Blog
My Hero: Daya Tarik Pria yang Sibuk di Dunianya Sendiri

24 Nov 2016


Foto: 123RF

 
Konon, pria yang punya hobi memiliki daya tarik sendiri. Bahkan, wanita bisa terpesona karenanya.  Apa yang membuat para pria itu jadi jauh lebih keren dari biasanya saat sibuk di dunianya sendiri?
 
Panas Dingin
Melihat suami dengan ‘seragam’ paralayang-nya, hati saya bergetar, badan pun panas dingin. Keren juga… dalam hati saya mengakui malu-malu. Tubuhnya yang cenderung kurus jadi terlihat lebih tegap berisi. Kacamata minus 3 yang biasanya bertengger di hidungnya, diganti  kacamata hitam sporty. Helm motornya pun berganti menjadi fullface helmet yang penampakannya keren dan macho. Begitu juga dengan sepatu sport khusus outdoor mahal, menggantikan pantofel kerjanya. Belum lagi segala perlengkapan paralayang, termasuk parasutnya,  makin membuatnya keren.

            Perasaan ini muncul saat saya mengunjungi suami ketika dia ikut kejuaraan nasional paralayang di luar kota. Beda rasanya. Padahal, saya cukup sering menemaninya latihan. Enggak ada, tuh, rasa deg-degan. Biasa banget malah. Yang muncul lebih banyak rasa khawatir, takut ia kenapa-kenapa.  

            Saya ingat, 10 tahun lalu, di awal tahun pertama pacaran, Aran bertanya kepada saya apakah saya keberatan jika dia ikut olahraga paralayang ini. Sebenarnya, sih, saya agak kurang setuju, tapi bagaimana lagi. Ayah, paman, dan kakaknya  juga aktif di olahraga dirgantara, masa saya yang baru jadian tiga bulan saja melarang. Siapalah saya? Dengan berat hati saya terpaksa mengatakan, “Enggaklah. Ikut saja. Supaya kamu punya hobi.”

            Sejak itu, ia sibuk menghabiskan waktunya untuk belajar dan latihan di akhir minggu dan di luar kota. Padahal, kami sama-sama anak Jakarta yang kuliah di Bandung. Jadi, ya, waktu kami hanya untuk kuliah, dan malam Minggu tentu buat kencan. Hilanglah waktu pacaran kami. Saya akhirnya memutuskan bolak-balik Jakarta, kalau dia sedang sibuk dengan hobi barunya.

            Suatu saat, Aran mengajak saya menemaninya latihan. Hmm, karena ini pergi pagi pulang sore, saya pikir daripada bengong, lebih baik saya ikut, apalagi saya belum pernah melihatnya latihan.  Kami pun berangkat menuju Puncak, Bogor.

            Setelah diperkenalkan kepada teman-temannya, akhirnya saya melihatnya terbang untuk pertama kalinya. Perasaan khawatir dan bangga memenuhi diri saya. Wah, ternyata pacar saya punya nyali besar juga, ya, berani ikut olahraga yang memicu adrenalin ini. Sejak itu, rasanya saya jadi makin cinta kepadanya.

            Setelah saya ingat-ingat, gejala melototin pria-pria keringetan dan sibuk sendiri ini sudah saya alami sejak SMP. Saya paling suka nonton cowok-cowok di sekolah sedang main basket. Seakan-akan mereka sedang ada di dunianya sendiri dan tak peduli   di sekelilingnya semua orang heboh bersorak-sorai, termasuk gadis-gadis yang susah payah cari perhatian berusaha dilirik salah satu pemain.

Yang saya tahu, ini tidak terjadi pada saya saja. Panca, sahabat pria saya, pernah bercerita bahwa ia jadian dengan seniornya di kampus, Reina, karena Panca jago bermain softball. Reina bahkan mengaku tergila-gila menyaksikan Panca bertanding di kompetisi softball antaruniversitas. "Melihat kamu main softball dan asyik sendiri, rasanya gimana gitu...  seakan-akan enggak peduli dengan sekitar kamu. Membuat aku jadi penasaran," begitu kata Reina dulu.

Sayang,  hubungan mereka hanya bertahan beberapa bulan. Mungkin karena Reina sudah melihat bagaimana berantakan dan joroknya Panca merawat dirinya sendiri. Kalau kata Reina, “Ternyata kamu enggak se-‘hot’ yang aku bayangkan.”  Jleb….

Hmm, to be honest, saya merasakan hal yang sama. Ketika si dia kembali dari kejuaraan, saya memang happy. Deg-degan seperti menanti pacar datang, meski ketika Aran pergi selama tiga minggu kemarin saya sempat mengunjunginya di lokasi kejuaraan.

Sehari, dua hari, seminggu, suami saya ‘yang biasa’ pun sudah kembali. Kembali dengan kemeja kantornya, celana jeans-nya, dengan pekerjaan di laptop-nya, mengantar anak-anak sekolah, kebiasaannya tertidur di sofa, sampai sibuk WhatsApp-an dengan kliennya. Intinya, my hero sudah tak ada.  He’s just my husband. Panas dingin yang saya rasakan ketika menemuinya di lokasi kejuaraan, tak pernah muncul lagi, tuh. Gemes….
 
Make Imagination Comes True
Akhirnya, ketika punya waktu untuk  minum teh sore bareng Elly Nagasaputra, MK, CHt, konselor pernikahan dari www.konselingkeluarga.com, saya pun curcol. Eh, ternyata ada alasannya mengapa wanita bisa terpesona kepada  pria yang sibuk dengan dunianya sendiri.

