Blog
Konser Guns N’ Roses Di Jakarta: Ketika Saya Begitu Pengertian Pada Axl

15 Nov 2018


Foto-foto: Image Dynamics PR
 
 
Ya, saya Gen X, yang menghabiskan masa remaja di era 90-an. Dan saya merasa beruntung hidup di era itu. Salah satunya, karena saya menghabiskan masa-masa penuh kegalauan remaja (istilah anak 80-an adalah gejolak kawula muda) berteman lagu-lagu rock Guns N’ Roses. Coba, anak 90-an mana yang waktu itu tidak ngefans atau setidaknya pernah mendengar lagu milik grup rock yang dikomandani Axl Rose, yang berambut panjang pirang dan terkenal dengan lengkingan dan liukan badannya saat menyanyi itu.
 
Lagu-lagu Sweet Child o’ Mine, Paradise City, Welcome to the Jungle, You Could Be Mine, Estranged hingga yang ‘mellow’ seperti November Rain dan Don’t Cry seperti menjadi soundtrack hidup, termasuk kisah cinta, remaja 90-an... atau setidaknya…saya ha..ha..ha..ha… Meski sesungguhnya, kalau harus dipaksa banget memilih, lagu paling favorit saya adalah So Fine, yang diciptakan bassist Duff McKagan.
 
Saya ingat betul, bagaimana sejak SMA saya menjuluki diri sendiri sebagai si November Rain (gara-gara saya lahir di bulan November). Di setiap surat (iya, zaman itu memang masih pakai surat-suratan…), saya hanya membubuhkan nama: November Rain #eaaaa….  
 
Karena dulu akses informasi sangat terbatas, saya sudah harus cukup puas dengan membaca berita di majalah tentang Gn'R line up yang menghasilkan album debut Appetite for Destruction yang menjadi album debut terlaris sepanjang masa. Inilah yang disebut-sebut sebagai line up terbaik. Mereka adalah Axl di vocal, Izzy Stradlin (rhythm guitar), Slash (lead guitar), Duff McKagan (bass) dan Steven Adler (drum). Hingga memasuki masa kuliah, saya mendengar rock band asal Los Angeles ini mulai dilanda konflik.
 
 
Singkat cerita, setelah bergonta-ganti personel, mereka pun pecah, dan vakum karena masing-masing personel mengejar karier sendiri-sendiri.
 
Ketika video sudah begitu gampang kita peroleh di era 2000-an, saya rutin memutar rekaman konser Gn’R yang terkenal, yaitukonser mereka di Tokyo tahun 1992, saat tur Use Your Illusion. Biasanya, pada hari Minggu pagi, saya putar DVD konser itu dan tekun menyimaknya sambil sesekali ikut menyanyi keras-keras. Rasanya saya hafal kostum apa saja yang dikenakakan Axl: rok tartan merah atau hotpans putih atau celana hotpans superpendek merah dengan atasan kaos. Satu hal lain, rambut Axl yang pirang panjang halus tidak pernah tampak basah!
 
Meski pernah menonton secara live konser Slash ketika mampir ke Jakarta, juga ketika Axl manggung di Ancol, rasanya ada yang kurang melihat mereka manggung sendiri-sendiri. Buat saya, dan mungkin sebagian besar fans, Gn’R adalah ya..kelima orang tadi. Meski saya bisa menerima kehadiran Gilby Clarke (yang gantengnya super) waktu menggantikan posisi Izzy, dan makin menyukai komposisi nada ketika keyboardist Dizzy Reed masuk formasi.
 
Karena itu, ketika tahun lalu Gn’R menggelar tour berjuluk Not In This Lifetime, saya menunggu-nunggu dengan cemas, apakah Jakarta akan mereka singgahi. Kenapa? Karena ini adalah konser rekonsiliasi antara si diva Axl dengan Slash, gitaris legendaris yang pemalu dan pendiam yang konon konflik antar mereka tak kunjung usai.
 
Akhirnya Jakarta pun disinggahi Gn’R pada 8 November 2018. Meski Stradlin tidak ikut serta, tapi kurang apa lagi sih, batin saya. Toh ada Axl, Slash, Duff, Dizzy dan Richard Fortus yang memegang rhythm guitar, yang masuk menggantikan Gilby.
 
Ahirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Tiket sudah di tangan, dan sudah saya masukkan ke pergelangan tangan sesuai arahan panitia untuk menjadikan tiket sebagai gelang. Tiket saya adalah rockstar Zone A yang persis di depan panggung. Tempat terbaik untuk menonton konser rock.
 
Dari tempat kerja, saya memanggil ojek online untuk pergi ke GBK, tempat konser berlangsung. Begitu datang, driver ojeknya langsung bertanya,
 “Nonton Axl ya Bu…” OMG, saya segera tersadar bahwa saya sudah ibu-ibu. Welcome to the jungleeee hahahaha….
“Iya, Pak, kok, tahu?”
“Saya sudah mengantar ke sana beberapa orang yang mau nonton tadi…siap-siap macet ya Bu”
“Ooohh…” dan saya pun konsentrasi karena jalanan yang supermacet ketika driver bertanya lagi.
“Bu, Izzy tidak ikut ya? Axl udah gendut sekarang.”
“Lho, Bapak suka Gn'R juga?”
“Iya lah Bu, orang-orang yang seusia kita, siapa juga yang dulu ngga suka Gn'R.”

