Blog
Brad Pitt, Jennifer Aniston, dan Dia yang Datang Kembali

9 Oct 2016


Foto: Fotosearch

Kabar perceraian Brad Pitt – Angelina Jolie yang menyeret nama sang mantan istri, Jennifer Aniston menghantarkan saya pada sebuah pemikiran gila. Bagaimana bila Brad yang rapuh akhirnya menyadari bahwa Jen adalah orang yang tepat untuknya dan dia menyesal telah meninggalkan Jen untuk berpaling pada Angie. Bila situasinya seperti itu apakah Jen ingin Brad memberitahunya mengenai perasaan tersebut? Atau Jen lebih suka Brad menyimpan perasaan tersebut hanya untuknya?

Baca Juga: Jennifer Aniston Terseret dalam Kabar Perceraian Brangeline, Berikut Komentar Sang Suami, Justin Theroux
 
Mungkin kalau saya jadi Jen, Brad menyatakan perasaannya atau tidak menyatakan perasaannya sama tidak pentingnya. Karena toh saya (maksudnya di sini Jen) sudah punya keluarga. So I will stick to that commitment. Tapi bagaimana seandainya pria ini datang ketika pernikahan belum terjadi tapi akan segera dilakukan?
 
Saya pernah tuh, beberapa kali menonton film dengan setting-an seperti ini. Terlepas saya suka atau tidak dengan karakter pria yang datang dari masa lalu di film tersebut, saya biasanya suka kesal sendiri dengan tokoh ini.
 
Bagaimana tidak? Menurut saya perbuatan tersebut adalah perbuatan yang luar biasa egois! Apalagi bila pria tersebutlah yang dulu meninggalkan si wanita. Eh, saat si wanita sudah bahagia dan ingin memulai hidup baru, dia tiba-tiba datang kembali dan mengacaukan semuanya. Kalau sudah menonton film yang seperti itu, iiihhhh gregetannya bukan main. Egois egois egois!  
 
Tapi penilaian saya itu berubah ketika beberapa waktu lalu, ada pria dari masa lalu saya datang kembali. Dia tahu persis ruang yang dulu menjadi haknya sudah ditempati oleh penghuni lain. Tapi itu tidak menghentikannya untuk mencoba. Saya seharusnya kesal dengan keegoisannya tapi kok, bukan itu ya, yang saya rasakan.
 
Saya justru melihatnya sebagai pejuang yang berjuang untuk terakhir kalinya. Melihatnya sebagai orang yang mengusahakan sesuatu agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Lebih baik menyesal karena melakukan daripada tidak berbuat apa-apa. Untuk itu, saya tidak menganggap dia sebagai orang yang egois. I respect him for fighting something that he believes is worth to fight for.
 
Plus kehadirannya memberikan saya satu pelajaran baru, yaitu keyakinan akan sebuah pilihan. Bersama seseorang dengan alasan “karena hanya ada dia” tentu akan berbeda dengan “saya memang memilihnya”. :) (f)

Blog saya sebelumnya:


Yani Lauwoie


Topic

#BlogEditor