Blog
Benarkah Warga Metropolitan Kehilangan Refleks Kemanusiaan?

26 Jul 2017

The Good Samaritan

 

“Dunia menjadi tempat yang berbahaya, bukan karena orang melakukan kejahatan,

tapi karena orang hanya melihat dan tidak berbuat apa-apa” – Albert Einstein


Pernah dengar kisah The Good Samaritan? Membuat Anda bertanya-tanya, bukan? Bagaimana bisa orang melenggang pergi begitu saja saat melihat seseorang tergeletak sekarat di pinggir jalan raya. Padahal, bukan sembarang orang yang datang melintas, mereka adalah para imam dan pelayan agama – orang yang sehari-harinya mengajarkan norma-norma kebaikan, apa yang benar dan salah menurut aturan agama, serta bagaimana menerapkannya dalam keseharian. Ironis sekali!

Namun, yang kerap terjadi dewasa ini menurut saya sepertinya lebih keterlaluan. Di kisah orang Samaria yang baik hati beberapa orang terang-terangan tidak berhenti menolong pria malang itu. Sementara, di masa sekarang, orang memang tidak berlalu, tapi justru datang mengerumuni si korban. Tentunya, dengan alasan yang sama sekali berbeda, yaitu hanya demi mengobati rasa penasaran, berdecak kasihan, mengambil kamera ponsel, memotretnya, mungkin mengunggahnya ke media sosial, dan berlalu tanpa melakukan upaya pertolongan.

Persis seperti saat saya menjumpai sebuah kerumunan di salah satu momen car free day di ibukota. Seorang wanita muda usia awal 30-an yang tak sadarkan diri berada di tengahnya, di sekelilingnya sekitar belasan orang berdiri. Hanya melihat, berdecak kasihan, sibuk bertanya hal ikhwal kejadian, dan mengurangi jatah oksigen yang akhirnya membuat si wanita muda terbangun dengan napas tersengal-sengal. Sudah 15 menit ia berada di kondisi yang sama. Bagaimana jika ternyata ia kena stroke atau serangan jantung. Bagaimana jika kerumunan manusia minus insiatif ini menyebabkan si wanita muda kehilangan nyawanya karena pertolongan yang lambat? Ini gila!
 

 

Dua orang berpakaian seragam lapangan berjalan mendekat. Saling bergumam, lalu salah satunya mengeluarkan kamera ponsel, “klik..klik”, dan berjalan melipir menjauh. Berdiri di posisi semula. Sudah, cukup, itu saja. Saya hanya bisa tertegun melihat reaksi kedua aparat ini. Tapi apa boleh buat, saya sadar tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Mentalitas mereka mungkin telah begitu terbiasa dengan sistem, “do as told and business as usual” – lakukan sesuai perintah, dengan pola lama yang sudah-sudah. Kalau dalam daftar perintah atasan tidak ada edukasi tentang apa yang harus mereka lakukan saat terjadi kasus tak terduga seperti ini dan keluar dengan contingency plan – yaaa… jangan harap urgensi untuk mengambil tanggung jawab ini ada pada mereka. Titik.

Ini semua terjadi di era yang katanya serba instan, dan segala sesuatu bisa dijalankan dengan bantuan gawai hanya dari genggaman tangan. Termasuk di antaranya cara cepat memesan mobil dari jasa ojek online yang bisa mengantarkan si wanita ke rumah sakit terdekat. Hanya butuh beberapa detik, dan dengan biaya yang cukup murah, Rp6000 saja, mobil pesanan sudah meluncur ke lokasi. Lalu, apa yang membuat kerumunan penonton ini tidak bereaksi cepat untuk memberikan bantuan di situasi darurat seperti ini?

