Celebrity
Adhitia Sofyan: Musikus Kamar Tidur

25 Apr 2014


Inggris punya Ed Sheeran, Amerika punya John Mayer. Indonesia boleh bangga punya Adhitia Sofyan (36). Konsep musik bedroom yang ditawarkan Adhitia bisa membuai siapa pun yang mendengarnya. Suara lembut menenangkan, berpadu serasi dengan petikan gitar akustik dan lirik romantis yang jauh dari kesan murahan. Kemasan musik sederhana layaknya seseorang yang bernyanyi di dalam kamar tidur pun jadi nilai plusnya.                        
Bagi Adhitia, kamar ibarat ruang mimpi, ruang perenungan sekaligus berkarya. Bermodalkan peralatan recording sederhana di kamarnya, tahun 2008 Adhitia merekam 5 lagu ciptaannya dalam sebuah album mini berisi lagu-lagu akustik berjudul I’m Not Getting Any Slimmer, So Here We Go. Album ini ia bagi-bagikan gratis, baik kepada teman-temannya sendiri maupun di media sosial, seperti MySpace, SoundCloud, dan Youtube.

 Tak disangka, lagu-lagunya itu disukai masyarakat luas. Single pertama, Adelaide Sky, berkisah tentang pengalaman pribadi Adhitia saat harus kembali ke tanah air dan meninggalkan sang kekasih setelah merampungkan studi di Australia. Lagu romantis ini selain berada di puncak berbagai tangga lagu juga terpilih sebagai soundtrack film Kambing Jantan: The Movie, yang diangkat dari novel karya Raditya Dika. Sementara lagu Memilihmu kala itu juga tak hentinya mengudara di radio-radio anak muda. 
  
Berbekal kesuksesan tersebut, setahun kemudian penyanyi dan pencipta lagu kelahiran Bandung yang besar di Solo ini merilis album perdananya, Quiet Down. Selang setahun, Adhitia merilis album kedua bertajuk Forget Your Plans (Bedroom Recordings Vol. 2). Berkat karya-karyanya itu, pria kelahiran 6 November 1977 ini mendapat penghargaan di ajang Indonesian Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2010 dalam kategori Favorite Solo Artist dan Favorite Singer-Songwriter.   

Dengan prestasi dan dukungan media sosial yang begitu besar, karya Adhitia sampai ke telinga penikmat musik dunia. Maret 2011, bersama indie band Indonesia, The Trees and The Wild dan Sarasvati, Adhitia meramaikan panggung Esplanade-Theatres on The Bay dalam pergelaran akbar Singapore’s Mosaic Music Festival. Selain itu, album Quiet Down  juga berhasil didistribusikan di Negeri Sakura. Penjualan album yang laris manis ini membawa Adhitia terbang ke Jepang dalam rangkaian tur selama 10 hari.       
Seolah ingin membangkitkan kenangan masa kecil sekaligus nasionalisme generasi muda, Adhitia merilis mini album Adhitia Sofyan Sings Old Indonesian Traditional & Children Songs (2012). Pria lulusan KvB Institute of Technology North Sydney Jurusan Graphic Design and Multimedia yang pernah bekerja selama 5 tahun di bidang advertising ini membawakan kembali lagu seperti Cublak-Cublak Suweng, Naik Delman, Gundul-Gundul Pacul, dan Buka Pintu.          
        
Di tahun yang sama, Adhitia kembali meluncurkan album ketiga berjudul How To Stop Time. Melalui ke-11 lagunya, penyanyi yang ikut memeriahkan perhelatan Java Jazz Festival 2014 ini mengisahkan perjalanan hidupnya serta pengalaman menyenangkan dalam karier bermusiknya. Tak ingin kenangan indahnya berakhir, membuat Adhitia ingin menghentikan waktu yang terus berputar menjadi tema di album ini. (WORO HARTARI TRIANTI. Foto: WORO)




 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.