua.”
“Bu, di kelasku, semua temanku punya adik bayi. Cuma aku yang enggak.”

Tak terbilang, berapa kali saya harus membesarkan hatinya, karena seringnya ia didera pertanyaan basa-basi dari orang lain, yang itu menyakiti hatinya. Tak terbilang, saya menyiapkan jawaban untuknya, dan membesarkan hatinya, it’s okay untuk jadi anak tunggal. Bahwa sepupu dan saudaranya adalah juga kakak dan adiknya yang harus ia sayangi, hanya tidak tinggal serumah.

Punya anak lagi atau tidak, ternyata itu bukanlah di tangan kami. Kalau saya dikasih, syukur, dan saya akan membesarkannya dengan sepenuh cinta. Kalau tidak dikasih, syukur juga, karena telah diberikan kebahagiaan yang sederhana, dan mencurahkan cinta untuk si tunggal. Dan, kini saya bisa berlega hati karena tak perlu lagi tergantung pada si mbak.

Kalau boleh meminta (jika suatu saat nanti kita bertemu di suatu tempat), saya akan lebih senang kalau ditanya, “Gimana rasanya punya anak satu?” “Gimana rasanya membesarkan anak pra-remaja?” “Kalau weekend ngapain?” “Apa cita-cita keluarga kalian?” Mari, saya akan dengan senang hati menjawabnya.

 

Ficky Yusrini


Topic

#BlogEditor

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.