Trending Topic
Penyakit Kanker Seperti Yang Pernah Diderita Ustadz Arifin Ilham, Bukan Penyakit Instan

8 Jan 2019


Foto: Pexels
 
Lewat postingan di akun Instagramnya, Muhammad Alvin Aziz mengabarkan kondisi ayahnya, Ustadz Arifin Ilham, yang sedang sakit. Alvin juga memohon doa bagi kesembuhan ayahnya. Menurut informasi, Ustadz Arifin yang memiliki Pondok Pesantren Adz Dzikra saat ini sedang dirawat di rumah sakit, setelah dinyatakan sembuh dari kanker getah bening stadium 4A.
 
Penyakit kanker memang masih menjadi momok bagi kesehatan masyakarat. Menurut Kementerian Kesehatan, pada tahun 2017 diprediksi hampir 9 juta orang meninggal di seluruh dunia karena kanker dan akan terus meningkat menjadi 13 juta pada tahun 2030.  Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Menurut data Riskesdas 2013, angka prevalensinya adalah 1,4 per 100 penduduk. Artinya, ada sekitar 347.000 orang yang menderita kanker.
 
Selain Ustadz Arifin Ilham, banyak public figure yang mengungkapkan dirinya sebagai penderita kanker. Salah satu yang menadapat banyak perhatian adalah saat aktris Angelina Jolie pada tahun 2013 melakukan pengangkatan payudara dan ovarium sebagai cara untuk menghindar dari kanker mengingat riwayat kanker ovarium dan kanker payudara yang merenggut nyawa ibu, nenek, nenek buyut, serta tiga sepupunya.
 
Penyebab berbeda diungkapkan Ria Irawan, seniman yang kini dinyatakan sembuh dari kanker getah bening stadium 3. Ia mengakui gaya hidupnya yang pernah melakukan diet secara berlebihan sebagai biang keladi dari penyakit mematikan itu.
 
Meski jenis kanker  makin beragam, faktor genetis atau gaya hidup sebagai penyebab kanker hingga kini masih meninggalkan tanda tanya besar di benak masyarakat.  Namun mengingat kian meningkatnya prevalensi kanker, tanda tanya tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
 
Menurut dr. Asrul Harsal, SpPD-KHOM, sebenarnya bisa ditekan menjadi lebih rendah. Sebab, kanker bukanlah penyakit yang datang tiba-tiba. “Prosesnya bertahun-tahun dan tidak pernah instan. Tiap orang bisa menekan faktor risikonya, terlepas dia memiliki faktor genetis kanker atau tidak,” ujar spesialis kanker dari RS Kanker Dharmais, Jakarta, itu.
 
Bahkan, kanker yang disebabkan oleh faktor genetis ternyata hanya terjadi sebanyak 5 persen, jika merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh MD Anderson Cancer Center, University of Texas, Amerika Serikat, tahun 2014.
 
Namun, Asrul menambahkan, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan persentase pasti risiko faktor genetis kanker yang diturunkan dari  tiap generasi ke generasi dalam keluarga.
 
“Angka pastinya belum ada. Tapi, jika nenek atau kakek punya gen kanker, kemungkinan besar gen itu akan diwariskan ke generasi berikutnya. Bisa ke orang tua Anda atau ke paman dan bibi Anda. Kemudian, gen itu akan diwariskan lagi ke generasi Anda,” papar Asrul.
 
Jenis kanker yang diturunkan pun tidak selalu sama. Jika seseorang di generasi pertama ada yang memiliki kanker payudara misalnya, maka bisa saja seseorang di generasi keduanya memiliki kanker jenis lain, seperti leher atau paru-paru.
 
Ya, faktor genetis memang takdir. Tapi, Asrul menekankan, tidak berarti orang dengan faktor genetis kanker akan memiliki penyakit tersebut selama ia bisa mempertahankan gaya hidup sehat dan menjaga lingkungan.
 
Menjaga berat badan dan metabolisme ideal dengan memperbanyak  makan sayuran hijau dan buah, mengurangi konsumsi daging merah, mengurangi porsi makanan yang diproses terlalu lama, serta berolahraga teratur bisa menjadi modal untuk mengurangi faktor risiko kanker hingga 50 persen. Jika Anda tidak merokok, tentu saja faktor risikonya bisa lebih kecil lagi.
 
Warisan genetis atau gaya hidup, mana yang lebih bersalah sebagai penyebab kanker? Simak halaman berikutnya:
 

Yoseptin Pratiwi


Topic

#kanker, #kesehatan, #penyakit, #gayahidup