
Foto: Dok. Coca Cola
Masalah sampah telah menjadi isu internasional selama beberapa tahun belakangan ini. Komitmen di tingkat global bukan lagi soal bagaimana menanggulangi sampah, tapi menerapkan kampanye world without waste. Dalam hal ini, penanganan masalah sampah dilakukan secara holistik, sampah bisa diolah kembali menjadi bahan baku produk yang kemudian menggerakkan roda ekonomi yang baru.
Di Indonesia, sampah menjadi permasalahan sendiri. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan saat ini sampah Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan 64 persennya berakhir di TPA. Pemerintah pun mengeluarkan Perpres No. 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, dengan menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70% pada tahun 2025. Pemerintah juga membuat komitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025.
Namun, penanggulangan sampah di masyarakat relatif masih harus dimulai dari hal mendasar, yaitu proses pemilahan sampah. Budaya memilah sampah di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data BPS, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga masih berada di angka 18,84%. Ini artinya, angka rumah tangga yang tidak memilah sampahnya masih relatif tinggi.
Hal tersebut diakui oleh Waste4Change, sebuah lembaga pengolahan sampah, yang selama ini berhadapan langsung dengan masalah sampah dari hulu hingga hilir. “Di mal kita bisa melihat tempat sampah yang sudah terbagi-bagi. Tapi kalau dilihat dalamnya, semua sampah itu tetap saja bercampur. Orang tidak memperhatikan ke mana sampah mereka buang. Belum lagi ketika sampah diangkut oleh truk sampah, semuanya kembali menyatu,” ungkap Annisa Paramitha, dari Waste4Change.
Menurut Ratri Wuryandari, CEO Ancora Foundation, salah satu lembaga yang juga bergerak dalam pengolahan sampah, dibutuhkan inspirasi positif dan proses pembelajaran yang konsisten untuk mengubah perilaku masayarakat dalam hal memilah sampah. “Banyak dari generasi milenial saat ini sebenarnya sudah punya keprihatinan terkait sampah, namun terkadang mereka tidak tahu harus mulai dari mana,” ungkap Ratri.
Pelajar di Jakarta harus didorong untuk memulai gerakan memanfaatkan sampah. Lewat program Plastic Reborn, Coca Cola mengajak pelajar dan mahasiswa mengumpulkan botol kemasan plastik minuman di di lebih dari 100 titik Sekolah Menengah Atas (SMA) & Universitas di kawasan Jakarta.
"Kemasan plastik bekas pakai sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai tinggi, sehingga dapat tercipta sebuah lingkaran ekonomi yang berkelanjutan,” kata Titie Sadarini, Chief Executive Coca-Cola Foundation Indonesia.
Sampah botol kemasan plastik yang terkumpul akan diproses menjadi serpihan flakes, untuk kemudian menjadi bahan dalam membuat tas multifungsi bersama Greeneration Indonesia. Start up yang fokus menciptakan lebih banyak green merchandise akan mendesain tas multi fungsi dari sampah botol PET ini.
Terlihat stylish, tas ini dapat digunakan oleh pria maupun wanita, menampung barang-barang penting seperti dompet, telepon genggam, kartu identitas, charger dan kabel, hingga buku catatan. Dari hasilnya, tampak sampah botol plastik dapat ‘dihidupkan kembali’ menjadi berbagai macam barang, seperti salah satunya adalah tas yang fungsional dan cool – sesuatu yang mungkin belum terbayangkan sebelumnya.
Dalam enam bulan ke depan, diharapkan minimum 5 ton sampah kemasan plastik dapat terkumpul untuk kemudian dikelola dan diproses menjadi bagian dari bahan pembuat tas multifungsi. Targetnya adalah 5000 tas yang akan dipasarkan di e-commerce.
Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan, Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI, menyambut baik inisiatif ini.