“Soalnya, saat itu kamu sedang melihat seseorang yang sedang melakukan sesuatu dengan passionate. Orang yang seluruh jiwa raganya tertuju pada yang dia sukai,” kata Elly.

Mengapa kelihatan menarik, karena orang yang passionate menjadi sangat fokus dan mendedikasikan dirinya,   sangat berkomitmen pada apa yang sedang dikerjakannya itu.

“Nah, daya tarik itu membuat wanita jadi menganalogikan diri pasangannya sebagai orang yang berdedikasi termasuk dalam hubungan cinta,” kata Elly, tersenyum.  
Benar juga. Saya pernah membaca satu artikel di internet bahwa pria mana pun yang memiliki hobi berolahraga, pasti punya daya tarik. Alasannya sama persis seperti yang Elly katakan tadi. Bisa komitmen, passionate, dan menunjukkan bahwa ia good team player. Ditambah tubuh mereka yang sehat biasanya kelihatan lebih seksi.
Ada lagi, kata Elly, wanita kan selalu mendambakan sosok hero. Nah, di dunia modern ini mereka dianggap seperti hero. “Mereka diidentikkan sebagai orang yang ok untuk bergantung dan bisa diandalkan, iya, ‘kan?” Elly bertanya kepada saya. Hmm… jangan-jangan di luar alam sadar saya memang beranggapan begitu. Ketahuan, deh.

            Tapi, kenapa, dong, setelah melepas segala atributnya, Aran jadi kelihatan biasa-biasa saja? “Samalah seperti kita sedang jatuh cinta,” kata Elly, sambil menyeruput tehnya.  Maksudnya?

Tiba-tiba saya teringat, dulu pernah menemukan artikel tentang jatuh cinta. Menurut Pat Mumby, Ph.D, Co-director  Loyola Sexual Wellness Clinic dan professor di Department of Psychiatry & Behavioral Neurosciences, Loyola University Chicago Stritch School of Medicine (SSOM), jatuh cinta membuat tubuh kita melepas zat-zat kimia yang menimbulkan perasan senang, dan memicu reaksi spesifik tubuh.

Zat-zat itu termasuk dopamin, adrenalin, dan norepinephrin yang meningkat saat orang jatuh cinta. Kalau otak orang sedang jatuh cinta di-scan, bagian otak yang mengatur rasa senang  tampak lebih terang, karena saat itu darah mengalir lebih banyak ke area tersebut.

Jadi, benar kalau ada ungkapan: cinta itu buta. Saat jatuh cinta, pasangan kita menjadi yang paling ideal dan kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat saja. “Enggak heran kalau saat itu semua kayak bulan madu,” kata Elly. Tapi, setelah masa-masa jatuh cinta itu lewat, perasaan menggebu-gebu pasti juga hilang. Belum lagi kalau si dia yang kelihatan lebih cinta hobinya daripada pasangannya. Kalau sudah begini, butuh kondisi emosi yang stabil dari pasangannya.

Dari penjelasan Elly ini, saya jadi paham bahwa saya harus bisa memilah mana yang realitas mana yang imajinasi. Enggak lucu dong, gara-gara imajinasi gagal, perasaan terhadap pasangan juga luntur. Bagaimanapun juga, kita harus tetap bersemangat dan bergairah pada pasangan kita. Kata Elly, kalau ingin hubungan tetap hot tanpa harus berubah jadi berkostum terbang dulu, kita harus merawat gairah dengan love language masing-masing.

Masalahnya, love language  tiap orang belum tentu sama. Ada 5 bahasa yang menunjukkan cinta kita kepada orang lain. Pertama ada yang suka dengan kata-kata, atau words of affirmation. Senang bilang cinta, sayang, atau bahkan lewat puisi. Hmm… definitely not him.

Kedua, quality time.  Inginnya berduaan terus…. Ngobrol  lama dan serius atau liburan berdua saja. Sepertinya ini juga bukan Aran. Ketiga, ada act of service. Senang membantu, melayani, dan senang juga dilayani. Nah, kalau ini sepertinya paling mendekati sifat suami saya. Soalnya, dia siap membantu saya mengerjakan apa saja.
Lalu keempat adalah gift. Kayaknya ini cocok dengan saya, yang selalu menghujani Aran dan anak-anak hadiah. Dan yang terakhir adalah touch. Kalau ini, sih, sejak pacaran, suami saya juga sudah jelas enggak seperti itu.

“Tapi ingat lho, love language yang kita pakai itu adalah yang dia suka, bukan yang kita suka. Percuma kalau kamu bolak-balik kasih hadiah dengan harapan kamu juga mendapat hadiah darinya, karena itu bukan love language pilihannya. Jadi, kalau si dia senangnya quality time, berarti kamu harus menyiapkan waktu untuk bisa sering berduaan dengannya. Gampang, ‘kan,” Elly menjelaskan panjang lebar.

Saya mengangguk-angguk pasrah. Iya, deh, saya akan coba membuatkan dia kopi tiap pagi atau membantunya packing saat mau ke luar kota. Tapi, kalau ingin sedikit beda di kamar tidur, boleh kan dia pakai jumpsuit terbangnya?(f)
 
 


Argarini Devi


Topic

#dayatarikpria