Travel
Berburu Perhiasan Rumah Di India

23 Jan 2013


Oktober lalu, Redaktur Pelaksana femina, Yoseptin Kristanto, menghadiri Indian Handicraft and Gift Fair Autumn 2012 di New Delhi, India, atas undangan Export Promotion Council for Handicraft. Di antara ribuan stan dari pelosok India dan beberapa pasar, femina menemukan kerajinan khas India untuk mempercantik rumah Anda.

Di New Delhi semua terlihat menonjol dan saling berteriak minta perhatian: penduduknya yang padat, warna-warni sari yang membungkus  lekuk tubuh wanitanya, juga makanannya yang kaya bumbu (dan bisa membuat dahi saya berkernyit). Di kota ini pula MRT dan mobil-mobil SUV terbaru bersaing dengan bemo, bajaj, ricksaw, dan... sapi!  Eksotis.

Semua indra saya juga dimanjakan saat mengunjungi pameran barang-barang, menelusuri jalanan superpadat di Pasar Chandnie Chowk, atau duduk mengampar di depan penjual kain sari yang dengan antusias menggelar semua koleksinya. Mau tahu apa saja yang saya dapatkan? Ini dia.



Warna-Warni Kain Sari
Di area pameran Indian Handicraft and Gift Fair Autumn 2012, saya menemukan stan  Alizabeth Empire, yang menawarkan ragam bedding mulai dari bed cover, gorden, sarung bantal, hingga sarung sofa. Yang menarik dari koleksi Alizabeth adalah keterampilannya menyulap kain sutra menjadi bentuk-bentuk 3 dimensi, seperti lengkungan bunga mawar atau sulur-sulur untuk sarung-sarung sofanya. Cantik!

Di stan  lain, saya menemukan kain ukuran 1,5 x 2 meter yang dipenuhi sulaman motif geometris dan bunga-bunga. Sangat cantik. Kain sulaman yang dipengaruhi oleh kerajinan khas Nepal itu dihargai satu juta rupiah. “Kain ini bisa dipakai buat hiasan dinding,” begitu kata Rohit, si pemilik stan.

Tak puas mengobrak-abrik segala jenis kain, saya pergi ke Chadnie Chowk. Inilah pasar tradisional paling ramai dan legendaris. Pasar ini berdiri sejak masa dinasti Mughal. Di sini saya seperti berada di surga kain. Di lorong-lorong pasar yang sangat padat (bayangkan, lorong sekitar 1 meter itu dilewati orang, motor, sepeda dan rickshaw), saya dibuat kewalahan oleh deretan kios yang menawarkan sari. Harganya beragam, mulai dari Rp200.000. Kain-kain ini berkualitas bagus, benar-benar menyilaukan mata. Rasanya ingin beli semua.
 
Di tengah ruangan digelar karpet dan penjual akan menghamparkan kain sarinya itu di lantai sehingga si pembeli bisa melihat secara detail motif dan warna kainnya. Kain sari India terbuat dari sutra atau katun, dengan panjang per potong mencapai 5 meter.

Jika Anda ingin belanja di tempat yang tak terlalu ramai dan lebih nyaman, pergilah ke Diili Haat. Ini semacam pusat kerajinan dan oleh-oleh India. Di sini sarung bantal sofa dengan bahan embroidery ditawarkan sekitar Rp60.000, sedangkan yang bahan sutra bisa didapat dengan harga Rp30.000. Harga ini bisa menjadi 3 - 4 kali lipatnya di Jakarta.

Belanja juga di sini:
Sarojini Nagar, Cannought Place Market



Keindahan Karpet Warisan


India adalah salah satu penghasil karpet terbaik di dunia. Karpet India lebih disukai oleh pasar Barat, terutama Jerman dan Amerika Serikat. Ciri khas karpet India adalah materialnya, yang rata-rata terbuat dari benang wol dan sutra.

Dengan  telaten benang ditenun oleh perajin dengan metode hand-knotted (simpul yang dibuat dengan tangan). Harganya sefantastis keindahannya. Untuk karpet dari sutra kualitas super, harganya sekitar Rp30 juta.
Bisa juga pilih durries, yaitu karpet asli India yang biasanya terbuat dari benang katun atau wol. Yang ini dijual mulai dari Rp5 juta.

Kerajinan karpet sudah dikenal lama oleh rakyat India, tepatnya sejak masa dinasti Mughal, penguasa muslim India pada abad ke-12. Karpet India ini sangat dipengaruhi oleh kerajinan serupa dari Persia, baik cara menenun maupun motif.

