BizNews
Di Jogja, Komunitas Slow Food Nikmati Beras Warisan Kerajaan

3 Jan 2019

Tiap 10 Desember, komunitas Slow Food di 160 negara berterima kasih ke bumi. Peringatan ini dinamai Terra Madre Day, terjemahan untuk ‘bumi pertiwi’. Tema besar tahun ini adalah Thanks to Farmer and Save our healthy Soil in Climate Change Era. Merayakannya menjadi penting, kala teknologi memacu kehadiran pangan instan dan percepatan produksi yang rentan berdampak ke lingkungan. 
 
Indonesia punya Yogyakarta yang selalu berdetak dengan kegiatan Slow Food-nya. Menurut 
Amaliah, anggota Slow Food Yogyakarta dan staf peneliti makanan tradisional dan keragaman pangan lokal Nusantara - Pusat Studi Pangan & Gizi, Universitas Gadjah Mada, anggota Slow Food Yogyakarta memang terbilang aktif dan kompak. Mereka menguatkan reputasi Jogja sebagai kota dengan komunitas sehat yang terhitung solid. Dari komunitas Yogya pula Slow Food pusat di Italia banyak bergantung untuk mencari perwakilan yang bisa unjuk gigi di eksibisi Terra Madre and Salone Del Gusto yang berhelat dua tahun sekali di Kota Turino. 

Dalam peringatan yang dilakukan di Taman Bunga Erista kali ini dipilih tema Tera Rasa Rice . Beras sembada hitam dan merah sukses menjadi daya tarik acara. Padi dengan ketinggian 1,5 m ini memerlukan usia tanam yang lebih panjang dari 4-5 bulan, sehingga tingkat produktivitasnya rendah. Tak heran, b
ibit unggul dari Sleman ini diutamakan sebagai konsumsi kalangan kerajaan. 

Beras tersebut ditanam oleh kelompok tani Rukun Duwetsari Pakembinangun. Peneliti benih BPTP Provinsi DI Yogyakarta, Dr Ir Kristamtini, menyebut wilayah Desa Duwetsari Pakembinangun di lereng Gunung Merapi berlahan subur. Lokasinya di relungan sumber mata air yang dikelola dengan sistem pertanian yang bersinergi dengan alam. Pupuk dan pestisidanya alami. 

Salah satu keistimewaannya, beras sembada hitam punya kandungan antosianin 939,93 ppm dan kandungan Fe (zat besi) adalah 150.26. Antosianin dan Fe memiliki manfaat seperti membantu meningkatan imunitas (anti aging, membersihkan kolesterol dalam darah, mencegah anemia). Indeks Glikemik-nya pun terbilang rendah, 19,04, sehingga baik bagi penderita diabetes melitus. 


Beras endemik Sleman ini sudah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. 

Dosen Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, DR Ir Dwi Larasati Fibri, menilai kandungan gula total dan amilosa membuat kedua beras cocok disantap bersama hidangan lokal yang sedikit berkuah. Semua mencobanya di dalam lunch rancangan anggota Slow Food, Lilly T. Erwin. Ia pemilik guesthouse dan tempat kursus terkenal, Omah Garengpoeng.

Berputar diskusi seputar kelangkaan petani dan kesuburan lahan pertanian. Faktanya, eksploitasi alam dan lahan yang tak terencana memancing bencana alam dan terpinggirkannya lahan pertanian. Komunitas juga tak ingin beras endemik ini hilang tak berbekas ditempa waktu. (f)
 

 
Baca juga:

Petualangan Rasa Lewat Utak-Atik Warna dan Aroma
Lapis Legit Cempedak Keluarga Sastrawinata
 


Trifitria Nuragustina


Topic

#slowfoodindonesia, #slowfood, #terramadre