Penasaran, saya pun bergerilya di dunia maya, mencari studi literatur untuk menjelaskan respons masyarakat kerumunan tadi. Dengan kekuatan Google saat membaca kata kunci, saya berkenalan dengan dua psikolog sosial dari Amerika Serikat, Bibb Latane dan John Darley. Di tahun 1968, keduanya menelaah berbagai teori yang menjelaskan, mengapa seseorang tidak selalu mengambil aksi spontan dalam sebuah kejadian darurat. Penelitian mereka ini terinspirasi oleh kasus Kitty Genovese yang dibunuh dihadapan 38 saksi mata, pada Maret 1964, di pinggiran kota New York, AS.

“If They don’t act, we don’t act” – kalau orang lain tidak melakukan apa-apa, maka kami pun akan diam saja. Demikian hasil kesimpulan dari serangkaian eksperimen psikologi sosial yang dilakukan oleh Latane dan Darley saat itu. Rupanya, dorongan seseorang untuk melakukan aksi di situasi darurat sangat bergantung pada kehadiran orang-orang lain yang juga ada dan ikut menyaksikan peristiwa itu di lokasi yang sama. Teori ini dalam psikologi sosial dikenal dengan istilah "Bystander Effect".


Penjelasan ini membuat saya berefleksi ke kejadian di car free day saat itu. Benarlah, teori Latane dan Darley tersebut. Tak ada satu pun dari kerumunan orang itu yang berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Rata-rata mereka hanya saling melihat satu sama lain. Mungkin saling menunggu bagaimana orang lain bereaksi. Sampai kemudian seseorang membubarkan kerumunan untuk memberikan ruang bernapas bagi si wanita muda yang terkapar pingsan.

Namun, bagi saya pribadi, ini hanyalah soal melatih kepekaan hati yang selaras dengan kerja otak, yang kemudian menggerakkan otot-otot tubuh untuk mengambil respons melalui aksi. Muscle memory, itu adalah kata lainnya. Semakin sering kita melatih hati untuk peka melihat gejala sosial di sekeliling, dan semakin kita melatih diri untuk melakukan sesuatu, sekecil apapun itu, maka semakin responsif tubuh kita untuk bergerak saat peristiwa serupa terjadi.

Ini yang saya pelajari dari teladan ibu saya, sejak saya masih kecil. Beliau memanggil wanita gila yang berjalan telanjang di kompleks perumahan kami, memandikannya, mengajak saya untuk tidak takut dan ikut menggosok tubuh si wanita hilang ingatan itu dengan sabun, mencuci rambutnya yang panjang dengan sampo. Kemudian memakaikan baju yang layak serta menyisir rambutnya.

“Nuwun...(terima kasih dalam bahasa Jawa)” ucap si wanita gila. Hanya sepatah, tapi ucapan ini membekas begitu dalam di ingatan saya. Segila apapun seseorang, ia masihlah manusia yang punya rasa dan harga diri. “Jangan biarkan laki-laki menyentuh tubuhmu. Lawan dan lari,” pesan ibu saya sebelum melepas si wanita pergi.

Di lain kesempatan, ibu saya juga sering mengundang penjaja keliling, terutama yang berjualan dengan berjalan kaki untuk mampir ke rumah. Terkadang ia membeli dagangan mereka, tapi sering juga ia hanya meminta mereka mampir. Ibu akan meminta saya mengambil sebotol air dingin dan gelas, serta makanan kecil untuk si bapak tua penjaja keliling yang disambut dengan ucapan syukur. "Sebisa mungkin, jadilah orang yang selalu siap memberikan tumpangan bagi yang membutuhkan," pesan ibu. 

Di tengah kegilaan dunia yang berpusat pada diri sendiri, saya berjuang melatih diri terhadap muscle memory yang diwariskan ibu kepada saya. Tak usah mempedulikan apakah orang lain akan menilai kita sok pahlawan. Jika itu bergantung pada kita, untuk sebuah kebaikan yang kita percayai, mulailah bergerak! Jangan tunggu orang lain. (f)



Naomi Jayalaksana


Topic

#blogeditor , #Psikologi, #PsikologiSosial, #gejalasosial

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.