Celebrity
Karen Mok: Antara Kamera dan Kebun Anggur

17 Mar 2013


Sebagai aktris, Karen juga tidak ingin berhenti berkarya. Tahun ini, ia  bisa menikmati aktingnya dalam sebuah film yang disutradarai Keanu Reeves, Man of Tai Chi. "Lagi-lagi, film ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Rasanya semua wanita pernah bermimpi bisa bekerja bersama Keanu. Apalagi, ini merupakan film perdananya sebagai sutradara. Benar-benar kehormatan besar bagi saya bisa terlibat dalam film ini," ucapnya, bangga.
   
Di film yang juga menampilkan aksi laga aktor Indonesia Iko Uwais ini, ia berperan sebagai polisi wanita Hong Kong. "Sepertinya peran itu sesuai dengan karakter wajah saya yang tangguh," komentarnya, tertawa. Meski begitu, Karen tidak pernah membatasi diri dengan hanya menerima peran tertentu. Sebagai aktris, ia senang mencoba memerankan berbagai karakter yang bisa memperkaya keterampilan aktingnya.
   
Sepanjang karier aktingnya sejak tahun 1994, Karen telah bermain di lebih dari 40   judul film. Bahkan, beberapa di antaranya pernah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan, seperti Best Supporting Actress di Hong Kong Film Award 1996 (Fallen Angels), nominasi Best Actress di Hong Kong Film Award 1997 (God of Cookery), dan nominasi Best Actress di Hong Kong Film Award 2006 (Wait 'Til You're Older).
   
Ia juga merasa beruntung bisa bekerja sama dengan banyak nama besar di dunia akting, seperti Jackie Chan, dalam Around The World in 80 Days, dan Stephen Chow, dalam Shaolin Soccer. "Menjadi performer adalah passion saya sejak kanak-kanak. Dan bisa bekerja sama dengan banyak tokoh besar merupakan salah satu pencapaian yang membanggakan," ujar pencinta film laga ini.
   
Hal inilah yang memberinya energi besar untuk selalu berkarya. Ia tidak memungkiri, padatnya jadwal sering kali membuatnya merasa letih dan jenuh. Belum lagi, sebagai selebritas, sosoknya memiliki magnet tersendiri bagi wartawan infotainment. Tidak ada lagi ruang privat tersisa dalam hidupnya. "Saat masih muda, saya sering kali merasa kecewa jika membaca berita tentang diri saya di tabloid gosip. Tapi kemudian saya berpikir,  hari ini akan berakhir dan besok akan ada berita lain di tabloid itu. Untuk apa saya memusingkannya?" paparnya, bijak.
   
Pengalaman panjang di industri hiburan telah mendewasakannya. "Pada akhirnya, saya menjadi cukup dewasa untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Anda tidak bisa memercayai bahwa semua hal itu benar. Anda juga tidak bisa selalu mengartikan semua hal secara harfiah," tuturnya.
   
Rasa syukur atas apa yang dimilikinya juga memberi kekuatan dalam menghadapi berbagai hambatan dalam perjalanan kariernya. "Terkadang saya letih dan merasa tertekan. Tapi, saat  terbangun dari tidur, saya seperti diingatkan pada apa yang saya miliki. Saya katakan pada diri sendiri, 'Ayolah, Karen! Apa yang mau kamu keluhkan? Kamu punya pekerjaan yang kamu cintai sehingga kamu bahkan tidak pernah merasa sedang bekerja.' Jadi, bagaimana saya menyikapi permasalahan, sangatlah penting," ungkapnya.
   
Tak mengherankan, ia juga tidak pernah memusingkan persaingan yang ketat di industri hiburan ini. Munculnya talenta muda tidak pernah membuatnya resah dan merasa terancam kehilangan popularitas. "Jika seseorang ingin bekerja di industri hiburan karena mengira ini dunia yang glamor, sebaiknya ia berpikir ulang. Seperti di bidang lainnya, kita harus bekerja keras untuk bisa sukses di industri hiburan. Dan kita butuh waktu serta proses yang panjang untuk bisa mencapai kesuksesan itu. Mungkin, jika beruntung, kita bisa sukses secara cepat. Tapi, kita butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk mempertahankannya," paparnya.
   
Ketika ditanya siapakah yang paling berperan terhadap kesuksesannya, ia menyebut bahwa sang ibulah yang paling berjasa dalam hidupnya. "Beliau adalah suporter terbaik saya. Saya beruntung memiliki orang tua yang memberi saya kesempatan untuk belajar banyak hal saat saya kecil," ucapnya, penuh syukur.
   
Apa yang ia pelajari sebagai ekstrakurikuler saat masih kanak-kanak ternyata berperan besar dalam perjalanan kariernya. Juga memberi pengaruh terhadap perkembangan artistik serta musikalnya, hingga ia akhirnya berhasil menemukan passion-nya di bidang ini.
   
Selain belajar piano, ia rupanya juga mempelajari ghuzeng secara serius sejak masih remaja. "Saya belajar memainkan ghuzeng selama enam tahun sebelum saya meninggalkan Hong Kong untuk kuliah di United World College of Adriatic di Italia," paparnya.
   
Nilai-nilai hidup yang ditanamkan orang tuanya pula yang menjadi acuan hidupnya hingga saat ini. Nilai-nilai untuk selalu melakukan yang terbaik dan bersyukur atas apa yang diperolehnya. "Ini pekerjaan yang saya cintai, sudah sepatutnya saya mensyukurinya. Karena, saya sendiri tidak bisa membayangkan pekerjaan lain selain ini," tutur Karen, yang membayangkan menghabiskan masa tua di kebun anggur di sebuah pedesaan di Italia.




 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.