BizNews
Gaya Hidup Refill, Alternatif Mengurangi Sampah Plastik

22 Jun 2024

Diskusi para pemangku kepentingan tentang gaya hidup refill yang ramah lingkungan. Foto: Belva

Tahukah Sahabat Femina kalau di tahun 2023 Indonesia menghasilkan 19,5 juta ton sampah, dengan 3,6 juta ton di antaranya adalah sampah plastik?

Masalah sampah, terutama sampah plastik, adalah pekerjaan rumah bersama kita sebagai pemangku kepentingan planet ini. Konsep refill dipercaya sebagai salah satu solusi mengurangi sampah plastik, yang perlu terus dieksplorasi, diuji coba, dan didorong penerapannya.

Dalam rangka Hari Isi Ulang Sedunia tanggal 16 Juni, Alner, Unilever, dan EY bersama Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris merayakan kemajuan Project TRANSFORM-Alner.

Selama satu tahun, projek ini telah memberdayakan 675 UMKM untuk mempromosikan gaya hidup belanja isi ulang (refill) dan mengurangi 4.412 kg kemasan plastik baru.

UMKM ikut mempromosikan gaya hidup belanja isi ulang dengan menyediakan produk kemasan besar

Pencapaian ini dibahas dalam diskusi Refill Station: Berdayakan UMKM, Dorong Gaya Hidup Belanja Ramah Lingkungan, yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan yang membahas alternatif pengurangan dan penanganan sampah plastik.

Alner, start-up solusi penyedia sistem guna ulang kemasan produk FMCG atau barang konsumsi, hadir sebagai salah satu pionir fasilitator kemasan refill dengan misi menangani limbah kemasan sekali pakai mulai dari hulu. 

Sejak 2023, Alner menjalankan Project TRANSFORM-Alner yang menguji opsi refill yang inovatif pada produk-produk FMCG dengan menyasar ke masyarakat menengah bawah. 

Berbeda dari solusi refill lainnya, Alner menggunakan low-tech refill (tanpa mesin isi ulang). Dengan proses manual dari jerigen langsung ke botol konsumen, pendekatan ini menjadi lebih efisien secara biaya dan lebih mampu untuk di-scale up.

Manfaat refill tak hanya pada aspek lingkungan, tapi juga ekonomi dan sosial. Refill mendorong masyarakat untuk beralih dari kebiasaan konsumtif dan memahami dampak sampah plastik. Selain itu, komunitas bank sampah dan komunitas refill memperkuat ikatan sosial dan gotong royong. 

Penanganan masalah sampah ini memang harus dilakukan secara kolaboratif dan kolektif dengan mengembangkan komunitas sehingga menjadi sebuah gerakan yang masif. 

Namun, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti pengolahan sampah saset yang sulit didaur ulang, dan perubahan perilaku konsumen yang membutuhkan waktu dan edukasi.

Pemerintah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup juga memberikan dukungan penuh untuk menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang tujuan akhirnya adalah mengubah sampah menjadi barang yang kembali bernilai ekonomis. 

Hal ini semua nantinya bisa menjadi kerangka pikir yang lebih baik akan konsep less plastic, better plastic, atau no plastic, dan pasti bisa terwujud tak lama lagi.

Baca juga:
Lindungi Penyu Penjaga Ekosistem Lautan Kita, dan Ketahui 7 Fakta Ini!
7 Langkah Sederhana yang Bisa Kita Lakukan untuk Menjaga Lingkungan
Jadi Pahlawan Lingkungan Dimulai dengan Memakai Tas Belanja Ramah Bumi
 

Belva Khoirunnisa Sasikirana


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?