Agenda
Membangkitkan Kembali Ismail Marzuki

6 Jan 2019


 
Pianis dan komponis Ananda Sukarlan sedang sibuk mewujudkan salah satu impiannya, mementaskan karya-karya komponis besar Ismail Marzuki. Pada 13 Januari 2019 mendatang, di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta, Ananda Sukarlan bersama orkestranya akan menggelar Millennial Marzukiana untuk dinikmati publik pecinta musik klasik. Berikut cerita di balik acara  menarik tersebut.
 
Apa yang mendorong Anda membuat pertunjukan ini?
Setelah seri Rapsodia Nusantara, dimana saya membuat karya-karya yang sangat virtuosik untuk piano solo dan kini sudah mencapai 25 nomor karya, saya punya mimpi baru,  membuat seri Concerto Marzukianayaitu karya-karya orkes dengan solois dari berbagai instrument, berdasarkan melodi-melodi lagu  karya  komposer besar Indonesia Ismail Marzuki (1 May 1914 – 25 May 1958)
 
Concerto Marzukiana akan saya wujudkan untuk Jakarta New Year Concert  pada 13 Januari 2019 mendatang. Anda harus menontonnya!  Sudah dua setengah  nomor karya yang selesai: Concerto Marzukiana no. 1 untuk piano dan orkes (berdasarkan Indonesia Pusaka dan Selendang Sutra), no. 2 untuk biola dan orkes (Wanita, Gugur Bunga dan Halo-halo Bandung) serta separuh dari no. 3 untuk harpa dan orkes (Melati di Tapal Batas).
 
Saya selalu membayangkan Ismail Marzuki sebagai George Gershwin-nya Indonesia. Belum pernah mendengar tentang Gershwin dan karyanya? Silakan google untuk tahu banyak tentang komposer dunia ini. Tapi pada  intinya Gershwin (1898-1937) adalah pendahulu dari  semua songwriters Amerika yang hidup di awal abad 20.
 
Apa yang membuat Anda berpikir begitu?
Persamaan Ismail Marzuki dan Gershwin itu banyak. Karena banyak,  bagaimana kalau saya mulai dengan perbedaannya yang cuma ada  dua:  Pertama, bahasanya (ya tentu saja  karya Gershwin berbahasa Inggris) dan kedua, karya-karya  Gershwin  semuanya tentang cinta. Tidak ada tema perjuangan, perang dan sebagainya.  Masuk akal, karena   pada awal abad 20 itu Amerika sudah selesai urusan perang. Bandingkan dengan  Ismail Marzuki yang hidup di masa perjuangan Indonesia, cintanya  pun masih dalam suasana medan perang. Tapi justru itulah  untuk saya  musiknya justru lebih membuat galau dan menggetarkan hati.
 
Lalu bagaimana dengan persamaannya?  Kedua komposer ini adalah pencipta alunan melodi indah.  Jadi ini masih tipe songwriting yang jadul alias bukan yang zaman now, dimana dalam satu lagu, melodi yang sama diulang-ulang, hanya teks liriknya  saja diganti. Coba hilangkan teks lagu You're Beautiful- nya James Blunt, atau Boyfriend- nya Justin Bieber,  maka akan ketahuan melodinya cuma terdiri dari 3 atau 4 not yang diulang-ulang.
 
Nah, sebaliknya  melodi karya dua komponis ini justru  bisa didengarkan tanpa  perlu mengerti teksnya, bahkan kalau teks-nya dihilangkan, melodinya akan mencuat dan menyentuh hati setiap pendengarnya.
 
Baik Gershwin maupun  Ismail Marzuki menuliskan lagu-lagunya  dalam bentuk syair dan melodi saja, tapi bentuk ‘iringan’nya (harmoni, tekstur, instrumentasi, bahkan bentuk lagunya) bebas, sehingga lagu-lagu mereka menjadi bahan ‘usil’nya para komponis setelahnya. Iringan pianonya dibuat kreasi-kreasi baru, bahkan orkestrasi dan pengubahan bentuknya.
 
