Health & Diet
Gejala Depresi dan Gangguan Depresi

5 Nov 2014


Tantangan hidup yang kian kompleks sering dituding sebagai penyebab makin banyaknya orang mengalami depresi. Memang, kondisi hidup yang berat membuat orang lekat dengan stres, tapi  depresi lebih dari sekadar stres terhadap lingkungan dan masalah yang dialami seseorang.

Apa sebenarnya yang disebut depresi? “Depresi merupakan gangguan yang terjadi pada mood (alam perasaan) seseorang, yang jika berlangsung terus-menerus akan mengakibatkan terganggunya fungsi psikososial,” ungkap dr. A. Kusumawardhani, SpKJ(K), psikiater dari RSCM Kencana yang biasa disapa dr. Agung. Depresi adalah kondisi ketidakberdayaan seseorang dalam mengontrol mood sedih atau tidak bahagia yang ia rasakan di dalam dirinya. Jika berkelanjutan, gangguan depresi tingkat berat bisa saja mengarahkan penderita untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Yang menjadi masalah, banyak orang yang tidak menyadari dirinya dilanda depresi, atau enggan mengakuinya, apalagi berusaha mengatasinya sendiri. Padahal, depresi tidak bisa hilang begitu saja dengan liburan. Ibarat deteksi dini penyakit kronis, depresi yang ditemukan lebih awal, akan lebih cepat disembuhkan.
    
Menurut dr. Agung, seseorang yang mengalami depresi ditandai dengan timbulnya perasaan sedih yang berlebihan, merasa tidak bahagia, dan timbul rasa putus asa. Gangguan perasaan ini diikuti dengan perilaku yang berbeda dari biasanya. Aktivitas motorik menurun, lamban, malas beraktivitas, dan lebih senang mengurung diri di kamar, dibarengi isi pikiran yang cenderung dipenuhi hal-hal yang sifatnya pesimistis. Seperti tidak ada lagi gunanya hidup.

Bahkan yang paling ekstrem, pemikiran tentang kematian. Jika semua itu berlangsung berbarengan dan terus-menerus selama paling sedikit dua minggu, maka bisa dikatakan orang tersebut mengalami depresi.
Meski terlihat hampir sama, depresi sebetulnya bisa dibedakan menurut penyebabnya. Pertama, yang terjadi karena ada pemicu sehingga terjadi gangguan penyesuaian (adjustment disorder).

Depresi seperti ini disebut gejala depresi. Biasanya timbul akibat adanya stressor, seperti masalah rumah tangga, beban pekerjaan yang bertambah, pindah ke lingkungan yang baru, dan masalah kehidupan lainnya.
Adjustment disorder ini kemudian ditunjukkan dalam bentuk mood yang menurun drastis (sedih berlebihan atau merasa tidak diterima lingkungannya), timbul rasa cemas, serta keluhan sakit fisik (sakit kepala, sakit perut). Keluhan lainnya, misalnya, jika Anda mengalami susah tidur. Gejala depresi adalah akibat yang timbul karena adjustment disorder.  Hal ini bisa dialami oleh  tiap orang.

Tapi, jika masalahnya tak kunjung selesai atau stressor-nya tak juga hilang, gejala depresi ini bisa saja berkepanjangan sehingga menyebabkan timbulnya distimia, yaitu neurotic depresi yang berkepanjangan selama minimal 2 tahun.
Gejala depresi yang seperti ini muncul karena ada upaya dalam diri seseorang untuk beradaptasi dengan persoalan yang dihadapi. Jika ia bisa mengatasi masalahnya dan mampu beradaptasi, gejala depresi ini akan hilang,” jelas dr. Agung.
Kedua, depresi yang bisa muncul kapan pun, tanpa harus ada stressor-nya, dan disebut gangguan depresi. Secara biologis orang yang mengalami gangguan depresi memiliki gangguan pada otak, yaitu neurohormon mengalami penurunan akibat berkurangnya hormon serotonin. Tidak ada penyebab pasti mengapa seseorang mengalami penurunan hormon serotonin di otak.

“Seperti penyakit alergi, tidak ada yang tahu apa penyebab seseorang memiliki bakat alergi. Begitu pula dengan gangguan depresi. Belum ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa gangguan ini disebabkan oleh keturunan atau kromoson tertentu. Jadi memang penyakit ini tidak dapat dicegah atau dihidari,” ungkap dr. Agung.
Pengobatannya pun tidak cukup hanya dengan konseling, tapi harus ditambah konsumsi obat-obatan dalam periode yang cukup panjang, antara 5 hingga 6 bulan.
Gangguan depresi ada tingkatannya, mulai dari ringan, sedang, dan berat. Pada gangguan depresi ringan, seseorang masih bisa cheerfull sesekali dan menjalani aktivitasnya dengan normal, tapi mood-nya mengarah pada rasa tidak bahagia.

Makin berat tingkat depresinya, maka mood-nya makin merasa tidak bahagia, punya rasa bersalah, dan tidak memiliki alternatif pemikiran. Pada penderita gangguan depresi berat, ia tidak lagi bisa bekerja, lebih senang mengurung diri, dan memicu pada tindakan bunuh diri.

Faunda Liswijayanti




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?