Awal Agustus lalu, Malala Yousafzai (17) mengunjungi markas Facebook di Menlo Park sebagai bintang tamu di acara interaktif Facebook Live, yang memungkinkan pengguna Facebook untuk berpartisipasi dalam perbincangan dan mendengar langsung jawaban dari figur publik yang mereka sukai.
Tokoh muda inspirasional asal Pakistan ini kritis bersuara untuk memperjuangkan pendidikan, hak-hak perempuan termasuk menentang tindakan kelompok militan. Sikap lantangnya ini berbuah upaya pembunuhan kelompok Taliban terhadap dirinya tahun 2012 silam. Malala ditembak di kepala saat perjalanan pulang menggunakan bus sekolah. Pasca kesembuhannya setahun kemudian, Malala berpidato di depan Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Pidatonya memuat tiga isu penting, yaitu hak perempuan, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan.
Dalam acara yang dimoderatori oleh Sheryl Sandberg ini, Malala menjawab sejumlah pertanyaan, termasuk dari Melinda Gates dan Arianna Huffington. "Jangan merasa bahwa suara anak muda tidak akan memberikan pengaruh pada dunia. Yang penting jangan menyerah. Gunakan media sosial sebagai platform untuk mengungkapkan pendapat kita dan juga menyuarakan pendapat orang-orang yang tak terdengar, melalui diri kita. Untuk itulah penting untuk menggunakan media sosial untuk hal baik, terutama untuk mengusahakan pendidikan dan keadilan," ungkap aktivis remaja pendiri Malala Fund ini.
Dalam wawancara berdurasi lebih dari setengah jam itu, Malala juga menjawab pertanyaan seputar berbagai topik berkaitan dengan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan, upayanya agar dunia memerhatikan anak perempuan yang ditangkap Boko Haram serta bagaimana masyarakat dunia bisa menggunakan media sosial untuk berbagai hal positif.
Sheryl dan Malala mengakhiri perbincangan dengan mengajak semua orang untuk berbagi pemikiran mereka di Facebook melalui hastag #strongerthan.
Woro Hartari Trianti
FOTO: AFP