Gershwin sudah banyak jadi ‘korban’  komponis seperti Earl Wild, Edward Neeman bahkan oleh Gershwinnya sendiri yang membuat Variations on ' I Got Rhythm  untuk piano dan orkes yang jadi salah satu karya penting di dunia musik klasik. Sedangkan Ismail Marzuki baru satu kali dibuat oleh komponis Yazeed Djamin (almarhum)  dengan masterpiece-nya Variations on 'Sepasang Mata Bola untuk piano dan orkes yang sudah beberapa kali dimainkan oleh Yazeed  semasa hidup dan oleh saya dengan orkes dipimpin Addie MS.
 
Memang ada ratusan versi keroncong, pop, dangdut dll dari lagu-lagunya, tapi semua versi itu tetap adalah aransemen, dan menggunakan lirik/syairnya sehingga lagi-lagi hanya bisa dinikmati oleh kita yang mengerti arti teksnya.
 
Tantangan terbesar  dalam membuat pertunjukan ini?
Mengadaptasi sebuah lagu yang bersyair menjadi karya instrumental dengan menghilangkan teksnya, apalagi mengembangkannya menjadi sebuah karya berskala besar bukan masalah sepele. Apalagi kita harus mengingat bahwa banyak orang yang belum pernah mendengar karya aslinya. Itu berarti bahwa melodi lagu itu, yang bunyinya abstrak, tetap harus bisa dicerna dan dinikmati oleh pendengar baru.
 
Itu juga berarti pengolahan dan pengembangan melodi  harus cermat, bukan asal dikasih accord atau pengiring yang enak didengar atau dengan kata lain semata-mata diaransemen. Mengaransemen adalah suatu keahlian/ketrampilan yang dapat dipelajari dan sekarang ada pakem-pakemnya, tapi ‘composing’  tidak.
 
Kita diberi melodi yang harus dikembangkan, sama seperti seorang chef yang diberi ikan. Dia bisa memilih cara memasaknya: mau di panggang,  di goreng, di pepes.. Dia harus tahu bumbunya apa saja, bahkan jika dihidangkan mentah pun tidak sesederhana itu. Dia harus paham seni memotong dagingnya.
 
Mengapa Ismail Marzuki? 
Saya merasa harus mengadaptasi karya –karya Ismail Marzuki  ke orkes yang megah ini karena saya ingin memperkenalkannya kepada dunia internasional yang belum mengenal musiknya. Ini adalah strategi ‘Proxy war’ dalam musik yang sudah diterapkan oleh negara-negara Eropa dengan musik mereka sejak berabad-abad lalu. Meskipun kata  ‘war’ (perang) di sini kurang tepat,  kata  ‘diplomasi’, menjalin persahabatan antar negara  mungkin  lebih tepat.
 
Bagaimana musik Mozart, Bach, Tchaikovsky bisa dikenal di seluruh dunia ? Tentu karena para musikus dan orkes di semua negara, termasuk Indonesia, memainkan karya-karya mereka. Jika kita memainkan musik Mozart, kita telah membantu memperkenalkan produk seni Austria itu dengan biaya, tenaga, waktu dan keahlian kita sendiri, untuk pendengar kita sendiri. Dengan kata lain, Austria telah berhasil menggunakan tangan negara lain untuk mempromosikan hasil seninya.
 
Inilah yang saya harapkan dengan hasil orkestrasi saya dari musik  Ismail Marzuki. Partitur karya itu bisa dibawakan oleh orkes manapun, dirigen manapun di dunia ini. Inilah caranya musik Ismail Marzuki bisa dikenal di seluruh dunia.
 