 
Sampai di GBK, lewat dari pintu masuk sebrang TVRI, para penonton sudah menyemut. Berbondong-bondong mereka berjalan berombongan. Sebagian berpasang-pasangan. Rata-rata mengenakan kaos warna hitam bergambar 2 pistol dan 2 mawar dalam lingkaran warna kuning, simbol Gn’R. Sebagian ada yang mengenakan kaos bergambar tengkorak yang mengenakan topi tinggi seperti topi yang menjadi ciri khas Slash.
 
Mengamati penonton lebih dekat, sebagian besar memang seusia saya. Saya lihat tas tangan yang dibawa penonton perempuan adalah merek-merek seperti Kate Spade, Coach, Tory Burch dan merek-merek yang digemari para pekerja kantoran. Bahkan beberapa di antara mereka yang masih mengenakan sepatu pump… Duh, mbak…. apa nggak pegel berdiri selama 3 jam, saya mulai nyinyir!
 
Bulan November, sudah waktunya hujan mengguyur Jakarta. Apalagi siang sebelumnya hujan deras turun. Pukul 7 malam, di tengah GBK, persis di depan panggung, saya melihat langit yang gelap menggantung. Hujan....! jelas akan hujan ini, begitu saya membatin. Benar saja, satu dua tetes air hujan mulai turun dan beberapa penonton perempuan sudah mengambil payung dari tas…iya benar…payung ha..ha..ha
 
November Rain memang romantik dan melankolis, tapi menonton konser berbasah-basah tentu nggak lucu. Saya pun berdoa sunguh-sungguh supaya hujan tidak turun sambil tetap di tempat,  mengamankan posisi terbaik, untuk bisa menyaksikan 'sejarah' dalam hidup saya.
 
Doa saya, dan mungkin doa semua fans Gn’R malam itu yang memenuhi GBK terjawab. Atau mungkin juga karena pawang hujan GBK memang terkenal dahsyat, tetes satu dua itu kemudian menghilang. Saya menengadah, langit yang gelap itu perlahan sirna dan digantikan langit yang putih bersih. Amazinggg
 
Jreeenggg…sayatan gitar Slash seperti biasa menjadi leader, dan tepat pukul 8 malam konser dimulai. Runtuh sudah kisah-kisah masa lalu, ketika sang diva Axl paling sering telat datang ke konser yang membuat konser GnR pada masa itu jarang on time. Cabikan suara gitar Slash pun membangkitkan raksasa GBK yang langsung bergemuruh.
 
Its So Easy menjadi lagu pertama. Saya memandang ke panggung dengan seksama, mengabadikan orang-orang yang pernah mengisi sepenggal masa hidup saya dengan kebahagiaan lewat lagu-lagu mereka. Slash, masih seperti Slash yang dulu, dengan rambut keriting panjang yang menutup mukanya, yang kini agak tebal oleh lemak. Fortus, dengan rambut hitam panjangnya, tetap lincah. Axl…ya saya sudah tahu ia sekarang tambun, namun saya sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa ia tak lagi menyisakan ketampanan masa mudanya. Meski, senyum Axl masih sama, semanis dulu.

Mari sekarang lepaskan dari sifat pasrah dan nerimo saya sebagai fans, karena sesungguhnya Axl tidak prima. Memang dia pria setengah baya, 56 tahun, tapi suaranya sering hilang. Apalagi di lagu-lagu yang bertempo cepat dan tinggi. Lengkingan Axl jadi barang langka. Beberapa kali ia berusaha untuk lincah, tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa ia memang sudah rocker yang menua dan kehilangan suara emasnya. Apalagi, konser selama 3 jam tentu butuh tenaga yang luar biasa.


Duff McKagan
 
Tapi..Duff…Ya Allah, Tuhan YME. Dia sungguh-sunguh aging gracefully. Badan dan wajahnya tak banyak berubah, Memandangnya di panggung tak ubahnya menonton dia di DVD konser Tokyo thaun 1992 ketika dia menjadi penyanyi utama di lagi ciptaannya: So Fine (yang malam itu tidak dinyanyikan di konser). Bersama Slash, Duff lah yang menjadi bintang konser malam itu. Kepiawaian mereka menutup kekurangan Axl.
 
Dengan suara Axl yang demikan membuat konser itu sedikit mengecewakan. Namun, saya juga fans lain seperti bisa menerima Gn’R apapun kondisinya. Tetap menunggu hingga konser selesai, tepat pukul 11 ketika Don Cry dan Paradise City menjadi lagu-lagu penghujung konser. Penonton bergemuruh ikut menyanyi bersama. Puas rasanya…

Bersamaan dengan Don’t Cry, kembali tetes hujan turun, dan tetesan makin deras ketika Paradise City mengalun. Saya dan beberapa orang yang berada di zona outdoor segera beranjak menuju pintu keluar GBK. Rasa puas saya lihat dari wajah-wajah penonton, meski di sana-sini saya dengar celetukan: “Gila.. pegel banget pinggang gue…” Ada juga yang nyolot ke temannya, “Lo ya dari tadi ngomong pinggang mau patah melulu. Ya sudah sih, kalau pinggang pegel kan tinggal duduk aja di bawah…”

Nah, lo! saya pun ikut tertawa mendengar keluhan, sambil diam-diam menegakkan punggung yang juga pegal.
 
Ya, seperti juga Axl, sesungguhnya para fans Gn’R pun menua. (f)
 
 
 
 
 
 
 


Yoseptin Pratiwi


Topic

#konser, #blog