Blog
Memaknai Mentalitas Merdeka Di Era Teknologi Digital

17 Aug 2017

 
Pengibaran Sang Saka 17 Agustus 1945 (Dok. Departemen Penerangan RI)
Pengibaran Sang Saka Merah Putih, 17 Agustus 1945
(Dok. Departemen Penerangan RI)


 
"Merdeka itu sebuah proses menjadi, bukan hasil akhir"
 

Tepat 17 Agustus 2017, negara kita genap berusia 72 tahun. Bicara soal usia 70-an, ada fakta menarik yang cukup menggelitik. Sebuah studi ilmiah tentang pengaruh usia dan perbedaan pengalaman terhadap respons dan reaksi emosi (Journal of Clinical Geropsychology Special Issue, 2001) mengungkap bahwa di usia 60 hingga 70-an, orang memiliki tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa yang lebih baik daripada mereka yang berusia 20-an hingga 30-an tahun.
 
Hal di atas terjadi karena seiring usia, orang condong mengambil langkah resolusi damai daripada ngotot dengan pemikiran dan kemauannya sendiri. Tidak heran jika tingkat stres mereka juga lebih rendah. Kemampuan ini juga yang membuat mereka yang ada di usia 60 hingga 70-an memiliki negativitas yang rendah dan tingkat kepuasan yang lebih tinggi daripada mereka yang ada di usia 20 hingga 30-an.
 
Hmmm…temuan yang cukup menarik! Seiring dengan tampilan serta performa fisik mereka yang melemah, spirit mereka justru menguat. Mereka juga memilih menjadi sosok yang lebih positif. Bagaimana dengan Indonesia di usianya yang ke-72? Apakah juga mencerminkan semangat dan mentalitas yang sama?
 
Jujur, di era post-truth di mana nilai kebenaran objektif bisa dibelokkan mengikuti kebenaran subjektif secara komunal, sulit bagi seseorang untuk bisa melihat segala sesuatu dari sisi cerahnya. Kemerdekaan berpendapat seringkali diperkosa untuk kepentingan pribadi.
 
Orang mendengar bukan untuk memahami, tapi untuk berusaha menimpali. Dengan begitu, pemikirannyalah yang ada di atas pemikiran orang lain. Semangat yang dibawa adalah: “Pemikiran saya lebih baik daripada pemikiranmu. Saya lebih benar. Tidak setuju? Mari kita berkonfrontasi!”
 
Kemunculan media sosial menjadi perpanjangan yang menjawab ketidakpuasan dalam berkomunikasi dan kebutuhan ekpresi diri yang tidak tercapai di dunia nyata. Absennya ekspresi wajah dan bahasa tubuh saat bersosialisasi dalam media sosial, menghilangkan kepekaan seseorang, sekaligus menjadi pembenaran untuk bicara apapun, tanpa mengindahkan perasaan orang lain. The sound of majority menjadi kekuatan baru, meski tak tentu apakah suara mayoritas itu telah teruji sebagai sebuah kebenaran yang objektif atau tidak.
 
Timur Vermes dalam bukunya yang berjudul Look Who’s Back mengatakan bahwa kita tidak bisa menduga, kapan dan mengapa seseorang mulai angkat bicara; kebanyakan mereka hanya membuka mulut karena mereka sadar bahwa mereka belum bicara apapun, atau karena karena khawatir dianggap sebagai sosok yang tidak signifikan jika mereka diam saja. Alhasil, kualitas pendapat, benar atau salah, bukan jadi ukuran utama. Yang penting ngomong saja dulu! Meski sudah cukup menggejala, mudah-mudahan hal di atas tidak mengakar menjadi budaya berkomunikasi kita di era digital.
 
Bicara soal kemerdekaan, segala kemudahan yang dilahirkan oleh teknologi harusnya memerdekakan banyak hal dalam koridor yang positif – meningkatkan harkat hidup manusia, semakin memanusiakan manusia, menjawab kesakitan manusia, dan membantu manusia menjadi jati dirinya yang lebih baik.
 
Tentunya, dengan dipersingkatnya waktu dan tenaga oleh hadirnya teknologi, harapannya manusia bisa memberi porsi fokus yang lebih bersar pada hal-hal lain yang bersifat hakiki. Lebih punya waktu untuk mendengar sebelum angkat bicara, membuka diri untuk berempati saat berjejaring dengan manusia lainnya, serta memelihara dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup di sekelilingnya.
 
Seperti halnya teknologi yang terus berproses untuk sebuah kemajuan yang baru, demikian juga sebuah kemerdekaan. Untuk memahami ini, kita bisa mengingat dan berkaca kembali pada proses jelang Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Tentang bagaimana para pendahulu kita mengartikan kata MERDEKA.
 
Dalam sidang pertama rapat besar panitia Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Ketua BPUPKI, Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat menegaskan:
 

“Usaha kemerdekaan masih juga suatu cita-cita yang belum sampai sempurna, tetapi tujuan kemerdekaan sudah sama artinya dengan dasar kemanusiaan yang berupa dasar kedaulatan rakyat atau kedaulatan Negara.”

 
Perkataan beliau sangat logis! Kemerdekaan memang hak asasi dari setiap makhluk hidup. Namun kondisi merdeka sendiri merupakan suatu proses berkelanjutan dari cita-cita luhur bangsa akan sebuah kesempurnaan secara moril dan materiil. Merdeka bukan akhir dari perjuangan!
 

“Jangan mengira bahwa dengan berdirinya Negara Indonesia Merdeka perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya katakan, di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. Hanya saja, lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. Lain coraknya. Nanti, kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila,” tegas Bung Karno, dalam pidatonya yang berapi-apinya pada tanggal 1 Juni 1945.

 
Dirgahayu Indonesiaku,  MERDEKA! 
 #IndonesiaKerjaBersama 

Naomi Jayalaksana