“Pengelolaan Sampah sudah masuk tahun kesepuluh, namun permasalahan sampah masih menjadi isu yang serius. Karenanya yang sangat dibutuhkan adalah kepedulian serta sinergi keterlibatan semua aktor, termasuk generasi muda, dalam hal ini anak-anak sekolah dan mahasiswa sebagai generasi penerus kita.“ (f)
Baca Juga:
Coca Cola Couture
Febriarti Khairunnisa, Mengubah Wajah Lombok
Di Indonesia, sampah menjadi permasalahan sendiri. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan saat ini sampah Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan 64 persennya berakhir di TPA. Pemerintah pun mengeluarkan Perpres No. 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, dengan menargetkan pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah sebesar 70% pada tahun 2025. Pemerintah juga membuat komitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025.
Namun, penanggulangan sampah di masyarakat relatif masih harus dimulai dari hal mendasar, yaitu proses pemilahan sampah. Budaya memilah sampah di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data BPS, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga masih berada di angka 18,84%. Ini artinya, angka rumah tangga yang tidak memilah sampahnya masih relatif tinggi.
Hal tersebut diakui oleh Waste4Change, sebuah lembaga pengolahan sampah, yang selama ini berhadapan langsung dengan masalah sampah dari hulu hingga hilir. “Di mal kita bisa melihat tempat sampah yang sudah terbagi-bagi. Tapi kalau dilihat dalamnya, semua sampah itu tetap saja bercampur. Orang tidak memperhatikan ke mana sampah mereka buang. Belum lagi ketika sampah diangkut oleh truk sampah, semuanya kembali menyatu,” ungkap Annisa Paramitha, dari Waste4Change.
Menurut Ratri Wuryandari, CEO Ancora Foundation, salah satu lembaga yang juga bergerak dalam pengolahan sampah, dibutuhkan inspirasi positif dan proses pembelajaran yang konsisten untuk mengubah perilaku masayarakat dalam hal memilah sampah. “Banyak dari generasi milenial saat ini sebenarnya sudah punya keprihatinan terkait sampah, namun terkadang mereka tidak tahu harus mulai dari mana,” ungkap Ratri.
Pelajar di Jakarta harus didorong untuk memulai gerakan memanfaatkan sampah. Lewat program Plastic Reborn, Coca Cola mengajak pelajar dan mahasiswa mengumpulkan botol kemasan plastik minuman di di lebih dari 100 titik Sekolah Menengah Atas (SMA) & Universitas di kawasan Jakarta.
"Kemasan plastik bekas pakai sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai tinggi, sehingga dapat tercipta sebuah lingkaran ekonomi yang berkelanjutan,” kata Titie Sadarini, Chief Executive Coca-Cola Foundation Indonesia.
Sampah botol kemasan plastik yang terkumpul akan diproses menjadi serpihan flakes, untuk kemudian menjadi bahan dalam membuat tas multifungsi bersama Greeneration Indonesia. Start up yang fokus menciptakan lebih banyak green merchandise akan mendesain tas multi fungsi dari sampah botol PET ini.
Terlihat stylish, tas ini dapat digunakan oleh pria maupun wanita, menampung barang-barang penting seperti dompet, telepon genggam, kartu identitas, charger dan kabel, hingga buku catatan. Dari hasilnya, tampak sampah botol plastik dapat ‘dihidupkan kembali’ menjadi berbagai macam barang, seperti salah satunya adalah tas yang fungsional dan cool – sesuatu yang mungkin belum terbayangkan sebelumnya.
Dalam enam bulan ke depan, diharapkan minimum 5 ton sampah kemasan plastik dapat terkumpul untuk kemudian dikelola dan diproses menjadi bagian dari bahan pembuat tas multifungsi. Targetnya adalah 5000 tas yang akan dipasarkan di e-commerce.
Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan, Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI, menyambut baik inisiatif ini.
“Pengelolaan Sampah sudah masuk tahun kesepuluh, namun permasalahan sampah masih menjadi isu yang serius. Karenanya yang sangat dibutuhkan adalah kepedulian serta sinergi keterlibatan semua aktor, termasuk generasi muda, dalam hal ini anak-anak sekolah dan mahasiswa sebagai generasi penerus kita.“ (f)
Baca Juga:
Coca Cola Couture
Febriarti Khairunnisa, Mengubah Wajah Lombok
Faunda Liswijayanti
Topic
#sampah