Pada masa itu, karpet diproduksi untuk konsumsi bangsawan. Karena itu,  tiap helainya dibuat sangat teliti dan memiliki warna dan motif yang mengakomodasi hal-hal yang dianggap supranatural. Rakyat jelata hanya berperan sebagai perajin, tanpa bisa menikmatinya.

Namun, pada abad ke-17, pada kekuasaan Shah Jehan (yang membangun Taj Mahal), motif India asli mulai melunturkan pengaruh Persia. Sejak saat itulah penggunaan motif khas India, seperti flora dan fauna, bentuk-bentuk geometris, serta warna-warna mencolok: merah, biru, hijau, kuning, dan cokelat, menghiasi karpet India. Kerajinan karpet India berkembang pesat di daerah Agra (Uttar Pradesh) dan Kashmir.
Pikirakn
     
Belanja di sini:
Vasant Vigar Market, Delhi dan Atta Market (sektor 18), Noida (sekitar 30 menit berkendara dari New Delhi).


Marmer ala Taj Mahal


Keindahan Taj Mahal di Agra  salah satunya disumbang oleh keindahan marmer yang menyusunnya. Marmer warna putih gading itu juga bertahan selama ratusan tahun dan tetap memancarkan pesonanya. Yang menakjubkan, hiasan bunga dan sulur pada dinding serta makam Shah Jehan dan Mumtaz Mahal itu ternyata terbuat dari serpihan batu-batu berharga, bukan lukisan.

Di Agra, saya datang ke Akbar International, sebuah workshop yang menghasilkan aneka kerajinan dari bahan marmer dan mozaik batu-batu berharga. Begitu melewati pintu masuk, tampak 2 orang pria pekerja sedang mengikir batu-batu berharga menjadi mozaik untuk motif yang akan ditatahkan pada marmer. Sungguh pekerjaan yang butuh ketelatenan tingkat tinggi.

Berbagai produk yang dihasilkan adalah meja kopi,dan meja makan dengan berbagai ukuran, hiasan dinding, guci, piring-piring hias, tempat perhiasan, nampan, gelas,  juga patung Buddha dan gajah.

Harganya, cukup sepadan. Sebagai gambaran, patung gajah mungil dihargai mulai Rp300.000, sementara piring ukuran 20 cm untuk hiasan dinding Rp400.000.

Belanja di sini:
Akbar International (Fatehabad Road, Taj Ganj), Kraft Palace (The Mall Agra), Marble Emporium (Gwalior Road, Agra Cantt)




Furniture Kayu Mangga

Salah satu yang menonjol dalam pameran handicraft yang saya kunjungi adalah barang-barang furniture yang bergaya rustic, yang berkesan natural, apa adanya. Keindahan kayu diekspos tanpa berlebihan. Meski bentuknya di banyak stan  hampir sama, yang unik adalah kayu yang digunakan. “Furniture India sebagian besar dari kayu mangga. Selain kayu pohon mangga banyak ditemukan di India, secara material kayu mangga juga keras dan awet untuk dijadikan furniture,” tutur Raj-Kumar Maholtra, Ketua Export Promotion Council for Handicraft.
 
Kelebihan lain furniture dari kayu mangga, menurut Raj Kumar, adalah kemampuannya menyerap warna. Dari cokelat muda, cokelat tua hingga pink. Hmm… mungkin Anda juga bosan memakai furniture dari kayu jati?

Belanja di sini:
Kirti Nagar Market, Uttam Nagar


Serba Bling!
>> Glassware: Pedestal kue, cake stand, stoples, piring, gelas, mangkuk dan peralatan makan lain. Kualitas kacanya prima, tebal, dan bening, dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp80.000. Anda bisa memborongnya di Azad Market dan Sharma Market. 
>> Brassware: Kerajinan logam ini banyak diproduksi dari daerah Moradabad, negara bagian Uttar Pradesh. Kerajinan ini sudah ada sejak masa dinasti Mughal. Aneka hiasan dinding, perlengkapan makan, hingga  lampu bisa didapatkan di  tiap sudut Kota Moradabad yang disebut juga Brass City, 167 km dari New Delhi.
>> Patung kuningan: Biasanya patung berbentuk dewa-dewi karena dipengaruhi Hindu. Bila Anda ke Agra, bisa mampir ke Craft Gallery, tak jauh dari Akbar International.(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?