Blog
Antara Goblin, Patah Hati, dan Hilang Ingatan

26 Feb 2017


Foto: Dok. tvN

Belum lama ini saya menamatkan serial drama Korea Goblin yang diperankan oleh Gong Yoo dan Kim Go-eun. Sebenarnya saya nyaris tidak melanjuti drama ini karena merasa bosan di bagian awal episode pertama. Tapi rekan kerja saya, Vini (yang meracuni saya untuk nonton drama Korea) bilang untuk melanjutkan karena akan semakin menarik di episode-episode berikutnya. Siapa sangka drama ini melayangkan ingatan saya ke masa-masa kelam patah hati. 

Pertahanan air mata saya hancur ketika saya sampai di episode 13, saat sang tokoh utama Goblin/Kim Shin (Gong Yoo) hilang dari bumi karena pedang di dadanya dicabut oleh wanita yang dicintainya Ji Eun-tak (Kim Go-eun). Kayaknya air mata ini turun bukan semata-mata perpisahan sementara antara kedua tokoh tersebut tapi merupakan akumulasi dari adegan-adegan yang menggugah emosi yang dijalin dengan baik oleh penulis naskah drama ini, Kim Eun-sook.

(Baca sinopsisnya di sini untuk sedikit bayangan tentang drama ini)

Episode berikutnya tidak kalah menggugah emosi saya. Saat ingatan Ji Eun-tak dihapus agar dia tidak merasakan kesakitan dan bersalah akan menghilangnya Goblin. Selama sembilan tahun Ji Eun-tak lupa akan bagian hidupnya bersama Goblin namun di saat yang bersamaan dia tidak tahu mengapa dia selalu merasa sedih dan galau ketika hujan turun. Sebelum perpisahannya Goblin berjanji kepada Ji Eun-tak bahwa dia akan datang menemuinya, salah satunya sebagai hujan. 

Kalau dipikir pakai logika, drama fantasi ini memang tidak masuk akal. Tapi ada potongan-potongan dalam ceritanya yang sangat related sama cara kita menjalani hidup. Salah satu yang paling mengena di saya adalah perihal hilangnya ingatan Ji Eun-tak. Menurut drama ini, kadang Tuhan membuat kita hilang ingatan dengan tujuan memberikan kedamaian dalam hidup kita. Sebagai seseorang yang pernah mengalami patah hati luar biasa berat, saya setuju dengan hal itu. 

Menurut saya, yang paling berat dari kegagalan hubungan itu bukanlah ketika harus berpisah dengan dia yang pernah atau masih dicintai namun justru masa-masa setelahnya. Masa-masa ketika saya tidak bisa mengatur pikiran saya sendiri untuk tidak memikirkannya. Rangkaian kenangan itu seolah-oleh berlomba untuk terus diputar bagaikan film meskipun saya berteriak kepada mereka untuk tidak datang. Kenangan yang merusak kedamaian hidup saya saat itu.

“Ma, Yani mau dihipnotis saja. Biar hilang ingatan,” pinta saya saat itu kepada Mama saya. Sebegitu mengganggunya kenangan itu sampai saya ingin dia hilang dari hidup saya. Saya tidak mau lagi mengenangnya, tidak mau lagi mengingatnya. Saat itu, saya ingin hilang ingatan seperti Ji Eun-tak. 

Namun saya mengalami kejadian yang berbeda dengan Ji Eun-tak. Saya tidak bisa hilang ingatan dan saya harus melalui hari demi hari, bulan demi bulan dengan tertatih-tatih. Tapi ketika akhirnya bulan demi bulan itu berganti dengan tahun demi tahun, kenangan itu tidak lagi menyakitkan. Kenangan itu tidak lagi menyedihkan. Seperti yang bapak saya bilang, itu hanya bagian dari perjalanan hidup saya.

Setelah itu, saya mengalami patah hati-patah hati lainnya. Tapi tidak pernah sekalipun saya terpikir lagi untuk dihipnotis. Bahkan kalau ada Grim Reaper (Lee Dong-wook) yang menawari saya untuk dihilangkan ingatan karena patah hati, saya pasti akan menolak. Saya tetap membutuhkan tiap kenangan dari masa lalu saya. Saya yang sekarang terbentuk dari pengalaman masa lalu saya, dan saya suka dengan saya yang sekarang. Begitu juga dengan hubungan saya dengan pasangan saat ini. Kadang pria dari masa lalu tetap saya butuhkan sebagai pengingat betapa beruntungnya saya memiliki pria yang sekarang. :) (f)

Baca blog saya sebelumnya:


Yani Lauwoie


Topic

#blogeditor

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.