Blog
Ketika Saya Harus Meninggalkan si Sayang

2 Apr 2017


Foto: Fotosearch

“Bagaimana rasanya menghitung hari?” tanya orang-orang kepada saya. Saya menjawabnya dengan senyuman. Sebuah senyuman yang saya harap bisa menutupi semua gejolak di hati saya. Beberapa hari terakhir ini perasaan saya tidak menentu. Saya resah! Bukan resah terhadap keputusan yang saya ambil. Meskipun ini keputusan terberat dalam hidup saya namun saya yakin dengan itu.
 
Saya resah karena harus meninggalkan si Sayang. Si Sayang tempat akar saya tertanam. Si Sayang yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Si sayang yang memberikan saya kehidupan, kenyamanan, dan kemapanan. Si Sayang yang saya sayang. Meninggalkannya membuat hati saya patah. Saya sedih.
 
Tapi saya harus melakukannya demi mengejar mimpi dalam hidup saya. Mimpi yang sudah bertahun-tahun menggerogoti saya. Mimpi yang terus datang di malam-malam saya dan berkata, “Kapan kamu akan mengejar saya?”. Saya tidak tahu apakah mimpi itu akan saya gapai atau tidak. Tapi saya lebih baik mencobanya dan gagal daripada menjalani sisa hidup saya dengan “what if”. Dengan mencoba, saya tidak akan berutang pada diri saya. No regret!
 
Selain itu, saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan saya. Dia tidak mungkin menempatkan saya pada posisi meninggalkan si Sayang jika bukan karena itu yang terbaik untuk saya. Tuhan itu baik! Kepercayaan saya kepadaNya adalah sumber kekuatan saya ketika saya harus membuat keputusan ini.  
 
Sayang, we may separated by distance but never in heart. So, this is not goodbye but see you again. Please smile for me from the other side. :) (f)

Baca Blog Saya Sebelumnya:

Yani Lauwoie


Topic

#blogeditor