Health & Diet
Jantung Koroner

2 Jul 2013


Selama ini banyak orang menganggap bahwa penyakit jantung identik dengan penyakit pria. Padahal, faktanya, 8,1% wanita di Indonesia menderita gangguan jantung, ketimbang pria yang ‘hanya’ sebesar 6,2% (data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI 2007). Fakta serupa juga terungkap di Amerika Serikat, di mana 1 dari 3 wanita di Amerika meninggal karena penyakit jantung koroner. Risiko terserangnya pun  makin meningkat pada wanita di atas usia 55 tahun dan pria di atas usia 45 tahun.

Tak kalah mengejutkan adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion di Amerika Serikat. Penelitian ini memaparkan tentang angka kematian mendadak akibat serangan jantung pada wanita di bawah 35 tahun yang meningkat hingga 30%.

Penyebab
Jantung koroner disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner yang mengarah ke jantung, akibat penimbunan plak yang berlangsung dalam waktu lama. Karena tersumbat, aliran darah yang membawa oksigen ke otot-otot jantung berkurang atau bahkan terhenti. Akibatnya, kerja otot jantung melemah karena tidak mendapat cukup oksigen, sampai akhirnya otot jantung akan mati.

Menurut dr. Em Yunir, SpPD, KEMD, penyebab penimbunan plak ini bisa diakibatkan oleh pola hidup tak sehat, seperti merokok, banyak mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, serta kurang berolahraga. Meski begitu, penyakit jantung koroner juga erat kaitannya dengan pertambahan usia, faktor keturunan, stres, hipertensi, diabetes melitus, kolesterol, serta obesitas.
    
Gejala
Beberapa tanda fisik yang patut dicurigai adanya masalah pada jantung adalah jantung berdebar-debar, nyeri dada sebelah kiri (seperti ditindih), sesak napas (biasanya setelah melakukan aktivitas fisik), denyut nadi tak teratur, cepat lelah,  rasa  ingin pingsan (lemas), keringat dingin, mual, dan bengkak di pergelangan kaki. Pada serangan jantung, rasa nyeri bisa dirasakan menjalar hingga ke tangan dan punggung, disertai keluarnya keringat dingin, hingga berakhir pada penderita tak sadarkan diri.

Pencegahan

Pola hidup yang sehat jadi kunci utama menghindari risiko penimbunan plak pada pembuluh darah. Makin tak sehat gaya hidup kita,  makin dini plak terbentuk. Selain rutin beraktivitas, perhatikan pula berat badan, kadar gula darah, serta kadar kolesterol dalam tubuh. Seiring bertambahnya usia, mulailah mengurangi makanan berlemak atau tinggi kolesterol. Ganti dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur-sayuran. Menjauhi rokok dan alkohol, menghindari stres, serta membiasakan olahraga secara teratur akan membuat tubuh lebih sehat dan terhindar dari penyakit jantung koroner.

Untuk pilihan olahraga, menurut dr. Yunir, sebaiknya pilih aerobik, jogging, jalan kaki, renang, atau sepeda yang bisa memperbaiki resistensi insulin. Ia juga tidak menyarankan olahraga permainan, seperti sepak bola, bagi pemilik gen keturunan penyakit jantung. Karena, olahraga  jenis ini akan memompa jantung bekerja lebih keras dan membuat ritmenya tidak teratur.
 
“Jika memiliki faktor risiko gen keturunan, sekalipun pola hidupnya sudah dijaga, jika melonjak sedikit saja gula darahnya, maka akan memicu risiko terkena serangan jantung,” papar dr. Yunir. Sangat disarankan untuk melakukan check up teratur minimal sekali dalam setahun setelah menginjak usia 40 tahun.

REYNETTE FAUSTO

Baca Juga : Sakit Jantung, Bukan Hal Sepele
                    Let's Get Moving



 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.