Tapi saya belum menjawab: kenapa saya perlu melakukan hal ini? Karena saya bukan hanya mengakui nilai artistik lagu-lagu  Ismail Marzuki, yang  berguna bukan hanya untuk memperkaya khazanah musik klasik, tapi juga menyentuh emosi banyak orang.
 
Menurut Rachmi Aziah, putri semata wayang Ismail Marzuki, ia telah mendokumentasi lagu-lagu  karya ayahnya  sebanyak 300-an. Saya hanya mengenal sekitar 30-an yang  itu  artinya hanya sekitar 10% nya. Saya juga  baru tersadar saat mengerjakan proyek Concerto Marzukiana ini, adalah betapa banyak  generasi muda yang tidak mengenal lagu-lagu hebat karya komponis  besar ini. Mereka hanya mengenal namanya, dari  nama Taman Ismail Marzuki di Cikini.
 
Hal ini juga  yang  menjadi  alasan lebih kuat lagi kenapa saya ingin membawa musik Marzuki ke dunia internasional. Anak-anak Indonesia zaman now akan lebih suka kalau ada produk lokal yang sudah dikenal di luar negeri. Mulainya dari kagum dulu, menganggap keren dulu karena sudah dikenal di luar negeri.  Kita perlu cari cara untuk membangkitkan Ismail Marzuki dengan berbagai cara dan usaha.
 
 
Mengapat musik harus menyentuh hati?
Saya tergelitik tulisan Meicky Shoreamanis Panggabean ( penulis biografi antara lain Ahok dan Munir)  di blog-nya, tentang musik sedih (ini tidak ada hubungannya dengan Ismail Marzuki) yang justru membuat kita lebih bahagia.  Silakan dilihat dalam tautan ini : https://gurupenulis.weebly.com/ketika-musik-sedih-membuat-kita-gembira-a-pleasant-sadness.html
 
Tulisan ini yang tambah meyakinkan saya, kenapa musik Ismail Marzuki bisa menyentuh  hati semua orang dengan bahasa, latar belakang, kebudayaan bahkan cara berpikir  berbeda. Buat saya, penulisan lagu atau musik pada umumnya adalah ‘emotional science’ dan sebenarnya ada alasan ilmiah mengapa mendengarkan lagu-lagu sedih dapat membantu untuk menghibur  diri kita.
 
Para peneliti dari Tokyo University of the Arts dan RIKEN Brain Science Institute di Jepang menemukan bahwa nada-nada melankolis dapat menstimulasi emosi-emosi romantis dan juga emosi-emosi sedih. "Musik sedih bahkan dapat membantu meringankan emosi negatif  ketika seseorang menderita perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan oleh peristiwa kehidupan nyata,"  kata Ai Kawakami dari Tokyo University of the Arts.
 
Penelitian itu juga menemukan  bahwa emosi yang dialami dari musik tidak mengandung bahaya langsung seperti emosi yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita bahkan dapat menikmati emosi yang tidak menyenangkan seperti kesedihan,  boleh jaadi  karena musik tidak menimbulkan ancaman nyata terhadap keselamatan kita. Ini bisa membantu orang untuk mengatasi emosi negatif mereka dalam kehidupan sehari-hari.  ( diolah dari tulisan Ananda Sukarlan untuk Fermina) (f)
 

 
Yuk nonton Millennial Marzukiana tanggal 13 Januari 2019 pukul 16.00 WIB di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta! Bagi Anda yang ingin menyaksikan pertunjukan musik berkualitas ini, pesan tempat  segera di  di +62 877 7086 3800 (MARINA). Atau dapatkan tiket melalui situs dan aplikasi www.loket.com    Dapatkan harga early bird  bagi komunitas femina. Info  di  akun instagram  @feminamagazine
 
 

 
 


Topic

#orkestra, #anandasukarlan, #senipertunjukan

 

polling
Resolusi 2019

Prioritas yang ingin dicapai tahun iniSudah masuk tahun 2019, nih. Tentu sudah ada rencana dan resolusi yang ingin Anda capai.