
Pipiltin Cocoa baru-baru ini mendirikan pabriknya di daerah Gunungsindur, Bogor, diresmikan oleh Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI. Pemerintah punya factory sharing, program untuk memfasilitasi UMKM dan artisan dengan teknologi agar tidak kalah saing dengan industri skala besar.
KemenkopUKM juga berafiliasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghadirkan papan akselerasi bagi UKM dengan aset sebesar Rp50 miliar untuk dapat melakukan IPO; kini sudah ada empat UKM pangan IPO. Selain itu, KemenkopUKM menawarkan solusi kerja sama dengan SCF (Securities Crowdfunding) dalam membantu koperasi atau UKM dengan aset kurang dari Rp 50M.
Diskusi panel Penguatan Rantai Pasok Fine Flavor Cocoa dalam Perkembangan Pasar dari Biji hingga Cokelat Batangan” digelar setelah pabrik yang menyusul mini factory di Jakarta Selatan ini dibuka. Gita Syahrani (Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) didapuk menjadi moderator, sosok yang banyak berbicara penyelamatan ekosistem.
Diskusi seru ini menetapkan misi bahwa Fine Flavor Cocoa untuk dunia internasional diawali dalam bentuk koperasi yang memiliki jiwa inovasi. Menurut Agung Widiastuti dari Yayasan Kalimajari (NGO untuk pengembangan kakao berkelanjutan), koperasi dan petani kakao tidak mampu bekerja sendiri untuk dapat membuktikan bahwa jenama cokelat lokal tidak kalah saing dengan jenama asing.
Pabrik ini memang tak sekadar pembesaran kapasitas produksi. Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla, menyebutkan bahwa Pipiltin ingin mengembangkan platformnya sebagai penggerak kolaborasi ragam partner. Gotong-royong dari hulu ke hilir menggandeng para pemangku kepentingan adalah kunci dari membenahi rantai pasok. Apalagi kini petani sedang menghadapi harga kakao yang fluktuatif.
“Proses kolaborasi pada media cokelat juga menyentuh isu lingkungan dengan mencegah adanya deforestasi,” ujar Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat. Selain petani Berau, Pipiltin Cocoa baru saja merangkul petani di Mahakam Ulu. Cokelatnya bertahan dengan perkebunan cokelat rakyat dan menjaga konservasi alam dari deforestasi.
Ni Made Ayu Marthini, Deputi Pemasaran Kemenparekraf RI, memujikan gaya Pipilton bernarasi cokelat. Cerita produk yang apik perlu disebutnya contoh marketing keren bagi pebisnis lokal dan menggerakkan pariwisata. Catharina Widjaja, Managing Director PT Alun-Alun Indonesia, juga bangga bahwa Pipiltin memilih retailnya sebagai gerai perdana untuk varian Cokelat Cracks yang inovatif. (f)
Baca juga:
Beda Baked Mooncake dan Snow Skin Mooncake
Transformasi DOEUN, dari Katering Korea Menjelma Jadi Restoran Upscale
5 Sajian Korea Ini Juga Unik, Ada yang Sudah Dicoba?
Trifitria Nuragustina
Topic
#kuliner




