BizNews
15 Tahun Sokola Rimba Merayakan Keberagaman

28 Sep 2018


Sokola Rimba, 15 tahun merayakan keberagaman pendidikan di Indonesia./Foto: NJL
 
Tembang hutan dalam bahasa orang Kubu memecah keheningan ruang acara GoetheHaus, Jakarta, Rabu (26/09). Pelantunnya adalah Pengendum Tampung (33), yang sore itu hadir dengan mengenakan pakaian cawat khas orang rimba.
 
Lagu tersebut sekaligus membuka rangkaian acara peringatan 15 tahun Sokola Rimba mendidik manusia utuh di pelosok pedalaman dan wilayah-wilayah terpencil lainnya di nusantara. Indonesia memiliki sekitar 70 juta masyarakat adat (perkiraan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). Mereka ini membutuhkan pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan zaman.
 
Berawal dari pedalaman hutan Bukit Dua Belas, Jambi, kini Sokola Rimba telah menjangkau lebih dari 10.000 murid dan 14 daerah lainnya, di antaranya Aceh, Makassar, Bulukumba, Jember, Flores, Halmahera, Asmat, dan terakhir, yang sedang dipersiapkan adalah Sumba.
 
Pengendum adalah salah satu dari murid Sokola Rimba di awal berdirinya 15 tahun lalu di pedalaman hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Usianya ketika itu baru 8 tahun. Meski kedua orang tuanya melarang, Pengendum nekat menempuh perjalanan lima jam menyusur hutan untuk bisa belajar bersama anak-anak rimba lainnya.
 
“Kini, ia tidak hanya bisa membaca dan menulis, tapi Pengendum melakukan tugas advokasi untuk membela hak-hak orang rimba sebagai bagian dari warga negara Indonesia,” ungkap guru sekaligus pendiri Sokola Rimba Butet Manurung, bangga dengan pencapaian muridnya itu.


Seluruh tim Sokola Rimba dan pendukung acara peringatan 15 tahun Sokola Rimba/Foto: KIR
 
Lima belas tahun lalu Butet merintis Sokola Rimba bersama keempat rekan sevisinya, yaitu Oceu Apristawijaya, Dodi Rokhdian, Aditya Dipta Anindita, dan Willy Marlupi. Butet menekankan bahwa masyarakat adat bukanlah masyarakat marginal yang miskin, terbelakang, dan bodoh.
 
“Mereka adalah masyarakat yang bahagia dengan hidupnya. Hidup berkecukupan dan kaya dengan sumber daya alam serta kearifan lokal yang sesuai dengan kondisi lingkungan mereka. Cara pandang yang salah menyebabkan bantuan dan program pada masyarakat adat seringkali tidak tepat,” tegas Butet.

Menurut Butet kita tidak bisa menerapkan standar kehidupan modern untuk mengukur kehidupan masyarakat adat. Bagaimanapun, mereka tetap perlu dibantu penyediaan pendidikan untuk mempertahankan hak-hak sebagai masyarakat adat dan untuk bertahan hidup menghadapi tantangan zaman.
 
“Pada saat pertama kami mengajar di komunitas Orang Rimba, kami mengajarkan baca dan tulis. Namun, orang Rumba bertanya, ‘Dengan baca tulis apa kita bisa usir para pembalak liar dan pembukaan hutan untul lahan sawit?’,” kisah Butet.
 
Sejak saat itu, ia menyesuaikan kurikulum pendidikan yang menjawab kebutuhan masyarakat adat. Ia membagi kurikulum lokal tersebut ke dalam tiga pondasi pembelajaran, yaitu: Pelestarian Lingkungan, Hubungan Manusia dengan Sang Pencipta, Hubungan Manusia dengan Sesamanya.
 
Sokola Rimba juga tidak menutup kenyataan bahwa saat ini ada perkembangan teknologi seperti adanya telepon selular dan internet. Justru, Sokola Rimba membekali mereka dengan pengetahuan untuk menyaring pengaruh luar. Sehingga, mereka akan memilih dan tidak asal mengadopsi semua.
 
“Mereka ada yang memakai telepon selular, atau naik motor, tapi sampai di mana penggunaannya akan mendapat kritik juga dari lingkungan mereka sendiri. Kemampuan untuk memfilter ini yang mereka dapatkan dari Sokola Rimba,” lanjut Butet. (f)


Baca Juga:

Sokola Rimba
Prisia Nasution Bahagia Tanpa Sinyal Hand phone


Naomi Jayalaksana


Topic

#Pendidikan, #Keberagaman